Uroe Lahe Pidie ke-515 Perkuat Budaya Generasi Muda


SIGLI (Waspada.id): Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-515 Kabupaten Pidie tahun ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.
Pemerintah Kabupaten Pidie ingin momentum tersebut menjadi ruang refleksi sejarah, penguatan identitas budaya dan agama, sekaligus panggung bagi generasi muda untuk mengembangkan kreativitas.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Pidie, K.R.T. Samsul Azhar, Drs., M.AP., didampingi Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparek Pora) Pidie, Teuku Iqbal, S.STP., M.Si., CPLM., mengatakan HUT ke-515 harus menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan panjang Pidie sekaligus menentukan arah pembangunan daerah ke depan.
“Peringatan HUT Pidie ini kita jadikan sebagai tonggak atau titik tengah untuk mengingat sejarah. Kita melihat kembali apa yang sudah dilakukan dan apa yang akan kita bangun ke depan,” ujar Samsul Azhar.
Menurutnya, sejarah tidak sekadar catatan masa lalu, tetapi harus menjadi pijakan dalam menentukan arah pembangunan. Karena itu, generasi muda perlu memahami asal-usul daerah, perjalanan sejarah serta nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu.
“Dengan kita memperingati HUT Pidie, kita tidak kehilangan arah. Sejarah menjadi pijakan untuk melihat perjalanan yang telah kita lalui, sekaligus menjadi pedoman dalam menentukan langkah pembangunan Pidie ke depan,” katanya.
Samsul Azhar menegaskan budaya dan adat istiadat merupakan bagian penting dari identitas masyarakat Pidie yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Di tengah perkembangan zaman, kata dia, generasi muda jangan sampai kehilangan akar budaya. Sebaliknya, mereka harus diberikan kesempatan untuk mengenal, mempelajari sekaligus mengembangkan seni dan budaya daerah.
“Budaya dan adat istiadat ini harus kita jaga. Generasi muda perlu memahami budaya yang kita miliki, karena dari budaya itulah kita mengenal identitas dan jati diri daerah,” ujarnya.
Menurutnya, pengenalan budaya tidak cukup hanya melalui pembelajaran formal. Anak-anak muda perlu diberi ruang untuk tampil sehingga potensi dan kreativitas mereka dapat berkembang.
“Generasi muda kita beri panggung untuk tampil dan mengasah kreativitas mereka, khususnya dalam bidang seni dan budaya,” katanya.
Ia menilai ruang tersebut penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus menemukan potensi-potensi baru di bidang seni dan budaya.
“Kalau mereka tidak diberikan ruang untuk tampil, bagaimana kita mengetahui potensi mereka? Karena itu, kita ingin mereka tampil, berkreasi, dan mengembangkan seni serta budaya yang kita miliki,” ujarnya.
K.R.T. Samsul Azhar menambahkan, pelestarian budaya bukan berarti membawa masyarakat kembali ke masa lalu. Budaya harus tetap dirawat, namun kreativitas generasi sekarang juga harus diberi ruang untuk berkembang.
“Budaya kita rawat, tetapi kreativitas anak-anak muda juga harus berkembang. Jadi, ada kesinambungan antara apa yang diwariskan oleh orang tua kita dengan apa yang dikembangkan oleh generasi sekarang,” katanya.
UMKM dan Kerajinan Jadi Penggerak Ekonomi
Selain seni dan budaya, Pemkab Pidie juga mendorong pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) serta kerajinan tangan sebagai bagian dari penguatan ekonomi masyarakat.
Samsul Azhar mengatakan produk lokal memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena tidak hanya menjadi sumber pendapatan masyarakat, tetapi juga dapat memperkuat identitas daerah sekaligus mendukung sektor pariwisata.
“UMKM dan kerajinan tangan harus kita dorong karena di dalamnya ada kreativitas masyarakat, ada lapangan kerja, dan ada potensi ekonomi yang bisa dikembangkan,” ujarnya.
Ia menilai produk kerajinan, kuliner dan berbagai hasil usaha masyarakat perlu dikemas serta dipromosikan secara lebih baik agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Pameran dalam rangkaian HUT ke-515 Pidie diharapkan menjadi ruang bagi pelaku UMKM memperkenalkan produk sekaligus membuka jaringan pemasaran.
“Produk-produk lokal kita harus diberi ruang untuk tampil. Dengan begitu, masyarakat dapat mengenal hasil karya pelaku UMKM dan kerajinan tangan Pidie,” katanya.
Menurutnya, pengembangan UMKM tidak cukup hanya memberikan ruang berjualan. Kualitas produk, kemasan, pemasaran hingga pemanfaatan teknologi digital juga harus diperhatikan.
“Yang kita dorong bukan hanya produknya, tetapi juga kualitas, kemasan dan cara memasarkannya. Kita ingin UMKM Pidie mampu berkembang dan bersaing,” ujarnya.
Ia menambahkan, kerajinan tangan yang mengangkat motif, bahan dan nilai budaya lokal juga dapat dikembangkan sebagai cendera mata bagi wisatawan.
“Kerajinan tangan bisa menjadi bagian dari promosi budaya dan pariwisata. Ketika orang membeli produk lokal, mereka juga membawa cerita tentang Pidie,” kata Samsul Azhar.
Kembangkan Berbagai Sektor Pariwisata
Samsul Azhar juga menyebut Pidie memiliki berbagai potensi pariwisata yang perlu diperkenalkan dan dikembangkan secara lebih luas.
Menurutnya, pariwisata tidak hanya berkaitan dengan objek wisata tertentu, tetapi mencakup sejarah, budaya, keindahan alam, kehidupan masyarakat, kuliner, seni hingga tradisi.
“Pariwisata ini bukan hanya satu sektor. Kita memiliki berbagai potensi yang bisa dikembangkan dan diperkenalkan kepada masyarakat, termasuk potensi sejarah, budaya dan alam yang kita miliki,” ujarnya.
Ia mengatakan kekayaan sejarah dan budaya Pidie dapat menjadi bagian penting dalam pengembangan destinasi wisata. Tradisi dan adat istiadat yang masih hidup di tengah masyarakat dapat dikemas menjadi daya tarik sekaligus sarana edukasi.
Begitu pula dengan potensi alam yang dimiliki Pidie. Seluruh potensi tersebut perlu dikelola secara terarah sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat dan ikut menggerakkan perekonomian daerah.
“Potensi wisata harus kita lihat secara menyeluruh. Bukan hanya tempatnya, tetapi juga budaya masyarakatnya, kuliner, seni, sejarah dan berbagai aktivitas yang bisa menjadi daya tarik bagi orang yang datang,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya keramahan masyarakat dalam menyambut wisatawan maupun tamu yang berkunjung ke Pidie.
“Kita juga mengundang tamu. Karena itu, kita harus ramah dengan tamu dan menjadi tuan rumah yang baik,” ujarnya.
Disparek Pora Siapkan Panggung Seni dan Budaya
Sementara itu, Kepala Disparek Pora Pidie, Teuku Iqbal, mengatakan rangkaian Uroe Lahe Pidie ke-515 telah disusun dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat.
Menurutnya, kegiatan tidak hanya berpusat pada acara seremonial, tetapi juga menghadirkan ruang bagi pelajar, komunitas seni dan budaya, pelaku UMKM, masyarakat hingga pemerintah kecamatan dan SKPK.
“Rangkaian kegiatan kita susun agar masyarakat dapat ikut terlibat. Ada seni dan budaya, pameran pembangunan, expo UMKM, permainan rakyat, pawai budaya sampai malam puncak,” ujar Teuku Iqbal.
Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan dijadwalkan mulai 16 September 2026 dan berlangsung hingga 20 September 2026.
Pada hari pertama, 16 September, kegiatan diisi dengan pentas seni dan budaya Pidie serta pameran pembangunan dan Expo UMKM di kawasan PCC. Pada malam harinya, masyarakat akan disuguhi berbagai pertunjukan seni, di antaranya Ratoeh Jaroe, Rapai Grimpheng dan penampilan artis lokal Pidie.
“Pameran dan expo UMKM berlangsung selama beberapa hari. Kita melibatkan SKPK, 23 kecamatan, pelaku UMKM, komunitas pemerhati budaya dan sejarah serta sejumlah lembaga lainnya,” katanya.
Menurut Teuku Iqbal, pameran tersebut tidak hanya menampilkan hasil UMKM, tetapi juga benda-benda sejarah, teknologi tepat guna, informasi budaya lokal, layanan administrasi kependudukan, pelayanan perizinan UMKM hingga berbagai kegiatan edukasi.
“Jadi masyarakat yang datang tidak hanya menikmati hiburan, tetapi juga bisa mendapatkan informasi, melihat produk lokal dan mengenal lebih dekat sejarah serta budaya Pidie,” ujarnya.
Pada 17 September, selain Sidang Paripurna DPRK Pidie, kegiatan di PCC kembali diisi pentas seni dan budaya yang melibatkan siswa SD dan SMP sederajat serta komunitas seni, adat dan budaya.
Materi yang ditampilkan antara lain Hikayat Prang Sabi, Lagoe Jameun, Meucagok, Buhak atau dongeng, puisi Aceh, Calitra Paneuk dan pidato bahasa Aceh.
“Kita ingin anak-anak sekolah juga mendapat ruang untuk tampil. Ini bagian dari proses mengenalkan budaya sekaligus melatih keberanian dan kreativitas mereka,” katanya.
Pada hari yang sama juga dijadwalkan permainan rakyat Geudeu-Geudeu serta pentas seni dan budaya pada malam hari dengan melibatkan Festival Anak Soleh Indonesia (FASI).
Selanjutnya, 18 September diisi dengan ziarah ke makam Raja Pedir, Sultan Ma'rufsyah, lomba keagamaan bagi santri TKA/TPA, serta pentas seni dan budaya.
Pada malam harinya, digelar Haba Rakyat atau temu ramah di Pendopo Bupati Pidie dan pentas seni di PCC.
“Kegiatan ziarah menjadi bagian untuk mengingat sejarah. Kemudian ada kegiatan keagamaan, seni dan budaya serta Haba Rakyat yang mempertemukan tokoh-tokoh Pidie dari dalam maupun luar daerah,” kata Teuku Iqbal.
Pawai Budaya dan Malam Puncak
Teuku Iqbal menyebut puncak rangkaian HUT ke-515 Pidie dijadwalkan pada 19 September 2026.
Pada pagi hari digelar pawai budaya dengan melibatkan siswa SMP dan SMA sederajat, SKPK serta 23 kecamatan. Pawai mengambil rute dari kawasan Masjid Al-Falah Sigli menuju Pendopo Bupati Pidie.
“Pawai budaya ini kita harapkan menjadi salah satu ruang untuk memperlihatkan kekayaan budaya Pidie. Peserta juga diberikan kesempatan menampilkan kreativitas mereka,” ujarnya.
Rangkaian berikutnya diisi Kanduri Raya dan Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di PCC.
Malam harinya, sebelum menuju lokasi acara, digelar Peumulia Jamee atau gala dinner di Pendopo Bupati Pidie. Selanjutnya, malam puncak HUT ke-515 digelar di PCC dengan berbagai pertunjukan seni dan budaya.
“Malam puncak akan kita isi dengan ceremony, tarian, penampilan J.R. Choral Club, talent artis, Rapai Daboh dan Seudati. Kita ingin malam puncak menjadi perayaan bersama yang tetap membawa identitas budaya Pidie,” kata Teuku Iqbal.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup pada 20 September dengan sepeda santai dan senam bersama di kawasan PCC yang melibatkan Forkopimda, SKPK, camat, BUMN/BUMD dan masyarakat.
Sejarah, Budaya dan Agama
Peringatan HUT ke-515 Pidie juga diarahkan untuk mengangkat sejarah, budaya dan nilai-nilai agama yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari perjalanan masyarakat Pidie.
Samsul Azhar menyebut ketiga unsur tersebut harus tetap menjadi ruh dalam peringatan hari jadi daerah.
Sejarah menjadi cermin perjalanan, budaya menjadi identitas, sedangkan nilai-nilai agama menjadi pedoman dalam kehidupan masyarakat.
Dengan demikian, HUT Pidie tidak hanya menjadi pesta rakyat, tetapi juga momentum refleksi bersama mengenai arah perjalanan daerah ke depan.
Untuk menyukseskan seluruh rangkaian kegiatan, Pemkab Pidie telah melakukan rapat koordinasi lintas bidang. Masing-masing bidang diminta mempersiapkan agenda sesuai tugas dan tanggung jawabnya.
Samsul Azhar berharap seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Ia kembali menegaskan HUT ke-515 Pidie harus menjadi momentum untuk membangun semangat bersama dalam melanjutkan pembangunan daerah.
“Kita jadikan HUT Pidie kali ini sebagai tonggak sejarah untuk membangun Pidie,” tegasnya.
Pada akhirnya, HUT ke-515 Pidie bukan sekadar angka usia. Di baliknya terdapat perjalanan panjang, perubahan zaman, warisan budaya, nilai agama dan perjuangan masyarakat yang membentuk wajah Pidie hari ini.
Momentum tersebut diharapkan mempertemukan tiga generasi: mereka yang mewariskan sejarah, generasi sekarang yang meneruskan pembangunan, dan generasi muda yang akan menentukan masa depan.
Jika sejarah adalah jejak, maka generasi muda adalah langkah berikutnya. Keduanya harus berjalan beriringan agar pembangunan Pidie tidak kehilangan akar dan arah.
Sebab, daerah yang mengenal sejarahnya memiliki kompas untuk menentukan masa depan. Ketika budaya diwariskan kepada generasi muda, sejarah tidak berhenti sebagai cerita, tetapi terus hidup melalui karya, kreativitas dan tindakan.(id69)












Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda