Breaking News
Memuat breaking news...

USD Index Tertekan, Rupiah dan IHSG Berpeluang Menguat Meski Dibayangi Perlambatan China

Redaksi
Redaksi
Jumat, 31 Juli 2026 - 9.55 AM WIB
USD Index Tertekan, Rupiah dan IHSG Berpeluang Menguat Meski Dibayangi Perlambatan China
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Pergerakan pasar keuangan pada akhir pekan menunjukkan sentimen yang cenderung positif bagi aset domestik. Pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) setelah Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuannya menjadi pendorong penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah, meski pasar masih dibayangi perlambatan aktivitas manufaktur China.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, harapan tercapainya terobosan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat semakin memudar setelah kedua pihak kembali terlibat aksi saling serang yang turut melibatkan negara lain. Namun hingga kini, konflik tersebut belum memberikan dampak signifikan terhadap harga minyak dunia.

"Harga minyak mentah Brent masih bertahan di kisaran US$85 per barel pada sesi perdagangan Asia. Artinya, pasar energi belum menunjukkan kepanikan meski tensi geopolitik kembali meningkat," ujar Gunawan, Jumat (31/7/2026).

Di kawasan Asia, bursa saham bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat. Pada pembukaan perdagangan, IHSG tercatat naik ke level 6.219, sementara rupiah diperdagangkan di kisaran Rp18.050 per dolar AS.

Menurut Gunawan, pelemahan dolar AS menjadi salah satu faktor yang memberikan ruang bagi penguatan aset keuangan di negara berkembang, termasuk Indonesia.

"USD Index kini turun ke kisaran 100,145, setelah sebelumnya sempat berada di atas level 101. Pelemahan ini dipicu keputusan The Fed yang kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,75 persen. Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap mata uang emerging markets mulai berkurang," jelasnya.

Di sisi lain, lanjut Gunawan, sentimen positif tersebut masih dibayangi perlambatan ekonomi China. Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur China turun ke level 49,2 pada Juli, lebih rendah dibandingkan 50,3 pada Juni, sekaligus menandakan sektor manufaktur kembali mengalami kontraksi.

"Data manufaktur China menjadi sentimen negatif karena berpotensi menekan prospek permintaan global. Namun, untuk perdagangan hari ini, pelemahan dolar AS masih menjadi sentimen yang lebih dominan sehingga mampu menopang pergerakan IHSG maupun rupiah," katanya.

Sementara itu, harga emas dunia bergerak relatif stabil di kisaran US$4.083 per troy ons, atau sekitar Rp2,38 juta per gram. Stabilnya harga emas mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar yang masih menunggu perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter global berikutnya.

Gunawan memperkirakan pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, data ekonomi global, serta arah kebijakan bank sentral utama dunia sebagai penentu pergerakan pasar keuangan dalam jangka pendek. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement