Breaking News
Memuat breaking news...

Trump Ancam Setop Dagang Jika The Fed Tak Pangkas Suku Bunga

Redaksi
Redaksi
Minggu, 6 September 2026 - 1.13 PM WIB
Trump Ancam Setop Dagang Jika The Fed Tak Pangkas Suku Bunga
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

JAKARTA (Waspada.id): Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menekan Federal Reserve (The Fed) agar menurunkan suku bunga. Kali ini, Trump bahkan mengancam akan menghentikan perdagangan dengan negara-negara mitra utama AS yang dinilai menyebabkan defisit perdagangan.

Ancaman tersebut disampaikan Trump melalui unggahan di platform Truth Social pada Jumat (4/9). Ia menegaskan memiliki kewenangan untuk menghentikan perdagangan dengan negara yang dianggap merugikan AS.

"TURUNKAN SUKU BUNGA ATAU SAYA AKAN BERHENTI BERDAGANG DENGAN NEGARA-NEGARA YANG MENYEBABKAN KITA DEFISIT, yang telah diakui secara tegas oleh Mahkamah Agung AS dalam keputusannya yang konyol dan sangat merugikan soal Tarif, bahwa 'Presiden' memiliki hak mutlak untuk melakukannya," kata Trump.

Defisit perdagangan terjadi ketika nilai impor suatu negara lebih besar dibandingkan ekspornya.

AS tercatat mengalami defisit perdagangan terbesar dengan China pada tahun lalu. Defisit juga terjadi dengan sejumlah mitra dagang utama lainnya, seperti Meksiko dan Vietnam, dengan nilai gabungan lebih dari US$200 miliar atau sekitar Rp3.526 triliun.

Jika dihitung secara keseluruhan, berdasarkan data perdagangan federal, AS mencatat defisit perdagangan mencapai US$1,2 triliun atau sekitar Rp21 kuadriliun dengan seluruh mitra dagangnya.

Data Tenaga Kerja Jadi Sorotan

Pernyataan Trump muncul tak lama setelah laporan pasar tenaga kerja AS untuk Agustus 2026 menunjukkan pertumbuhan jumlah pekerja baru.

Dalam laporan tersebut, tercatat sebanyak 162 ribu pekerja baru di AS. Angka itu bahkan mencapai dua kali lipat dibandingkan perkiraan para ekonom.

Kondisi pasar tenaga kerja tersebut berpotensi menjadi pertimbangan penting bagi The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneternya.

Pertumbuhan lapangan kerja yang kuat dapat memberikan ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi, terutama jika tekanan inflasi masih menjadi perhatian.

Para pejabat The Fed dijadwalkan bertemu pada akhir September untuk menentukan tingkat suku bunga yang akan berlaku.

Inflasi AS Kembali Naik

Di sisi lain, tekanan inflasi juga menjadi perhatian. Berdasarkan data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI), inflasi tahunan AS disebut meningkat satu persen menjadi 3,4% pada Juli.

Kenaikan inflasi tersebut terutama dipicu oleh melonjaknya harga gas yang berkaitan dengan konflik di kawasan Selat Hormuz.

Situasi ini membuat ruang gerak The Fed menjadi semakin kompleks. Di satu sisi, Trump terus mendorong pemangkasan suku bunga untuk menopang perekonomian. Namun di sisi lain, tekanan inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja dapat menjadi alasan bagi bank sentral untuk berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneter.

Ancaman Trump untuk menghentikan perdagangan dengan negara-negara yang mengalami surplus terhadap AS pun menambah tekanan terhadap kebijakan ekonomi Washington.

Keputusan The Fed pada pertemuan akhir bulan ini akan menjadi salah satu perhatian utama pasar, terutama terkait arah suku bunga AS dan dampaknya terhadap perdagangan serta perekonomian global. (cnni)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement