USU Perkuat Kesiapsiagaan Bencana Keluarga Di Aek Ngadol


MEDAN (Waspada.id) – Universitas Sumatera Utara (USU) memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Internasional di Desa Aek Ngadol, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan. Kegiatan ini meliputi pendampingan psikososial masyarakat, pengecekan tanaman padi di lokasi, serta pelepasan ikan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan bersama masyarakat setempat.
Program tersebut juga berfokus pada pemetaan keamanan psikososial berbasis partisipasi warga dan penyusunan rencana kedaruratan keluarga guna membangun ketangguhan masyarakat dalam menghadapi risiko bencana.
Program bertajuk Participatory Psychosocial Safety Mapping and Family Disaster Resilience for Building a Resilient Aek Ngadol ini dirancang oleh tim USU melalui Centre for Disaster Mitigation and Adaptation (CeDMA) bersama Fakultas Psikologi USU, dengan melibatkan mitra internasional dari Universiti Sains Malaysia (USM).

Cek lokasi dan damplot padi di Desa Aek Ngadol Batangtoru,Tapsel. Waspada.id/ist
Melalui kegiatan psikososial kemasyarakatan, tim PkM mendorong penguatan dukungan sosial dan kemampuan masyarakat menghadapi dampak bencana. Sementara itu, pengecekan tanaman padi dilakukan untuk melihat kondisi pertanian di lokasi, sedangkan pelepasan ikan menjadi bagian dari kegiatan lapangan bersama masyarakat.
Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ketangguhan masyarakat pascabencana, terutama dalam mengenali risiko lingkungan, membangun jejaring pertolongan, serta menyiapkan langkah penyelamatan yang sesuai dengan kebutuhan keluarga.
Dalam pemaparannya, Wakil Bupati Tapanuli Selatan H. Jafar Syahbuddin Ritonga menyampaikan bahwa bencana telah menimbulkan dampak besar bagi masyarakat setempat. Sebanyak 95 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara empat orang lainnya masih dinyatakan hilang, khususnya di wilayah Garoga dan Parsariran.
Selain menimbulkan korban jiwa, bencana juga mengakibatkan kerusakan fisik di 14 dari 15 kecamatan di Tapanuli Selatan. Sektor pertanian turut terdampak, dengan sekitar 3.000 hektare lahan pertanian mengalami kerusakan parah.
Pemerintah daerah terus mendorong pemulihan melalui pemberdayaan masyarakat di sektor pertanian, ekonomi, dan bidang strategis lainnya. Pertumbuhan ekonomi daerah yang sempat turun dari 5,7 persen menjadi 2,7 persen akibat bencana kini dilaporkan kembali meningkat menjadi 5,4–5,5 persen berdasarkan data BPS terbaru.
Dalam pemulihan sektor pertanian, pemerintah juga mendorong pengembangan ladang jagung dan pertanian berkelanjutan. Sementara itu, penyediaan lahan pengganti bagi petani yang kehilangan lahan disebut menjadi kewenangan pemerintah pusat. Estimasi biaya pemulihan lahan pertanian mencapai Rp500 juta per hektare.

Pelepasan ikan mujair, tawes, dan jurung ke Aek Ngadol, Batangtoru,Tapanuli Selatan. Waspada.id/ist
Pemetaan Berbasis Pengalaman Warga
Salah satu kegiatan utama program USU adalah Participatory Psychosocial Safety and Community Resilience Mapping. Melalui pendekatan partisipatif, warga diajak mengidentifikasi lokasi aman dan berisiko, sumber bantuan, jaringan pertolongan, serta kelompok masyarakat yang membutuhkan dukungan tambahan ketika bencana terjadi.
Ameilia Zuliyanti Siregar, M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa pemetaan dilakukan bersama masyarakat agar hasilnya mencerminkan pengalaman dan kondisi lokal Desa Aek Ngadol.
Informasi yang dihimpun diharapkan membantu warga memahami sumber daya yang tersedia dan mengetahui dukungan yang dapat diakses saat menghadapi keadaan darurat.
Program ini juga mencakup pemetaan ramah anak melalui konsep My Safe Village. Anak-anak dan remaja akan diajak mengenali tempat yang membuat mereka merasa aman, orang dewasa yang dapat dipercaya, titik berkumpul, serta jalur menuju lokasi aman.
Pendekatan tersebut dirancang sesuai usia anak dan tidak memaksa mereka menceritakan pengalaman traumatis yang dialami.

Psikososial pada anak-anak di Desa Aek Ngadol, Batangtoru. Waspada.id/ist
Keluarga Disiapkan Menghadapi Keadaan Darurat
Selain pemetaan komunitas, USU merancang kegiatan Family Disaster Resilience Lab dengan tema “Our Family is Ready – Keluarga Kami Siaga”.
Kegiatan ini membantu keluarga menyusun rencana kedaruratan sederhana, mulai dari menentukan titik temu apabila anggota keluarga terpisah, membagi tugas saat evakuasi, hingga menyiapkan kebutuhan anak dan lanjut usia.
Keluarga juga diperkenalkan pada cara berkomunikasi saat bencana serta pentingnya memilih sumber informasi yang dapat dipercaya. Kesiapsiagaan psikologis turut menjadi perhatian, termasuk cara menyampaikan informasi dengan tenang kepada anak dan menghindari penyebaran kabar yang belum terverifikasi.
Dalam menghadapi situasi darurat, peserta juga akan diperkenalkan pada panduan STOP–BREATHE–LOOK–THINK–ACT, yakni langkah untuk berhenti sejenak, menenangkan diri, mengamati keadaan, mempertimbangkan pilihan, dan bertindak secara terarah.
Kolaborasi untuk Ketangguhan Berkelanjutan
Ketua tim pengusul, Dr. Meutia Nauly, S.Psi., M.Si., Psikolog, bersama tim lintas disiplin USU merancang program dengan menempatkan pengetahuan lokal sebagai bagian penting dalam membangun ketangguhan masyarakat.
Tim pelaksana melibatkan sejumlah akademisi USU, yakni Dr. Tarmidi, S.I., M.Si., Psikolog; Prof. Dr. Vivi Gusrini Rahadani Pohan, M.Sc., M.A., Ph.D., Psikolog; Prof. Raras Sutatminingsih, S.Psi., M.Si., Ph.D.; Ameilia Zuliyanti Siregar, M.Sc., Ph.D.; Dr. Vita Cita Emia Tarigan; dan Dr. Achmad Siddik Thoha, S.Hut., M.Hut. Program ini juga dirancang bersama mitra internasional dari Universiti Sains Malaysia untuk mendukung pertukaran pengetahuan dan pengalaman dalam penanganan bencana.
Program tersebut menargetkan sejumlah luaran, antara lain peta keamanan psikososial Aek Ngadol, peta ketangguhan komunitas, rencana kesiapsiagaan bencana keluarga, daftar sumber daya dan jaringan pertolongan, serta modul resiliensi keluarga.
Hasil kegiatan juga direncanakan menjadi bahan pengembangan CeDMA Community Disaster Resilience Living Lab dan tindak lanjut program kesiapsiagaan bersama masyarakat.
Melalui pendekatan partisipatif yang memadukan penguatan psikososial, perhatian terhadap kondisi pertanian, dan kesiapsiagaan keluarga, USU berharap masyarakat Aek Ngadol semakin mampu mengenali risiko, membangun solidaritas, serta mengambil keputusan secara tepat ketika menghadapi keadaan darurat.
Upaya ini diarahkan untuk mewujudkan masyarakat yang lebih siap, aman, inklusif, dan tangguh menghadapi bencana.(id143)
Berita Terkait









































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda