Tribut to Bisuk Siahaan di BWF 2026, Keluarga Terharu Terima Penghargaan dan Dorong Literasi Berbasis BudayaTribut to Bisuk Siahaan di BWF 2026, Keluarga Terharu Terima Penghargaan dan Dorong Literasi Berbasis Budaya

TOBA (Waspada.id) : Balige Writers Festival (BWF) 2026 memberikan penghormatan khusus (tribute) kepada tokoh Batak, Dr. Bisuk Siahaan, melalui sesi pengupasan profil serta diskusi buku Batak Toba di Balik Tembok Bambu di Toba Art Space, Balige, Jumat (31/7/2026).
Kegiatan yang dimoderatori Roy R. Simanjuntak itu menghadirkan nara sumber putri bungsu almarhum, Precilia Siahaan dan Kepala Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Budaya Batak Universitas HKBP Nommensen, Manguji Nababan.
Mewakili keluarga, Precilia mengaku sangat terharu atas penghargaan yang diberikan kepada ayahnya dalam ajang literasi tersebut.
"Saya sangat terharu dan sangat berterima kasih atas penghargaan ini. Ini merupakan penghargaan yang sangat besar untuk almarhum ayah saya," ujarnya.
Menurutnya, Bisuk Siahaan bukan hanya dikenal sebagai sosok yang berperan dalam pembangunan industri nasional, tetapi juga memiliki kecintaan yang besar terhadap seni, musik, membaca, dan menulis.
Precilia menceritakan, pada dekade 1990-an ketika keluarga mereka tinggal di Amerika Serikat, ayahnya mulai beralih dari tulisan-tulisan mengenai dunia industri menuju penelitian tentang kebudayaan Batak.
"Beliau mulai melakukan riset budaya Batak dengan memanfaatkan berbagai sumber, termasuk Library of Congress. Dari situlah lahir berbagai karya mengenai budaya Batak," katanya.
Ia juga mengenang masa kecilnya ketika Bisuk Siahaan lebih banyak menghabiskan waktu di Sumatera Utara untuk membangun proyek Asahan.
"Walaupun komunikasi saat itu sangat sulit, telepon masih sering putus-putus, tetapi beliau tidak pernah lupa menghubungi keluarga. Selalu ada waktu untuk kami," kenangnya.
Precilia mengaku terkesan melihat berkembangnya ekosistem seni dan literasi di Balige melalui Balige Writers Festival.
"Saya tidak menyangka Balige mempunyai event seperti ini dan memiliki art scene yang luar biasa. Saya berharap festival ini semakin berkembang dan mampu menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap seni dan literasi," ujarnya.
Menurutnya, pendidikan yang baik tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga harus seimbang dengan seni, olahraga, dan musik, sebagaimana yang selalu diajarkan ayahnya kepada anak-anaknya.
Ia juga berharap masyarakat Batak, khususnya generasi muda, tidak melupakan jati dirinya.
"Masih banyak tokoh-tokoh dari Balige yang patut dijadikan teladan. Jangan lupa jati diri kita. Orang-orang seperti inilah yang harus menjadi contoh bagi generasi muda," katanya.
Dalam kesempatan itu, Precilia mengungkapkan keluarga juga tengah merancang pembangunan perpustakaan yang akan menghimpun karya-karya Bisuk Siahaan di Toba. Namun, ia mengakui rencana tersebut masih menjadi proyek jangka panjang keluarga.
Sementara itu, Tonggo Pardede menjelaskan alasan Balige Writers Festival memilih Bisuk Siahaan sebagai tokoh yang diberikan penghormatan pada penyelenggaraan tahun ini.
Menurutnya, BWF merupakan festival literasi yang sangat relevan mengangkat karya Batak Toba di Balik Tembok Bambu karena buku tersebut menggambarkan tata kehidupan masyarakat Batak yang dibentuk oleh lingkungan budaya.
"Di dalam buku itu dijelaskan berbagai aturan, tatanan sosial, hingga hubungan antarmanusia di lingkungan Batak. Lingkungan membentuk cara orang bertutur, berpikir, dan berkomunikasi. Karena itu karya Bisuk Siahaan sangat relevan untuk diperkenalkan kembali kepada masyarakat," jelas Tonggo.
Ia mengatakan, keberadaan "tembok bambu" dalam kehidupan masyarakat Batak bukan sekadar pagar fisik, melainkan simbol keteraturan sosial dan budaya yang membentuk karakter masyarakat.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut penting dipelajari kembali oleh generasi muda agar tidak kehilangan akar budaya di tengah perkembangan zaman.
"Tidak ada bangsa yang menjadi besar tanpa literasi. Literasi akan melahirkan inovasi. Karena itu saya mengajak generasi muda untuk kembali rajin membaca, terus belajar, tetapi jangan pernah melupakan akar budaya kita," pesannya.
Tonggo juga menyampaikan bahwa dalam dua penyelenggaraan terakhir, Balige Writers Festival mulai mendapat perhatian dan dukungan dari Kementerian Kebudayaan. Ia berharap dukungan tersebut semakin besar sehingga festival ini dapat berkembang menjadi agenda literasi bertaraf nasional seperti festival sastra di Ubud maupun Makassar.
"Kami berharap Kementerian Kebudayaan tidak hanya mendukung dari sisi pendanaan, tetapi juga bersama-sama menggali dan mengembangkan kebudayaan daerah. Budaya Batak adalah bagian penting dari kebudayaan Indonesia. Menjadi Indonesia, bagi kami, dimulai dengan menjadi Batak terlebih dahulu," pungkasnya.
Diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Para peserta yang memadati ruang utama Toba Art Space antusias mengajukan berbagai pertanyaan, mulai dari pemikiran Bisuk Siahaan mengenai budaya Batak hingga kiprahnya sebagai salah satu tokoh penting di balik lahirnya mega proyek PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum).
Menutup rangkaian acara, panitia Balige Writers Festival (BWF) menyerahkan cenderamata kepada keluarga almarhum Bisuk Siahaan. Penyerahan dilakukan oleh perwakilan BWF, penulis sekaligus wartawan senior Nestor Rico Tambun, berupa sebuah lukisan wajah Bisuk Siahaan sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan warisan pemikirannya bagi dunia industri, literasi, dan kebudayaan Batak.
Selain itu, panitia juga menyerahkan bingkisan kepada narasumber Precilia Siahaan dan Tonggo Pardede, serta moderator Roy R. Simanjuntak, sebagai ungkapan terima kasih atas partisipasi mereka dalam menyukseskan sesi tribute yang berlangsung hangat dan penuh apresiasi. (Id52)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda