Ustadz Dr Muakhir Zakaria, MA: Al-Quran Meluruskan Pandangan Terhadap Harta dan Keturunan

ACEH BESAR (Waspada.id): Al-Quran meluruskan pandangan tentang harta dan keturunan, bahwa keduanya merupakan perhiasan dalam kehidupan di dunia, sekaligus dapat menjadi ujian dalam kehidupan beragama kita.
Apa hubungan antara perhiasan dan fitnah. Hubungannya dapat dirumuskan dalam satu kaidah: harta dan anak adalah dua nikmat yang Allah titipkan di tangan hamba-hambanya. Keduanya tidak hanya menjadi perhiasan dalam kehidupan manusia, tetapi juga dua ujian dalam agama Islam.
Jika keduanya membawa kita kepada ketaatan kepada Allah, maka keduanya menjadi nikmat dan perhiasan. Namun jika keduanya membawa kita kepada kemaksiatan kepada Allah, maka keduanya berubah menjadi fitnah dan bencana bagi kita.
Sekretaris Umum sekaligus Guru Dayah Darul Ihsan Abu Krueng Kalee, Siem, Aceh Besar, ustazd Dr. H. Muakhir Zakaria, M.A menyampaikan hal itu dalam khutbah Jumat di Masjid Darul Hasani Miruek Taman, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, Jumat (18/09/2026), bertepatan 6 Rabiul Akhir 1448 Hijriah.
Allah Swt berfirman, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal-amal kebajikan yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahfi: 46).
Dalam ayat ini, Allah menggambarkan harta dan anak sebagai dua bentuk perhiasan dunia yang sangat dicintai manusia.
Imam al-Qurthubi menjelaskan, harta dan anak disebut sebagai perhiasan kehidupan dunia karena pada harta terdapat keindahan dan manfaat, sedangkan pada anak terdapat kekuatan dan dukungan. Harta memberikan manfaat, memenuhi kebutuhan dan menjadi sarana untuk berbagai kepentingan kehidupan. Anak memberikan kebahagiaan, ketenteraman, kekuatan, penerus keturunan, dan dapat menjadi penolong bagi orang tua.
Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian hanyalah cobaan (fitnah), dan di sisi Allah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun: 15).
Imam ath-Thabari menjelaskan, harta dan anak merupakan ujian bagi manusia. Allah memberikan harta dan anak untuk menguji manusia: apakah ia akan menunaikan hak Allah atas keduanya dan menaati perintah-Nya, atau justru keduanya membuatnya lalai dari beribadah kepada Allah. Imam al-Qurthubi juga menjelaskan, fitnah dalam ayat tersebut berarti ujian dan cobaan.
Mengapa harta dan anak secara khusus disebutkan dalam dua ayat ini. Menurut ustadz Muakhir Zakaria, ada dua sebab utama: Pertama, harta dan keturunan sangat kuat mengikat hati manusia. Seseorang dapat bekerja keras siang dan malam demi mengumpulkan harta. Setelah berhasil, ia takut kehilangan harta tersebut. Demikian pula seseorang dapat melakukan berbagai hal demi masa depan anak-anaknya. Bahkan terkadang seseorang bisa tergoda untuk melanggar aturan halal dan haram dengan alasan demi keluarga dan anak-anak.
Kedua, harta dan keturunan salah satu akar terjadinya berbagai persoalan di dunia ketika manusia keliru memandang haikikat keduanya.
Oleh karena itu, lanjut Ustadz Muakhir Zakaria, ada beberapa hal yang harus kita luruskan, pertama, harta bukan tujuan akhir kehidupan. Allah menyebut harta sebagai perhiasan, bukan sebagai tujuan hidup. Perhiasan digunakan untuk memperindah kehidupan, tetapi tidak boleh menguasai hati manusia. Ketika seseorang menjadikan harta sebagai tujuan utama, ia dapat kehilangan batas antara yang halal dan yang haram. Dari sinilah keserakahan dapat berkembang menjadi penipuan, suap, penggelapan, hingga korupsi.
“Korupsi pada hakikatnya bukan sekadar persoalan hukum, tetapi juga krisis amanah dan penyakit moral. Seseorang yang mengambil harta yang bukan haknya telah mengorbankan kejujuran demi perhiasan dunia yang sementara,” ungkap ustazd Muakhir Zakaria.
Kedua, anak adalah amanah, bukan sekadar kebanggaan. Ayat tersebut juga menyebut sebagai perhiasan. Anak seharusnya tidak hanya dididik agar sukses secara materi, tetapi juga agar memiliki iman, ilmu, akhlak, dan tanggung jawab. Orang tua yang hanya mengejar prestasi, kekayaan, dan status sosial anak tanpa membangun moralnya, dapat menghasilkan generasi yang pintar tetapi lemah integritasnya.
Ketiga, ayat ini mengingatkan tentang perubahan orientasi hidup. Allah kemudian mengatakan, amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik. “Artinya yang harus menjadi ukuran keberhasilan,” pungkasnya.(id66)














Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda