Trump Akan Batasi Ekspor Solar, Harga BBM Terancam Naik

JAKARTA (Waspada.id): Rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatasi ekspor solar justru mendapat peringatan dari industri minyak. Kebijakan tersebut dinilai berisiko menjadi bumerang karena dapat mengganggu produksi kilang dan membuat harga BBM kembali melonjak.
Trump sebelumnya menyatakan dukungannya terhadap penghentian ekspor solar dari AS. Pernyataan tersebut muncul ketika pemerintahannya menghadapi tekanan politik akibat kenaikan harga BBM menjelang pemilu paruh waktu AS pada November mendatang.
“Saya sudah mengatakan, mari kita jangan mengirim solar ke luar negeri. Kita memproduksi banyak solar,” kata Trump kepada wartawan, dikutip dari CNBC, Kamis (24/9/2026).
“Saya sudah meminta hal itu kepada orang-orang saya. Saya sudah membicarakannya,” lanjutnya.
Namun, rencana tersebut langsung mendapat respons dari American Petroleum Institute (API), kelompok lobi industri minyak AS.
CEO API Mike Sommers memperingatkan bahwa pembatasan ekspor energi justru dapat memperburuk persoalan di sektor pengolahan minyak dan pada akhirnya membebani konsumen.
“Solusinya adalah meningkatkan pasokan dan fleksibilitas, bukan membuat pembatasan baru yang berisiko memperburuk situasi yang sudah sulit,” ujar Sommers.
Bukan Larangan Total?
Wacana pembatasan ekspor semakin mencuat setelah saham sejumlah perusahaan pengolahan minyak AS, seperti Valero, Marathon Petroleum dan Phillips 66, mengalami penurunan pada Rabu.
Penurunan saham terjadi setelah Politico melaporkan pemerintahan Trump tengah menyiapkan rencana melarang ekspor solar selama 90 hari.
Namun, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan, pemerintah masih lebih mempertimbangkan opsi pembatasan ekspor daripada menerapkan larangan total.
“Kami berusaha menghindari kebijakan pemerintah yang terlalu menyeluruh, dengan memahami kompleksitas sektor pengolahan minyak,” kata Wright.
Menurut Wright, larangan ekspor berpotensi membuat harga bensin “lebih mahal seketika”. Pasalnya, ketika tangki penyimpanan kilang mulai penuh, perusahaan pengolahan minyak berpotensi mengurangi produksi, termasuk produksi bensin.
Pelaku industri minyak yang berbicara kepada CNBC memperkirakan larangan ekspor solar dapat mendorong harga bahan bakar naik hingga 30 sen per galon.
Patrick De Haan, kepala analisis minyak di GasBuddy, juga memperingatkan harga bensin dapat mendekati rekor apabila kebijakan tersebut benar-benar diterapkan.
Harga Bisa Naik di Wilayah Lain
Bob McNally, Presiden Rapidan Energy sekaligus mantan penasihat energi Presiden George W. Bush, mengatakan pembatasan ekspor kemungkinan hanya memberikan penurunan harga sementara di wilayah tertentu.
Gulf Coast dan Midwest bagian bawah dinilai menjadi wilayah yang paling mungkin merasakan dampak awal karena memiliki kapasitas pengolahan minyak yang besar.
Namun, kondisi berbeda dapat terjadi di wilayah Timur Laut AS yang lebih bergantung pada impor. Setelah penurunan sementara, harga berpotensi kembali naik apabila kilang mulai mengurangi produksi.
“Harga akan melonjak secara global,” kata McNally.
Risiko lainnya adalah munculnya aksi balasan dari mitra dagang AS.
Saat ini AS mengekspor solar ke Eropa, sementara Eropa mengekspor bensin ke AS. Jika Eropa kemudian membatasi ekspor bensin ke AS sebagai respons, wilayah Timur Laut yang bergantung pada pasokan impor dapat ikut terdampak.
Harga Solar AS Sudah Tinggi
Tekanan terhadap harga BBM terjadi ketika harga solar dan bensin di AS sudah berada pada level tinggi.
Harga rata-rata solar AS mencapai US$6,52 per galon pada Rabu, atau hampir US$3 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara harga bensin mencapai US$4,47 per galon.
Kondisi tersebut membuat isu BBM semakin sensitif secara politik menjelang pemilu paruh waktu AS pada November.
“Ini adalah kepanikan. Pemilu kali ini sulit dan secara historis harga solar sedang meningkat. Ini benar-benar kepanikan,” ujar McNally.
Salah satu faktor yang turut menekan pasokan solar global adalah pembatasan ekspor Rusia setelah serangan Ukraina terhadap kilang minyaknya.
Hingga kini, keputusan final pemerintahan Trump terkait kebijakan ekspor solar belum ditetapkan. Pemerintah AS masih mengkaji berbagai opsi, mulai dari pembatasan sebagian hingga larangan ekspor secara penuh.
Jika pembatasan benar-benar diterapkan, dampaknya tidak hanya berpotensi dirasakan konsumen AS. Perubahan arus perdagangan produk minyak olahan juga dapat memengaruhi pasar BBM global, terutama ketika pasokan solar internasional sedang menghadapi tekanan. (Lip6)
















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda