Breaking News
Memuat breaking news...

Tim PkM Unimed Dampingi Guru SMP Labura Terapkan Pembelajaran Adaptif Berbasis AI Berorientasi TKA

Redaksi
Redaksi
Rabu, 16 September 2026 - 10.33 AM WIB
Tim PkM Unimed Dampingi Guru SMP Labura Terapkan Pembelajaran Adaptif Berbasis AI Berorientasi TKA
Tim PKM Unimed foto bersama guru-guru SMP Labura.Waspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id) – Setiap siswa datang ke kelas dengan kemampuan, kecepatan belajar, dan kebutuhan yang berbeda. Berangkat dari kondisi tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Negeri Medan (Unimed) mendampingi guru-guru SMP di Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura) mengembangkan pembelajaran adaptif berbasis Artificial Intelligence (AI) yang berorientasi pada penguatan kompetensi Tes Kemampuan Akademik (TKA).

Kegiatan ini merupakan bagian dari PkM Skema Kebijakan Tahun 2026 yang menempatkan ruang kelas sebagai tempat utama untuk membangun kemampuan akademik siswa. Penguatan kompetensi tidak hanya dilakukan melalui latihan soal, tetapi melalui proses belajar yang memperhatikan cara siswa memahami informasi, bernalar, menerapkan konsep, dan memecahkan masalah.

Program tersebut diketuai Dr. Abil Mansyur, S.Si., M.Si., bersama Dr. Muliawan Firdaus, S.Pd., M.Si., Dr. Elmanani Simamora, M.Si., Dr. Tiur Malasari Siregar, S.Pd., M.Si., dan Budi Halomoan Siregar, S.Pd., M.Sc.

Dr. Abil Mansyur mengatakan, pelaksanaan kegiatan juga melibatkan dosen pendamping dan mahasiswa yang bekerja bersama guru di sekolah mitra. Pendampingan dilaksanakan di Pesantren Arkanudin, SMP Negeri 3 Kualuh Hulu Londut, SMP Negeri 2 Kualuh Hulu Sono Martani, SMP Negeri 5 Sialang Taji, dan SMP Negeri 4 Kualuh Selatan Simangalami.

Sebelum pembelajaran dilaksanakan, tim terlebih dahulu melakukan observasi dan diskusi bersama pihak sekolah. Langkah tersebut dilakukan agar rancangan kegiatan dapat disesuaikan dengan karakter pembelajaran serta kebutuhan masing-masing satuan pendidikan.

Menurut Abil, kegiatan dilaksanakan dalam dua tahap. Praktik Baik I berlangsung pada 5-6 Mei 2026, sedangkan Praktik Baik II dilaksanakan pada 12-13 Agustus 2026.

Pola dua tahap tersebut dirancang agar guru tidak hanya menerima penjelasan mengenai pembelajaran adaptif, tetapi juga mengalami langsung proses pembelajaran profesional. Guru diajak melihat contoh, mengamati pengambilan keputusan pembelajaran, mencoba menerapkannya di kelas, kemudian mendiskusikan hasilnya bersama dosen pendamping.

Pada Praktik Baik I, dosen pendamping masuk ke kelas sebagai role model. Guru mengamati proses pembelajaran yang diawali apersepsi dan pertanyaan pemantik, kemudian memperhatikan respons siswa untuk mengetahui kesiapan mereka mengikuti pembelajaran.

Perhatian tidak hanya diarahkan pada benar atau salahnya jawaban siswa. Cara siswa menjelaskan pemikiran, memilih strategi, berdiskusi, menggunakan informasi, dan menyelesaikan masalah juga menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.

Dari pengamatan tersebut, guru memperoleh gambaran lebih utuh mengenai kebutuhan siswa dan dapat menentukan bentuk dukungan yang sesuai selama pembelajaran berlangsung.

Prinsip pembelajaran adaptif terlihat dari cara siswa memperoleh dukungan belajar. Siswa yang masih membutuhkan penguatan dapat diberikan pertanyaan pengarah, contoh, atau scaffolding yang lebih terstruktur. Sementara siswa yang telah menunjukkan penguasaan lebih baik dapat memperoleh aktivitas pengayaan dan tantangan yang lebih tinggi.

Pendekatan tersebut tidak dimaksudkan untuk memberikan label berdasarkan kemampuan siswa, melainkan memastikan setiap siswa memperoleh kesempatan berkembang sesuai dengan titik belajarnya masing-masing. Orientasi terhadap TKA juga ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas, yakni memperkuat kemampuan memahami informasi, menerapkan konsep, menganalisis, bernalar, dan memecahkan masalah.

Pada Praktik Baik II, peran mulai bergeser. Guru yang sebelumnya lebih banyak mengamati kemudian menjadi pelaksana utama pembelajaran, sedangkan dosen mengambil posisi sebagai pendamping dan pengamat.

Guru mulai membawa hasil pengamatan dan asesmen ke dalam pengambilan keputusan selama proses belajar. Ketika menemukan siswa yang membutuhkan bantuan, guru memberikan penguatan. Sebaliknya, ketika siswa menunjukkan perkembangan, guru memberikan tantangan berikutnya.

Diskusi kelas, lembar kerja peserta didik (LKPD), pekerjaan siswa, pertanyaan yang muncul, serta cara siswa memberikan alasan menjadi informasi yang dapat digunakan guru untuk menentukan tindak lanjut pembelajaran.

Dalam kegiatan tersebut, teknologi AI digunakan secara proporsional sebagai salah satu alat bantu guru, terutama untuk menyiapkan alternatif materi, soal, aktivitas, dan pengayaan. Namun, teknologi tidak ditempatkan sebagai pusat pembelajaran.

Setiap bahan yang dihasilkan dengan bantuan AI tetap diperiksa dan disesuaikan guru dengan tujuan pembelajaran serta kondisi siswa sebelum digunakan di kelas. Peran utama tetap berada pada guru dalam membaca situasi kelas, memahami respons siswa, memilih bentuk bantuan, dan menentukan langkah pembelajaran berikutnya.

Melalui dua tahap Praktik Baik tersebut, guru memperoleh pengalaman mulai dari melihat contoh, mencoba secara langsung, berdiskusi, menerima masukan, hingga memperbaiki praktik pembelajaran. Pengalaman itu diharapkan tidak berhenti setelah program PkM selesai, tetapi dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari.

Pembelajaran adaptif pada akhirnya tidak sekadar menjadi metode, tetapi cara memandang siswa sebagai individu dengan kebutuhan belajar yang beragam dan membutuhkan dukungan yang sesuai.

Melalui kegiatan PkM ini, Unimed bersama sekolah mitra berupaya memperkuat kualitas pendidikan dari ruang yang paling dekat dengan siswa, yakni kelas. Kolaborasi perguruan tinggi dan sekolah diharapkan terus membuka ruang bagi guru untuk berkembang, saling belajar, dan memperbaiki praktik pembelajaran.

Upaya tersebut sekaligus diharapkan memberikan kesempatan kepada siswa memperoleh pengalaman belajar yang semakin bermakna, responsif, dan relevan dengan tuntutan pendidikan masa kini. (wsp.id)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement