Uroe Lahe Pidie, Membaca Sejarah Menjaga Marwah


Sepuluh tahun Pidie menelusuri jejak masa lalunya. Dari cerita tentang kerajaan-kerajaan tua, jejak adat dan peninggalan sejarah, hingga kajian terhadap era Islam Kerajaan Pedir, pencarian itu akhirnya menemukan sebuah tanggal yang menjadi penanda kelahiran Pidie, 22 Jumadil Akhir 917 Hijriah atau 18 September 1511 Masehi.
Tanggal itu kini menjadi pijakan penting bagi Uroe Lahe Pidie. Saat Kabupaten Pidie memasuki usia ke-515 pada 2026, sejarah tidak lagi sekadar disimpan dalam catatan masa lalu, tetapi dihadirkan kembali melalui ziarah, seni budaya, kegiatan keagamaan, pameran UMKM, pariwisata dan panggung kreativitas generasi muda.
Di situlah Uroe Lahe Pidie ke-515 menemukan maknanya: menghubungkan masa lalu dengan masa depan.
Sepuluh Tahun Mengetuk Pintu Sejarah
Pencarian Hari Jadi Pidie bukan perjalanan singkat. Selama satu dekade, sejak 2014 hingga 2024, berbagai kajian dilakukan untuk menemukan dasar sejarah yang kuat tentang kapan Pidie dapat disebut sebagai sebuah entitas pemerintahan.
Perjalanan itu menuntut ketelitian. Cerita lisan, peninggalan sejarah, adat istiadat, hingga berbagai sumber tertulis harus dibaca dan dikaji agar penetapan Hari Jadi Pidie tidak sekadar berdasarkan ingatan kolektif, tetapi memiliki pijakan sejarah.
Salah satu tahapan penting berlangsung melalui FGD I pada 10 Juni 2024 di Ops Room Setdakab Pidie. Pertemuan tersebut melibatkan tokoh adat, para mukim, masyarakat sejarah dan berbagai unsur masyarakat lainnya.
Dalam pembahasan itu, sejarah panjang Pidie ikut ditelusuri, termasuk keberadaan Kerajaan Poli, Sama Indra dan Sanghela. Namun, setelah melalui proses kajian, arah penelitian kemudian difokuskan pada era Islam, khususnya Kerajaan Pedir.
Dari proses tersebut kemudian disusun road map penelitian. Para sejarawan dan ahli filologi maupun ahli pembacaan teks dilibatkan untuk memperkuat kajian.
Tgk. Junaidi Ahmad, selaku juru bicara tim perumus Hari Jadi Pidie, ketika itu menjelaskan, menjadi salah satu figur yang menyampaikan perkembangan proses panjang tersebut.
Puncaknya berlangsung dalam Seminar Raya Penetapan Hari Jadi Pidie pada 31 Juli 2024 di Oproom Setdakab Pidie. Dari perjalanan panjang itu ditetapkan bahwa Hari Jadi Pidie jatuh pada 22 Jumadil Akhir 917 Hijriah atau 18 September 1511 Masehi.
Sepuluh tahun pencarian akhirnya menemukan sebuah tanggal. Tetapi, menemukan tanggal bukan berarti perjalanan sejarah selesai. Justru dari sanalah tanggung jawab baru dimulai.
Menyusuri Jejak Raja Pedir
Jejak sejarah itu tidak hanya hidup dalam dokumen. Ia juga meninggalkan tapak di tanah Pidie.
Salah satunya adalah makam Sultan Ma’ruf Syah, yang juga dikenal sebagai Maharaja Malik Ma’roef Syah, di Gampong Dayah Tanoh Klibeut, Kecamatan Pidie.
Dalam narasi sejarah Kerajaan Pedir, sosok tersebut menjadi salah satu figur penting yang menghubungkan generasi hari ini dengan perjalanan masa lalu Pidie.
Karena itu, ziarah ke makam Raja Pedir tersebut menjadi bagian dari rangkaian Uroe Lahe Pidie pada 18 September.
Ziarah bukan sekadar ritual. Ia menjadi simbol bahwa sebuah daerah yang sedang merayakan hari lahirnya tidak boleh melupakan orang-orang dan perjalanan sejarah yang membentuk identitasnya.
Sebab, sebuah daerah akan mudah kehilangan arah ketika generasinya hanya hafal tanggal, tetapi lupa membaca makna di balik tanggal tersebut.
Hari Jadi sebagai Titik Tengah
Sekretaris Daerah Pidie, K.R.T. Samsul Azhar, Drs., M.AP., mengatakan peringatan HUT Pidie tidak ingin berhenti sebagai kegiatan seremonial.
“Peringatan HUT Pidie ini kita jadikan sebagai tonggak atau titik tengah untuk mengingat sejarah. Kita melihat kembali apa yang sudah dilakukan dan apa yang akan kita bangun ke depan,” ujarnya.
Menurutnya, sejarah harus menjadi bahan pembelajaran bagi generasi sekarang. Begitu pula budaya dan adat istiadat harus tetap dijaga sebagai bagian dari identitas daerah.
“Budaya dan adat istiadat ini harus kita jaga. Generasi muda perlu memahami budaya yang kita miliki, karena dari budaya itulah kita mengenal identitas dan jati diri daerah,” katanya.
Karena itu, generasi muda tidak hanya ditempatkan sebagai penonton dalam peringatan Uroe Lahe Pidie. Mereka diberi ruang untuk tampil, berkreasi dan mengembangkan bakat.
“Generasi muda kita beri panggung untuk tampil dan mengasah kreativitas mereka, khususnya dalam bidang seni dan budaya,” ujar Samsul.
Di sinilah pesan moral Uroe Lahe Pidie menemukan tempatnya. Warisan bukan untuk membelenggu generasi, tetapi menjadi akar agar mereka tumbuh tanpa kehilangan arah.
Lima Hari, Satu Benang Merah
Rangkaian Uroe Lahe Pidie ke-515 berlangsung selama lima hari, 16–20 September 2026.
Berbagai kegiatan disiapkan, mulai dari pameran pembangunan, UMKM Expo, pertunjukan seni, kegiatan pelajar, permainan rakyat hingga sidang paripurna.
Pada 18 September, bertepatan dengan Hari Jadi Pidie ke-515, rangkaian kegiatan diisi dengan ziarah ke makam Sultan Ma’ruf Syah, kegiatan keagamaan dan pertunjukan seni budaya.
Kemudian pada 19 September, masyarakat akan disuguhi pawai budaya yang melibatkan 23 kecamatan. Rangkaian dilanjutkan dengan Kanduri Raya/Maulid dan Peumulia Jamee. Pada malam harinya, kegiatan seni budaya mencapai puncaknya di PCC.
Sementara 20 September diisi dengan kegiatan bersepeda dan olahraga bersama yang melibatkan Forkopimda, SKPK, para camat, BUMN/BUMD dan masyarakat.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa Uroe Lahe Pidie bukan sekadar satu panggung dan satu seremoni. Ia dirancang sebagai ruang perjumpaan antara pemerintah, masyarakat, pelaku ekonomi, seniman, pelajar dan generasi muda.
Budaya Menjadi Identitas
Panggung seni budaya menjadi bagian penting dalam peringatan Uroe Lahe Pidie.
Berbagai kesenian tradisional dan pertunjukan yang mencerminkan karakter Pidie diberikan ruang untuk tampil. Pelajar dan masyarakat juga dilibatkan agar budaya tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi menjadi pengalaman yang mereka rasakan sendiri.
Samsul mengatakan budaya harus tetap dirawat, tetapi kreativitas generasi muda juga tidak boleh dibatasi.
“Budaya kita rawat, tetapi kreativitas anak-anak muda juga harus berkembang. Jadi, ada kesinambungan antara apa yang diwariskan oleh orang tua kita dengan apa yang dikembangkan oleh generasi sekarang,” katanya.
Pesannya sederhana, tetapi dalam: jangan biarkan modernitas memutus akar, dan jangan pula biarkan tradisi mematikan kreativitas.
UMKM Menghidupkan Ekonomi
Uroe Lahe Pidie juga memberi ruang bagi pelaku UMKM melalui pameran dan expo.
Produk lokal tidak hanya ditampilkan sebagai barang dagangan, tetapi juga didorong memiliki kualitas, kemasan dan pemasaran yang lebih baik.
Produk Pidie harus mampu membawa cerita tentang daerahnya. Kuliner, kerajinan dan berbagai produk lokal dapat menjadi bagian dari identitas sekaligus cendera mata bagi tamu yang datang.
Dengan demikian, budaya tidak hanya dipelihara melalui panggung seni, tetapi juga dapat menggerakkan roda ekonomi masyarakat.
Pariwisata juga menjadi bagian dari arah pembangunan yang ingin diperkenalkan melalui momentum Uroe Lahe Pidie.
Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga (DisparekPora) Pidie, Teuku Iqbal, S.STP., M.Si., CPLM., turut terlibat dalam persiapan rangkaian kegiatan.
Namun, pariwisata Pidie tidak semestinya dipahami hanya sebagai satu objek wisata.
“Pariwisata ini bukan hanya satu sektor. Kita memiliki berbagai potensi yang bisa dikembangkan dan diperkenalkan kepada masyarakat, termasuk potensi sejarah, budaya dan alam yang kita miliki,” kata Samsul.
Sejarah, budaya, alam, kuliner, tradisi hingga kehidupan masyarakat dapat menjadi satu kesatuan pengalaman wisata.
Apalagi Uroe Lahe Pidie menghadirkan tamu dari luar daerah. Karena itu, keramahan menjadi bagian penting dari cara sebuah daerah memperkenalkan dirinya.
“Kita juga mengundang tamu. Karena itu, kita harus ramah dengan tamu dan menjadi tuan rumah yang baik,” ujarnya.
Jejak dan Langkah
Sepuluh tahun pencarian Hari Jadi Pidie pada akhirnya bukan sekadar usaha menemukan sebuah tanggal.
Ia adalah perjalanan untuk memahami siapa Pidie, dari mana daerah ini berangkat, dan ke mana generasinya hendak melangkah.
Sejarah membutuhkan kesabaran. Budaya membutuhkan penjagaan. Ekonomi membutuhkan kreativitas. Pariwisata membutuhkan keberanian untuk memperkenalkan potensi daerah. Dan semuanya membutuhkan generasi muda yang memahami akar daerahnya.
Seni menjaga ingatan. UMKM menggerakkan ekonomi. Pariwisata membuka pintu daerah. Sementara generasi muda menentukan apakah warisan itu akan tetap hidup atau perlahan hilang ditelan zaman.
Jejak kaki selalu tertinggal di belakang, sementara langkah terus bergerak ke depan. Begitulah sejarah Pidie—ia telah meninggalkan jejak panjang yang harus dibaca, bukan untuk membuat generasi hari ini hidup di masa lalu, tetapi agar mereka tidak berjalan tanpa arah. Uroe Lahe Pidie ke-515 menjadi pengingat bahwa mengenang sejarah adalah kewajiban, menjaga budaya adalah amanah, dan membangun masa depan adalah tanggung jawab.
“Kita jadikan HUT Pidie kali ini sebagai tonggak sejarah untuk membangun Pidie,” tegas Samsul Azhar. WASPADA.id
Muhammad Riza












Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda