Breaking News
Memuat breaking news...

TKD Tambahan Untuk Rehabilitasi Irigasi Wono Sari, 3.000 Hektare Sawah Diharapkan Bebas Banjir

Redaksi
Redaksi
Selasa, 27 Oktober 2026 - 10.52 AM WIB
TKD Tambahan Untuk Rehabilitasi Irigasi Wono Sari, 3.000 Hektare Sawah Diharapkan Bebas Banjir
Suasana saluran irigasi yang sudah direhabilitasi di Desa Wono Sari, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara pada Rabu (21/10/2026). (Dok: Tim Media Satgas PRR)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

TANJUNG MORAWA (Waspada.id): Pemerintah Kabupaten Deli Serdang menyelesaikan rehabilitasi saluran irigasi sawah di Desa Wono Sari, Kecamatan Tanjung Morawa. Proyek sepanjang 250 meter ini dibiayai melalui TKD Tambahan senilai Rp591.250.000. Pekerjaan yang dimulai 7 Agustus 2026 rampung pada pertengahan Oktober 2026. Saluran yang kini memiliki kedalaman 110 cm dan lebar 3 meter itu memisahkan kawasan pemukiman warga dan lahan persawahan seluas 3.000 hektare.

TKD Tambahan adalah alokasi tambahan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang disalurkan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah di luar pagu alokasi reguler. Dana ini dipakai untuk mendukung pemulihan wilayah yang terdampak bencana alam, seperti rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur dasar, drainase, irigasi, serta fasilitas publik.

Tersedianya dana ini menjadi berkah bagi warga Desa Wono Sari. Mereka kini memiliki harapantidak lagi diterjang banjir dengan rehabilitasi irigasi ini. Sebelumnya, saat bencana banjir akhir tahun 2025, saluran yang hanya sedalam 90 cm dan tersumbat sampah ini meluap hingga menggenangi rumah warga. Sedimen di dasar saluran memperparah situasi.

Sekretaris Desa Wono Sari, Wahidin Sitorus, menyambut gembira selesainya pembangunan tersebut.

“Sebelum dibangun, air sering meluap dan menggenangi pemukiman warga. Genangan air itu bisa sampai satu hari, dan banjirnya berkali-kali terjadi selama berbulan-bulan. Sekarang kedalaman saluran bertambah menjadi 110 cm, air mengalir lancar. Harapan kami, petani bisa mendapatkan air irigasi dengan mudah, dan saat musim hujan pemukiman warga tidak lagi tergenang banjir,” ujar Wahidin saat peninjauan, Rabu (21/10/2026).

TKD Tambahan Untuk Rehabilitasi Irigasi Wono Sari, 3.000 Hektare Sawah Diharapkan Bebas Banjir

Wahidin Sitorus, Sekretaris Desa Wono Sari saat diwawancarai di Desa Wono Sari, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara pada Rabu (21/10/2026). (Dok: Tim Media Satgas PRR)

Ia menjelaskan, sekitar 3.000 Kepala Keluarga di Desa Wono Sari terdampak banjir tahun lalu. Di lingkungan sekitar saluran saja ada 50 rumah warga yang kerap terendam.

Saluran ini melayani 3.000 hektare sawah yang dikelola oleh sekitar 1.000 petani. Pembangunan ini sangat penting karena kebutuhan air untuk pertanian dan perlindungan pemukiman saling berkaitan erat.

Kepala Dinas SDABMBK Kabupaten Deli Serdang, Suparno, menjelaskan rehabilitasi ini dilakukan karena dinding saluran sebelumnya sudah hancur dan rendah, sehingga air mudah meluap ke pemukiman. “Dinding ditinggikan 20 cm, kedalaman 110 cm dan lebar 3 meter. Semoga air mengalir lancar dan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk pertanian, sehingga hasil panen warga semakin meningkat,” katanya.

Satgas PRR Pastikan Kesinambungan Pemulihan Pascabencana Sumatera

Pemulihan infrastruktur irigasi di Desa Wono Sari merupakan salah satu bukti nyata langkah pemulihan pascabencana yang terus didorong pemerintah. Pemerintah kini juga mempercepat penyiapan anggaran Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) pascabencana Sumatera untuk tahun 2027 agar pekerjaan fisik dapat berlanjut sejak awal tahun. Langkah ini diperlukan untuk menjaga kesinambungan pemulihan yang masih menjadi kebutuhan mendesak masyarakat di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, meminta kementerian dan lembaga segera menyiapkan pengajuan anggaran bersama Kementerian Keuangan. Penyelesaian dokumen dan persetujuan anggaran lebih awal diharapkan dapat mempercepat proses pengadaan sehingga masyarakat tidak perlu menunggu lebih lama untuk mendapatkan manfaat dari program pemulihan.

“Kalau seandainya baru diajukan Januari, kemudian di-approve-nya bulan April, Januari sampai April itu akan terjadi kekosongan, kevakuman. Ini yang tidak kami harapkan karena masyarakat membutuhkan kecepatan untuk pemulihan,” ujar Tito.

Dalam Rencana Induk PRR, kebutuhan anggaran pemulihan bencana Sumatra untuk 2026 ditetapkan sebesar Rp39,1 triliun. Sementara itu, anggaran yang diterima dari Kemenkeu mencapai Rp29,9 triliun. Selisih kebutuhan dan realisasi sekitar Rp9 triliun direncanakan dilaksanakan bersama rencana anggaran 2027 sebesar Rp32,94 triliun, sehingga total dukungan pemulihan mencapai sekitar Rp42 triliun. Tito berharap anggaran yang telah disetujui programnya pada tahun 2026 tetapi belum direalisasikan, tidak sampai hangus, karena peruntukannya sudah jelas — mulai dari pemulihan jalan, rumah, tambak, hingga sawah seperti di Desa Wono Sari.

“Kalau dihanguskan, maka programnya hangus, tidak ada yang mengerjakan lagi, problemnya ada di lapangan,” tegasnya.

Kesinambungan pekerjaan semakin penting karena proses pemulihan masih menghadapi tantangan berupa bencana susulan. Di tengah rehabilitasi, banjir dan longsor kembali melanda sejumlah wilayah. Tito menegaskan, pemulihan tidak hanya diukur dari berkurangnya pengungsi, tetapi juga dari kemampuan wilayah kembali aman dan produktif — termasuk tersalurkannya air irigasi dengan baik dan terhindarnya pemukiman dari genangan banjir, persis seperti yang kini dirasakan warga Desa Wono Sari.

Secara keseluruhan, di Sumatera Utara tercatat 31.128 hektare sawah mengalami kerusakan pascabencana akhir 2025. Hingga kini, 7.187 hektare dari target 7.336 hektare telah berhasil direhabilitasi dan kembali produktif, di mana proyek irigasi Wono Sari menjadi salah satu bagian nyata dari upaya pemulihan tersebut.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement