Breaking News
Memuat breaking news...

Tim PkM USU Latih Warga Aceh Tamiang Dokumentasikan Pengetahuan Lokal Mitigasi Banjir Berbasis Digital

Redaksi
Redaksi
Jumat, 7 Agustus 2026 - 8.40 PM WIB
Tim PkM USU Latih Warga Aceh Tamiang Dokumentasikan Pengetahuan Lokal Mitigasi Banjir Berbasis Digital
Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara (USU) saat melaksanakan pelatihan dokumentasi mitigasi bencana di Kampung Tanjung Mancang. (Waspada.id/Ist)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

ACEH TAMIANG (Waspada.id): Bencana banjir yang sering melanda Kabupaten Aceh Tamiang mendorong Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara (USU) menghadirkan solusi berbasis pengetahuan lokal.

Melalui program pelatihan dokumentasi mitigasi bencana, tim PkM mengimplementasikan alih teknologi pendokumentasian digital untuk memperkuat kapasitas aparatur dan masyarakat Kampung Tanjung Mancang,Kecamatan Kejuruan Muda, Aceh Tamiang dalam menghadapi bencana banjir.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis, 6 Agustus 2026, ini merupakan bentuk kepedulian akademisi USU terhadap masyarakat yang terdampak banjir besar di Aceh Tamiang. Fokus utama kegiatan adalah mendokumentasikan pengetahuan lokal masyarakat mengenai tahapan prabencana, saat bencana, dan pascabencana sehingga dapat diwariskan sekaligus dimanfaatkan sebagai sumber informasi mitigasi yang berkelanjutan.

Tim PkM USU terdiri atas Dr. Tasnim Lubis, S.Pd.I., M.Hum. sebagai ketua, dengan anggota Dr. Halimatussakdiah, S.S., M.Si., Junaidi, S.S., M.A., dan Fithria Rizka S., S.Hum., M.A.. Program ini juga berkolaborasi dengan Dede Gustian, S.Pd.I., S.H., M.S. dari STIKES Bustanul Ulum Langsa. Sejumlah mahasiswa turut terlibat aktif dalam pelaksanaan kegiatan, yakni Putri Aidina, Sheila Nikita Putri, dan Kayla Andira Yudith.

Pelatihan diikuti oleh perangkat Kampung Tanjung Mancang yang terdiri atas Datok Penghulu, para kepala Dusun, Tuha Peut, serta masyarakat setempat. Peserta memperoleh pelatihan mengenai penggunaan alat rekam digital, teknik wawancara mendalam (in-depth interview), serta tata cara mendokumentasikan pengalaman masyarakat terkait mitigasi banjir.

Dalam sesi diskusi pada kegiatan tersebut, Datok Kampung Tanjung Mancang, Tengku Syaiful Bahri, S.Sos., mengungkapkan bahwa banjir telah menjadi ancaman yang terus berulang di wilayahnya.

"Kami memang sudah sering mengalami banjir, bahkan sejak tahun 2022, 2023, 2024, dan pada tahun 2025 ini banjir yang terjadi mencapai tiga kali lipat lebih besar dibandingkan banjir besar pada tahun 2006," ujarnya.

Ketua Tim PkM, Dr. Tasnim Lubis, S.Pd.I., M.Hum., dalam keterangannya diterima Jumat (7/8/2026) menjelaskan,bahwa kemampuan masyarakat dalam mengenali tanda-tanda datangnya banjir, menentukan lokasi evakuasi, hingga bertahan selama masa pengungsian merupakan aset pengetahuan yang sangat berharga.

Menurutnya, informasi tersebut perlu didokumentasikan secara sistematis agar tidak hilang seiring pergantian generasi. "Pendokumentasian informasi mengenai lokasi tujuan sebagai titik-titik pengungsian sangat diperlukan agar memudahkan distribusi bantuan dari pemerintah maupun berbagai pihak lainnya, " sebutnya.

Karena itu, masyarakat perlu dibekali kemampuan menggunakan alat rekam dan teknik wawancara sehingga seluruh informasi dapat disimpan dalam bentuk digital dan diakses oleh siapa saja, khususnya masyarakat Kampung Tanjung Mancang.

Menurut Dr. Tasnim, hasil dokumentasi nantinya tidak hanya memuat pengalaman masyarakat dalam menghadapi banjir, tetapi juga informasi mengenai titik-titik pengungsian, jalur evakuasi, serta berbagai praktik lokal yang selama ini terbukti efektif dalam menyelamatkan warga.

"Pendokumentasian lokasi tujuan sebagai titik pengungsian sangat penting agar distribusi bantuan dari pemerintah maupun berbagai pihak dapat dilakukan secara lebih cepat dan tepat sasaran," terangnya seraya mengatakan, karena itu, masyarakat perlu dibekali kemampuan menggunakan alat rekam dan teknik wawancara sehingga informasi tersebut dapat disimpan dalam bentuk digital dan diakses oleh siapa pun, khususnya warga Kampung Tanjung Mancang.

Pendokumentasian pengetahuan lokal mitigasi bencana merupakan langkah strategis untuk mengidentifikasi, merekam, serta melestarikan pengalaman masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun. Pengetahuan tersebut tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga dapat diintegrasikan dengan pendekatan ilmiah modern dalam mendukung pengurangan risiko bencana.

Melalui sistem dokumentasi digital berbasis kearsipan, seluruh informasi yang dihimpun akan tersimpan secara lebih aman, mudah diakses, dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber data bagi pemerintah daerah, praktisi kebencanaan, peneliti, maupun masyarakat dalam menyusun kebijakan dan program mitigasi bencana di Kabupaten Aceh Tamiang.

Selama pelatihan berlangsung, peserta menunjukkan antusiasme tinggi, terutama saat praktik penggunaan alat rekam dan teknik wawancara. Materi mengenai wawancara mendalam disampaikan oleh anggota tim, Dr. Halimatussakdiah yang menjelaskan pentingnya menggali informasi secara terbuka dan komprehensif agar seluruh pengalaman masyarakat dapat terdokumentasikan secara utuh.

"Masyarakat dapat menggunakan panduan wawancara yang telah disiapkan oleh tim, kemudian mengembangkan pertanyaan sesuai situasi di lapangan agar informasi yang diperoleh benar-benar menyeluruh mengenai kondisi sebelum, saat, dan setelah bencana," jelasnya.

Salah seorang anggota Tuha Peut Kampung Tanjung Mancang mengaku memperoleh banyak manfaat dari kegiatan tersebut. "Saya senang sekali bisa mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru pada hari ini. Kegiatan ini sangat berguna untuk generasi muda kami ke depannya," ungkapnya.

Seluruh hasil dokumentasi berupa rekaman, transkrip wawancara, serta data pendukung lainnya akan disimpan dalam sebuah web archive sebagai repositori digital yang dapat diakses masyarakat secara mandiri.

Dr. Halimatussakdiah menegaskan,bahwa program ini merupakan bagian dari pengabdian berkelanjutan yang tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan.

"Kegiatan ini merupakan program jangka panjang yang masih memerlukan pendampingan hingga masyarakat mampu mengelola dokumentasi tersebut secara mandiri dan berkelanjutan. Dengan demikian, pengetahuan lokal mengenai mitigasi bencana dapat terus terpelihara dan menjadi aset penting bagi ketahanan masyarakat di masa depan," pungkasnya. (Id76).

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement