Breaking News
Memuat breaking news...

Usai Penyerahan 852 Sepeda Motor Untuk Imum Gampong, Ayahwa: Saat Sedang Berjuang di Jakarta Saya Dicaci

Redaksi
Redaksi
Senin, 27 Juli 2026 - 6.10 PM WIB
Usai Penyerahan 852 Sepeda Motor Untuk Imum Gampong, Ayahwa: Saat Sedang Berjuang di Jakarta Saya Dicaci
Bupati Aceh Utara Ismail A. Jalil (Ayahwa) terlihat sedang berkonvoi bersama seluruh imum gampong dengan sepeda motor yang baru saja dihadiahkan untuk para penjaga akidah di tingkat pada paling bawah di lingkaran birokrasi.Waspada.id/Maimun Asnawi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

SAAT memberikan kata sambutan pada kegiatan penyerahan 852 sepeda motor untuk seluruh imum gampong di Negeri Sultan Malikussaleh, Senin (27/7/26) pagi, Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil (Ayahwa), di atas podium di Lapangan Landing, Lhoksukon, dengan suara lantang berbicara.

Kata dia, bencana besar yang melanda Aceh Utara bukanlah badai sehari. Ia adalah luka panjang yang butuh waktu bertahun-tahun untuk sembuh. “Kon lhe uroe, tapi lhe thon untuk taselesaikan persoalan bencana, nyoe baroe lapan buleun (bukan tiga hari masalah ini dapat diselesaikan, tapi butuh waktu tiga tahun untuk menyelesaikannya. Ini baru delapan bulan),”ujar sang bupati. Baru delapan bulan berlalu, sementara masa pemulihan diperkirakan tiga tahun.

Kata orang nomor satu di Aceh Utara ini, Jadup yang sudah berhasil dicairkan di Aceh Utara, untuk SK pertama mencakup 5 gampong, SK kedua 50 gampong. Total jumlah korban bencana alam banjir bandang di Aceh Utara mencapai 126.000 KK. Jika uang Jadup ini diberikan per jiwa dan diberikan untuk tiga bulan, setiap jiwa dibantu Rp.15 ribu, jumlahnya mencapai Rp1,3 triliun. Angka yang menggetarkan, bukan sekadar hitungan kecil.

Perjuangan Hingga ke Level Menteri

Di tengah keresahan masyarakat, sang bupati menegaskan: perjuangan ini bukan lagi sekadar kerja di tingkat kabupaten.

“Kerja bupati bukan di tingkat kementerian, tapi hari ini sudah kita tempuh. Saya sudah bergerak di level menteri, bahkan sampai ke Mensesneg,” katanya.

Pad akesempatan itu, kepada 852 imum gampong, orang nomor satu di Aceh Utara ini menceritakan perjuangannya di tingkat pusat untuk persoalan Jadup. Kata dia, dirinya bersama Wamen dan Menteri Sosial, menghadap Mensesneg. Kepada Mensesneg dia menyhampaikan keluhan, sudah delapan bulan lamanya, dana jaminan hidup (Jadup) belum cair.

Masyarakat Aceh Utara dikabarkan saat ini menjalni hidup dengan susah payah. Mengapa demikian, karena sawah mereka rusak, kebun mereka hancur, masyarakat lapar di dalam hunian sementara. “Maka dari itu, saya mengetuk pintu kementerian, membawa suara rakyat Aceh Utara. Alhamdulillah, berkat doa fakir miskin, surat dari Mensesneg akhirnya turun ke Menteri Keuangan. Harapan pun menyala: “Sibak rukok teuk, dana Jadup cair (sebatang rokok lagi, uang Jadup itu cair. Istilah bahasa Aceh).”

Dicaci di Daerah, Berjuang di Pusat

Lalu, Ayahwa, membertahukan para imum gampong, bahwa ada tudingan pengadaan 852 sepeda motor untuk imum gampong menggunakan sumber anggaran Jadup. Sang bupati menepis keras: anggaran itu berbeda sumber. Dana Jadup, dana rehab rumah, dana stimulan ekonomi — semuanya punya pos masing-masing.

“Saya sedang berjuang di Jakarta, tapi di daerah saya dicaci. Anggaran sepeda motor bukan dari dana Jadup. Ini uang negara, satu koma tidak boleh tertukar. Jika tertukar, dana tidak dapat dicairkan,” tegasnya.

Buati Aceh Utara ini juga memberitahukan, saat ini dia telah memerintahkan Kepala BPBD Aceh Utara ditugaskan berkantor di BNPB Jakarta, tidak boleh pulang sebelum administrasi selesai. Sebuah komitmen agar dana segera cair, agar rakyat segera lega.

Pesan untuk Tengku Imum dan Masyarakat

Di akhir pesannya, sang bupati menekankan pentingnya menjaga kekompakan. “Tengku imum jaga gampong masing-masing, jangan sampai masuk aliran sesat. Di Aceh Utara hanya satu aliran: ahlul sunnah wal jamaah.”

Ungkapan Ayahwa tentang penyelesaian berbagai kerusakan pasca banjir badnang membutuhkan waktu hingga tiga tahun, bukan tiga hari. Dan, delapan bulan baru permulaan. Dana triliunan rupiah bukan sekadar angka, melainkan napas bagi rakyat yang lapar dan kehilangan.

“Bersabar, karena proses panjang sedang kita tempuh. Percaya, karena pemerintah hadir bersama masyarakat. Dan berdoalah, karena doa tengku imum, fakir miskin dan seluruh da dari masyarakat Aceh Utara adalah kekuatan yang menembus pintu kementerian. Aceh Utara sedang berjuang. Luka memang panjang, tetapi harapan tetap menyala,” demikian Ismail A. Jalil.

Maimun Asnawi, S.HI.,M.Kom.I

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement