Tuwu Nukhada, Menghidupkan Kembali Jejak Tenun Leluhur Nias


MEDAN (Waspada.id): Berangkat dari kecintaan terhadap budaya, Raminalai Dakhi berupaya menghidupkan kembali jejak tradisi menenun masyarakat Nias yang lama ditinggalkan melalui Tuwu Nukhada, kain tenun premium yang mengangkat motif rumah adat dan ukiran leluhur Nias.
Melalui riset bertahun-tahun bersama anak-anaknya, Raminalai menelusuri sejarah tenun Nias, menggali filosofi motif tradisional, hingga mengembangkan kain yang memadukan warisan budaya dengan sentuhan modern.
Pemilik Tuwu Nukhada itu mengatakan, gagasan tersebut berawal dari kesulitannya menemukan motif khas Nias yang dapat diaplikasikan pada busana. Upaya menggunakan bordir beberapa kali dilakukan, tetapi hasilnya belum sesuai harapan.
“Sedih rasanya ingin memunculkan identitas saya sebagai orang Nias, tetapi harus menggunakan bordir yang hasilnya tidak sesuai harapan,” kata Raminalai, Minggu (25/10).
Ide mengembangkan kain tenun bermula ketika anak-anak perempuannya membuat desain bermotif budaya Nias. Namun, ia tidak ingin sekadar menghadirkan kain yang indah, melainkan juga memiliki landasan sejarah dan filosofi.
Bersama anak-anaknya, Raminalai kemudian menelusuri motif pada rumah adat dan ukiran artefak Nias. Dari penelitian itu, mereka menemukan jejak tradisi menenun yang dalam bahasa Nias disebut fanoso, tetapi tidak lagi berkembang seperti dahulu.
“Alat tenunnya hanya kami temukan di museum, dipajang sebagai pajangan. Dari situ kami bertanya, mengapa jejak kain nenek moyang kami sulit ditemukan?” ujarnya.
Penelitian lebih lanjut mengantarkannya pada informasi bahwa leluhur Nias menggunakan serat tanaman ladari, yang disebutnya sejenis anggrek hutan, sebagai bahan tenun. Menurut Raminalai, sifat serat yang dapat terurai seiring waktu menjadi salah satu penjelasan yang diperolehnya mengenai sulitnya menemukan kain peninggalan leluhur dalam kondisi utuh.
Proses riset dan pengembangan Tuwu Nukhada berlangsung selama beberapa tahun, termasuk melalui berbagai percobaan untuk menghasilkan kain yang sesuai dengan kebutuhan masa kini. Dalam pengembangannya, ia mengangkat motif rumah adat dan ukiran Nias, sementara bahan baku serta teknik produksi disesuaikan dengan ketersediaan dan perkembangan teknologi.
“Pelestarian budaya bukan berarti kita mengesampingkan teknologi dan perkembangan zaman. Kami ingin mengangkat kembali identitas Nias agar tetap relevan saat ini,” katanya.
Tuwu Nukhada juga menggunakan warna merah, kuning, dan hitam yang dikenal dalam pakaian adat Nias. Kain tersebut diharapkan menjadi produk khas yang tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga nilai ekonomi.
Namun, upaya menghidupkan kembali keterampilan menenun di tanah asalnya masih menghadapi tantangan, terutama keterbatasan penenun dan bahan baku. Saat ini, produksi Tuwu Nukhada masih melibatkan kombinasi tenaga penenun.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Raminalai tengah mempersiapkan program pembinaan penenun di Nias. Sebanyak 20 set alat tenun telah dikirimkan sebagai bagian dari persiapan program itu.
“Alat tenun sudah saya kirim, ada 20 set. Saya juga sudah membawa penenun untuk melatih mereka, tetapi kemarin saya terlanjur sakit sehingga harus kembali,” ungkapnya.
Selain keterbatasan sumber daya manusia, minimnya literasi mengenai sejarah tenun Nias juga menjadi tantangan. Ia mengaku masih menemukan anggapan bahwa leluhur Nias tidak memiliki tradisi kain tenun seperti yang dikembangkan Tuwu Nukhada.
Karena itu, menurutnya, pengenalan sejarah dan filosofi budaya perlu berjalan seiring dengan pengembangan produk. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya mengenal kainnya, tetapi juga memahami nilai budaya yang melatarbelakanginya.
Dari sisi pemasaran, Tuwu Nukhada memanfaatkan pameran dan media sosial untuk memperluas jangkauan. Raminalai menyebut sekitar 80 persen pembeli produknya saat ini masih berasal dari luar komunitas Nias.
“Banyak orang Nias sendiri yang belum tahu bahwa sekarang sudah ada kain tenun Nias. Itu menjadi perjuangan kami untuk memperkenalkannya lebih luas,” katanya.
Ia berharap Tuwu Nukhada dapat menjadi sarana memperkenalkan identitas Nias sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat, terutama melalui tumbuhnya kembali keterampilan menenun di daerah asalnya.
“Saya bukan semata-mata pebisnis. Saya punya kecintaan terhadap budaya dan merasa terpanggil agar Nias memiliki sesuatu yang khas dan premium,” tuturnya.
Tuwu Nukhada memiliki rumah produksi di kawasan Citra Garden, Padang Bulan, Medan, serta mengembangkan produksi di Pulau Jawa. Produknya dapat dijumpai di Galeri Wastra by ASEPHI Sumatera Utara, Medan Mall, Jalan MT Haryono Nomor 8, Medan, dan di Jalan Pengadilan Nomor 23 F, Pabaton, Kota Bogor.
Melalui Tuwu Nukhada, Raminalai berharap jejak tradisi menenun dan motif budaya Nias semakin dikenal, sekaligus mendorong generasi muda mempelajari kembali warisan leluhur yang nyaris terlupakan.(Wsp.id)
Berita Terkait




































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda