Breaking News
Memuat breaking news...

Ulama dan Polisi Merajut Damai di Bumi Pidie

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 17 Oktober 2026 - 5.26 AM WIB
Ulama dan Polisi Merajut Damai di Bumi Pidie
Kapolres Pidie AKBP Jaka Mulyana bersama Ketua MPU Pidie Abu Ilot dan jajaran berfoto bersama usai silaturahmi di Mapolres Pidie, Kamis (15/10/2026), guna memperkuat sinergi menjaga kamtibmas.Waspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

Di Tanah Pidie, damai tak selalu dijaga oleh derap sepatu aparat dan ketegasan hukum. Ada kalanya, ia tumbuh dari nasihat ulama, ketulusan silaturahmi, dan kebijaksanaan yang mengetuk pintu hati. Ibarat dua sisi mata uang, hukum dan tuntunan agama memiliki peran berbeda, tetapi bertemu pada satu tujuan: menjaga manusia dan merawat ketenteraman.

Semangat itulah yang mengemuka saat Kapolres Pidie AKBP Jaka Mulyana, S.I.K., M.I.K., bersilaturahmi dengan Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Pidie, Tgk. H. Muhammad Ismi A. Jalil atau Abu Ilot, di ruang kerja Kapolres, Kamis (15/10/2026).

Pertemuan itu bukan sekadar jabat tangan, melainkan ikhtiar memperkuat sinergi ulama dan kepolisian dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Sebab, keamanan ibarat rumah yang kokoh: hukum menjadi tiangnya, nilai agama menjadi penerang, sedangkan kesadaran masyarakat menjadi fondasinya.

“Keamanan dan ketertiban masyarakat tidak dapat terwujud tanpa dukungan seluruh elemen, termasuk para ulama. Karena itu, kami sangat mengharapkan nasihat, arahan, dan masukan dari MPU demi menjaga Kabupaten Pidie tetap aman, damai, dan kondusif,” ujar Kapolres.

Bagi masyarakat Aceh, agama dan adat merupakan bagian penting kehidupan. Nilai peumulia jamee mengajarkan penghormatan kepada sesama, sedangkan tradisi meusyawarah mengutamakan penyelesaian persoalan melalui dialog. Keduanya menjadi jembatan untuk merawat persaudaraan tanpa mengabaikan ketentuan hukum.

Pesan itu sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Ma’idah ayat 2 agar manusia saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan, bukan dalam dosa dan permusuhan. Sementara Surah Al-Hujurat ayat 10 mengingatkan pentingnya mendamaikan pihak-pihak yang berselisih.

Ketua MPU Pidie Abu Ilot menyambut baik silaturahmi tersebut. Ia menegaskan bahwa ulama dan umara memiliki peran saling melengkapi dalam membina masyarakat, menjaga persatuan, serta mewujudkan kehidupan yang bermartabat sesuai nilai-nilai Syariat Islam.

MPU Pidie menyatakan kesiapan mendukung program Polres, terutama pembinaan generasi muda, pencegahan kenakalan remaja, pemberantasan penyalahgunaan narkoba, serta pemeliharaan kerukunan masyarakat.

Generasi muda, ibarat tunas, membutuhkan perhatian dan bimbingan agar tumbuh kuat menghadapi tantangan zaman. Karena itu, upaya menjaga mereka tidak cukup melalui penegakan hukum, tetapi juga memerlukan keteladanan keluarga, pendidikan, bimbingan agama, dan kepedulian lingkungan.

Rasulullah SAW bersabda, “Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya” (HR. Bukhari, No. 10). Pesan ini mengingatkan bahwa menjaga keamanan juga berarti menghindari fitnah, ujaran kebencian, dan tindakan yang merusak persaudaraan.

Dalam audiensi tersebut, turut dibahas keterlibatan MPU dalam persoalan pendakwah dan kegiatan keagamaan. Koordinasi, pembinaan, serta pendekatan persuasif diharapkan membantu penyelesaian persoalan secara bijaksana, tanpa mengabaikan hukum dan hak masyarakat.

Landasan tugas kepolisian tercantum dalam Pasal 13 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Polri, yang meliputi pemeliharaan kamtibmas, penegakan hukum, serta perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.

Namun, silaturahmi bukanlah garis akhir. Ibarat pohon, sinergi tidak dinilai dari rindangnya janji, melainkan dari buah yang dihasilkan. Ukurannya adalah sejauh mana masyarakat merasakan keamanan, generasi muda memperoleh pembinaan, dan persoalan sosial dapat ditangani secara adil serta bijaksana.

Pada akhirnya, kedamaian ibarat taman yang harus dirawat bersama. Hukum menjadi pagar, nasihat ulama menjadi air, adat menjadi akar, dan persatuan masyarakat menjadi tanah tempat harapan bertumbuh.

Sebab, damai bukan sekadar keadaan tanpa pertikaian. Damai adalah kesediaan menjaga sesama, menghormati perbedaan, menegakkan keadilan, dan merawat persaudaraan. Di situlah makna sinergi ulama dan polisi menemukan wujudnya: bukan hanya dalam jabat tangan, melainkan dalam ikhtiar nyata menjaga ketenteraman di Bumi Pedir. WASPADA.id

Muhammad Riza

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement