Breaking News
Memuat breaking news...

UOB Ungkap Penyebab Rupiah Tertekan, Soroti Defisit Pendapatan Primer

Redaksi
Redaksi
Rabu, 16 September 2026 - 7.00 AM WIB
UOB Ungkap Penyebab Rupiah Tertekan, Soroti Defisit Pendapatan Primer
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak terutama berasal dari neraca perdagangan barang dan jasa. ASEAN Economist & Senior Vice President Global Economics and Markets Research UOB Indonesia, Enrico Tanuwidjaja, menyebut defisit pendapatan primer (primary income deficit) sebagai salah satu faktor utama yang perlu diperhatikan.

Menurut Enrico, neraca perdagangan Indonesia justru masih mencatat surplus. Namun, keuntungan investasi yang dibawa pulang investor asing secara berkala turut memberikan tekanan terhadap aliran devisa dan nilai tukar rupiah.

"Perdagangan barang dan jasa, itu kita surplusnya hampir 5 tahun. Sekarang enggak apa-apa, jadi itu aman. Tapi yang kedua itu namanya primary income deficit," ujar Enrico pada UOB Media Circle 2026, Selasa (15/9/2026).

Keuntungan Investor Asing Banyak Dipulangkan

Enrico menjelaskan, defisit pendapatan primer berkaitan dengan pendapatan investasi yang dibayarkan kepada investor asing. Ia menyoroti pola keuntungan investasi yang secara konsisten dibawa kembali ke negara asal, bukan ditanamkan kembali di Indonesia.

"Itu artinya kalau mereka invest, itu tiap kuartal itu dipulangkan terus. Itu angkanya konsisten dipulangkan terus," katanya.

Ia juga mengutip siaran pers resmi Bank Indonesia yang menyebut defisit neraca pendapatan primer pada kuartal II 2026 meningkat seiring pembayaran pendapatan primer. Kondisi tersebut sejalan dengan penjelasannya mengenai pemulangan keuntungan investor asing.

Menurut Enrico, upaya mengurangi tekanan tersebut tidak cukup hanya mengandalkan kenaikan suku bunga untuk menarik dana asing dalam jangka pendek. Ia menilai reinvestasi keuntungan di dalam negeri menjadi salah satu kunci penting.

"Saya bisa hedging tapi enggak hilang risikonya. Jadi kita perlu kepastian nilai tukar. Naik ke suku bunga itu short-term karena hot money masuk, tapi kemungkinan dia akan take profit lagi," ungkapnya.

Basic Balance Jadi Indikator yang Perlu Diperhatikan

Enrico mengatakan, salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam melihat ketahanan eksternal Indonesia adalah basic balance. Indikator ini merupakan penjumlahan antara transaksi berjalan (current account) dan investasi asing langsung bersih (net Foreign Direct Investment/FDI).

"Kalau FDI masuk, basic balance ini adalah current account ditambah net FDI. Cara kedua kalau enggak mau dikecilin, FDI ditarik sebanyak mungkin. Kalau itu bisa terjadi, selesai juga, tapi yang paling cocok adalah reinvestment. Artinya sudah mereka emang cinta mati lah. Istilahnya kita enggak akan pergi," kata Enrico.

Ia menilai reinvestasi dapat membantu memperkuat aliran modal jangka panjang karena keuntungan yang diperoleh investor tetap berputar di dalam perekonomian Indonesia.

Peluang Kenaikan Suku Bunga BI Dinilai Makin Kecil

Dalam kesempatan tersebut, Enrico juga memperkirakan peluang kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) semakin kecil. Perkiraan itu didasarkan pada kondisi rupiah yang dinilai stabil, aliran modal asing yang mulai masuk, serta prospek kebijakan fiskal yang lebih disiplin.

"Kemungkinan naik lagi menurut saya menjadi semakin kecil ya. Karena rupiah stabil, inflow sudah masuk, fiskal kita kemungkinan akan lebih disiplin. Jadi buat mereka sudah pas," ungkapnya.

Enrico menambahkan, tekanan inflasi domestik saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor pasokan (supply side), bukan permintaan (demand side). Karena itu, penanganannya dapat diarahkan pada penguatan pasokan dan dukungan kebijakan fiskal.

"Supply site, bukan demand site. Jadi kalau supply site ya beresin apa? Supply-nya. Minyak oke kita redam pakai fiskal, terus cabe rawit bawang kita supply, harganya ya udah aman, temporer lah,” tuturnya. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement