Breaking News
Memuat breaking news...

Tomi Wahyu Alimsyah: Pertamina EP Rantau Dorong Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat

Redaksi
Redaksi
Rabu, 12 Agustus 2026 - 2.07 PM WIB
Tomi Wahyu Alimsyah: Pertamina EP Rantau Dorong Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat
Field Manager PT Pertamina EP Rantau Field, Tomi Wahyu Alimsyah saat panen raya Melon gold milik kelompok Tani Mutiara, Kampung Kebun Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang. (Waspada.id/Yusri).
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

ACEH TAMIANG (Waspada.id) : Field Manager PT Pertamina EP Rantau Field, Tomi Wahyu Alimsyah menyampaikan, pemanfaatan lahan milik perusahaan untuk kegiatan produktif merupakan bagian dari upaya mendorong pemberdayaan masyarakat.

"Kami mengapresiasi gagasan pemanfaatan lahan tidur sebagai ruang pengembangan pertanian, gagasan tersebut dapat memberikan nilai tambah apabila dikelola secara konsisten dan melibatkan masyarakat, " kata Tomi Wahyu Alimsyah dalam kegiatan panen raya Melon Gold milik kelompok Tani Melon Mutiara, Kampung Kebun Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, Rabu (12/8/2026).

Menurutnya, menarik apa yang disampaikan Pak Camat, bahwa lahan tidur milik Pertamina dapat dimanfaatkan menjadi sumber nilai ekonomi yang mampu mendongkrak perekonomian masyarakat Aceh Tamiang,” ujar Tomi.

Tomi juga memberikan apresiasi kepada Kelompok Tani Melon Mutiara yang terus belajar dan mengembangkan kemampuan dalam budidaya melon."Pertamina mendukung keberadaan sekolah lapang sebagai bagian dari edukasi pertanian," ungkapnya.

Melalui sekolah lapang, pengetahuan mengenai budidaya melon diharapkan tidak berhenti pada satu kelompok. Pengetahuan tersebut kemudian diharapkan dapat diteruskan kepada generasi berikutnya. “Dari petani, untuk petani, dan untuk generasi berikutnya,” tegas Tomi.

Camat Karang Baru, Fachrurazzi Syamsuyar, S.STP., M.AP., menyampaikan, melihat pemanfaatan lahan yang saat ini di kelola Kelompok Tani Melon Mutiara tersebut dari sisi yang lebih luas.Baginya, lahan yang sebelumnya tidak produktif dapat menjadi sumber ekonomi apabila dikelola secara tepat.

Ia mengapresiasi PT Pertamina EP Rantau Field yang memberikan ruang bagi Kelompok Tani Melon Mutiara untuk mengembangkan budidaya pertanian. "Pengembangan tersebut sebagai bagian dari upaya mengoptimalkan lahan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian," ungkapnya seraya mengatakan,lahan tidur yang sebelumnya tidak produktif dapat diolah menjadi sumber ekonomi masyarakat.

Fachrurazzi menilai hasil budidaya Melon Gold menunjukkan bahwa lahan yang sebelumnya terlantar masih memiliki potensi untuk memberikan nilai ekonomi.Buah melon yang dihasilkan memiliki berat sekitar 1,5 hingga 2 kilogram per buah. Angka tersebut menjadi salah satu indikator bahwa proses budidaya mulai memberikan hasil.

Namun, bagi pemerintah kecamatan, tantangan berikutnya adalah bagaimana kegiatan tersebut dapat berkembang dan memberikan dampak yang lebih luas kepada masyarakat dalam wilayah Kecamatan Karang Baru.

Datok Kampung Kebun Tanjung Seumantoh, Wahyu Risma Novita, S.E., menyampaikan apresiasi kepada PT Pertamina EP Rantau Field atas dukungan terhadap program pemberdayaan masyarakat di kampung tersebut.

Menurutnya,dukungan itu diwujudkan melalui pengembangan budidaya melon sekaligus pembukaan sekolah lapang bagi warga.Ia menilai program tersebut memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk belajar sekaligus mengembangkan kegiatan ekonomi berbasis pertanian.

Datok juga menyampaikan terima kasih atas dukungan Pertamina, termasuk dalam proses awal pemanfaatan lahan dan pengembangan program budidaya. “Terima kasih kepada PT Pertamina EP Rantau Field yang telah memberikan dukungan melalui program CSR untuk pemberdayaan masyarakat, khususnya pengembangan budidaya melon dan sekolah lapang bagi warga,” katanya.

Wahyu Risma Novita,program seperti itu diharapkan dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat Kampung Kebun Tanjung Semantoh.

Ketua Kelompok Tani Melon Mutiara, Beni Fauzi, mengisahkan dan masih mengingat capaian panen perdana kelompoknya, produksi saat itu berada di angka sekitar 1,5 ton. "Pada panen kedua, target dinaikkan menjadi 2,5 hingga 3 ton," sebutnya seraya mengatakan,lahan yang digunakan seluas dua rantai dan tanaman membutuhkan waktu sekitar 65 hingga 75 hari sejak masa pertumbuhan hingga siap dipanen.

Beni, budidaya melon bukan sekadar perkara menanam dan menunggu buah membesar. Perawatan menjadi bagian penting yang menentukan hasil akhir. Tanaman melon, menurut dia, memiliki karakter yang relatif lebih rentan dibandingkan semangka, karena itu, pemilihan varietas menjadi salah satu pertimbangan.

Kelompok Tani Melon Mutiara memilih Melon Gold yang dinilai lebih mampu menghadapi kondisi lingkungan di lokasi budidaya. “Perawatannya secara umum hampir sama dengan semangka, tetapi melon lebih rentan. Karena itu, kami memilih Melon Gold karena lebih sesuai dengan kondisi lingkungan,” kata Beni.

Dijelaskannya, dalam satu tanaman, kelompok tani tidak membiarkan terlalu banyak buah berkembang, maksimal hanya dua buah melon yang dipelihara dan keputusan tersebut bukan tanpa alasan, jumlah buah yang dibatasi dimaksudkan untuk menjaga kualitas dan ukuran buah.

“Untuk mempertahankan kualitas, satu pohon hanya kami pelihara dua buah melon,” ujarnya sembari menyebutkan,buah yang berada di bagian atas tanaman menjadi salah satu indikator kualitas yang mereka perhatikan dan perawatan dilakukan secara selektif agar hasil yang dipanen tidak hanya mengejar kuantitas, tetapi juga kualitas.

Lanjutnya,hasil panen Melon Gold dari Kebun Tanjung Seumantoh tidak hanya menyasar konsumen lokal, pembeli juga datang dari luar Kabupaten Aceh Tamiang dan pasarnya berkembang mengikuti kualitas buah yang dihasilkan dengan harga jual yang disebutkan berada di kisaran Rp20.000 per kilogram. (Id76).

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement