Trojan Horse


Dari Trunojoyo, seekor Kuda Troya menyusup ke lingkar kekuasaan Prabowo. Skandal penyadapan membuka tabir rencana kudeta.
KUDA TROYA tak pernah menyerbu benteng memakai pedang terhunus. Ia datang sebagai hadiah. Disambut sebagai sahabat. Dipersilakan masuk melalui gerbang kehormatan. Ketika tuan rumah lengah, barulah prajurit di dalam perutnya keluar, membuka pintu bagi musuh.
Begitulah Troya tumbang dalam legenda Yunani. Bukan karena temboknya rapuh, melainkan karena penghuninya keliru mempercayai tamu.
Metafora itu kini menemukan kandangnya di Jakarta. Skandal dugaan penyadapan Presiden Prabowo menyeret mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit bersama tiga jenderal polisi. Perkara ini bukan cuma soal menguping percakapan presiden. Ada dugaan instrumen negara dibajak untuk mengumpulkan rahasia kekuasaan.
Jejak mencurigakan itu mulai terbaca sejak transisi pemerintahan Oktober 2024.
Kala itu, Listyo menyodorkan Ahrie Sonta Nasution sebagai calon ajudan presiden. Perwira yang pernah menjadi sekretaris pribadi Listyo itu akhirnya dinyatakan terpilih. Namun, analis pertahanan, Selamat Ginting, menyebut Prabowo tidak menggunakan ajudan tersebut.
Mengapa?
Selamat menduga Prabowo mewaspadai kedekatan Ahrie dengan Listyo. Ia juga menyebut Ahrie sebagai pengendali teknologi informasi dalam lingkaran mantan Kapolri itu.
Apakah penempatan orang kepercayaan di dekat presiden merupakan pelayanan kelembagaan, atau bagian dari strategi intelijen lebih jauh?
Dalam operasi intelijen, kedekatan adalah kemewahan. Akses terhadap jadwal, komunikasi, dan percakapan strategis bisa lebih berharga dari segudang senjata. Informasi ibarat amunisi. Orang dalam menjadi pintu masuknya.
Kini Ahrie dan Listyo sama-sama tersangka. Dua jenderal itu dikurung di tahanan bersama jenderal lainnya.
Bareskrim menyebut penyadapan ilegal berlangsung sepanjang 2025–2026 melalui sistem intersepsi Polri. Sasarannya bukan hanya presiden. Ada politikus, pejabat, jurnalis, aktivis, hingga pengusaha. Jejak digitalnya diduga dihapus.
Di sinilah aroma Kuda Troya menguar.
Listyo merupakan jenderal yang kariernya moncer pada era Jokowi. Kedekatan historis itu menimbulkan kecurigaan adanya loyalitas politik yang bertumpuk. Namun, hubungan kedekatan masa lalu itu belum nembuka bukti keterlibatan Jokowi ataupun lingkaran Solo. Polisi masih mendalaminya.
Penyidikan harus membongkar siapa mengendalikan operasi, siapa menerima transkrip, dan untuk kepentingan apa informasi dikumpulkan.
Bagaimana pula dengan para pengusaha?
Dunia politik Indonesia mengenal perselingkuhan modal dan kekuasaan. Rahasia pembicaraan presiden bisa menjadi komoditas mahal: untuk membaca arah kebijakan, mengamankan konsesi, bahkan menekan lawan bisnis.
Tetapi siapa, jika ada, cukong yang bermain di belakang jaringan ini? Diduga, untuk mendukung operasi taktik Kuda Troya yang biayanya mencapai triliunan rupian, ada asupan logistik dari pengusaha tambang hitam dan raja nikel yang kini raib.
Prabowo mesti memastikan penyidikan tidak berhenti pada operator, pemberi perintah, atau para jenderal yang sudah diborgol hukum. Aliran informasi harus ditelusuri sampai penerima terakhirnya.
Sebab skandal ini menyangkut perkara lebih besar daripada keselamatan percakapan seorang presiden: kedaulatan negara atas perangkat keamanannya sendiri.
Kuda Troya (Trojan Horse) paling berbahaya bukan yang berhasil masuk istana, melainkan diam-diam menguasai kunci gerbangnya. Dan negara ini akan celaka bila setelah kudanya tertangkap, penunggang serta pemilik kandangnya tetap bebas berkeliaran: bisa jadi Jakarta, Solo atau mungkin di Medan.
Berita Terkait












































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda