Breaking News
Memuat breaking news...

UT Kembangkan SI MAMY, Jadikan Rawakalong Percontohan Posyandu Digital

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 20 Juni 2026 - 2.17 PM WIB
UT Kembangkan SI MAMY, Jadikan Rawakalong Percontohan Posyandu Digital
Focus Group Discussion (FGD) Pengabdian Masyarakat UT bersama pemerintah desa, kader Posyandu, tenaga kesehatan, akademisi, dan masyarakat Desa Rawakalong, Sabtu (20/6/2026). (waspada.id/dian)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

BOGOR (Waspada.id): Universitas Terbuka (UT) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) mengembangkan aplikasi Posyandu Digital Portable bernama SI MAMY (Smart Integrated Maternal and Mom Young/Yandu) untuk mendukung peningkatan layanan kesehatan ibu dan anak sekaligus mendorong transformasi digital di Desa Rawakalong, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor.

Pengembangan aplikasi tersebut merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) UT yang diseminasi hasilnya digelar melalui Focus Group Discussion (FGD) bersama pemerintah desa, kader Posyandu, tenaga kesehatan, akademisi, dan masyarakat setempat, Sabtu (20/6/2026).

Ketua Tim Pelaksana PkM UT, Kani S.Kom., M.Kom., mengatakan digitalisasi Posyandu tidak hanya bertujuan meningkatkan efisiensi pencatatan layanan kesehatan, tetapi juga menjadi langkah strategis dalam membangun tata kelola desa berbasis data dan teknologi.

“Digitalisasi Posyandu bukan sekadar solusi teknis untuk pencatatan layanan kesehatan, tetapi juga langkah strategis untuk memperkuat tata kelola desa berbasis data dan teknologi. Kami berharap model yang dikembangkan di Desa Rawakalong dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Indonesia,” ujar Kani.

Menurut dia, aplikasi SI MAMY dirancang untuk menjawab berbagai persoalan yang selama ini dihadapi Posyandu, mulai dari pencatatan manual, keterlambatan pelaporan, hingga keterbatasan integrasi data. Aplikasi tersebut dibuat agar mudah digunakan kader Posyandu dan mampu mendukung pengelolaan data kesehatan secara lebih efektif.

Melalui implementasi SI MAMY, Desa Rawakalong diharapkan menjadi proyek percontohan digitalisasi layanan kesehatan berbasis komunitas yang dapat direplikasi di berbagai daerah. Selain meningkatkan efisiensi administrasi, aplikasi ini juga diharapkan memperkuat kualitas data kesehatan ibu dan anak di tingkat desa.

Kepala Desa Rawakalong, Wardi, menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang dilakukan UT melalui program PkM tersebut. Menurutnya, pendampingan yang diberikan memberikan tambahan wawasan bagi pemerintah desa dalam menerapkan digitalisasi pemerintahan dan pelayanan masyarakat.

“Tidak semua desa mendapatkan bimbingan seperti ini. Program dari UT menambah wawasan dan pengetahuan kami tentang praktik-praktik terbaik digitalisasi pemerintahan yang dapat diterapkan di desa,” kata Wardi.

Sementara itu, Camat Gunung Sindur, Muhamad Jamaluddin, menilai program PkM UT sejalan dengan upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pemanfaatan teknologi. Ia berharap kolaborasi dengan UT dapat terus diperluas sehingga semakin banyak desa di Kecamatan Gunung Sindur yang memperoleh pendampingan serupa.

“Harapannya semakin banyak desa di Gunung Sindur yang dibina oleh Universitas Terbuka sehingga transformasi digital dan literasi masyarakat dapat berkembang lebih luas,” ujarnya.

Dalam FGD tersebut, pakar transformasi digital dari IPB, Irman Hermadi, menegaskan bahwa transformasi digital pada hakikatnya merupakan instrumen pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar penerapan teknologi. Menurutnya, teknologi hanya akan memberikan manfaat optimal apabila mampu menghasilkan data yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan.

“Pada hakikatnya transformasi digital adalah katalis pemberdayaan, bukan sekadar proyek teknologi. Posyandu merupakan titik awal pengumpulan data yang paling krusial di Rawakalong. Aliran data dari Posyandu secara langsung dapat membentuk kebijakan strategis desa,” ujarnya.

Ia menjelaskan, data kesehatan ibu dan anak yang terdokumentasi secara digital akan menjadi sumber informasi penting bagi pemerintah desa dalam merancang program pembangunan yang lebih tepat sasaran. Data tersebut dapat digunakan untuk memetakan kondisi kesehatan masyarakat, mendukung upaya pencegahan stunting, memantau tumbuh kembang balita, hingga memperkuat perencanaan layanan kesehatan di tingkat desa.

Karena itu, implementasi SI MAMY dinilai memiliki nilai strategis tidak hanya untuk mendukung pelayanan Posyandu, tetapi juga sebagai fondasi pembangunan desa berbasis data yang berkelanjutan. Menurut Irman, ketika data kesehatan dapat dikelola secara baik dan dimanfaatkan secara konsisten, desa akan memiliki kapasitas yang lebih kuat dalam merumuskan kebijakan yang responsif terhadap kebutuhan warganya.

Program yang didanai LPMP Universitas Terbuka dan LPDP tersebut juga menghasilkan sejumlah luaran, antara lain laporan hasil FGD, publikasi media, dokumentasi kegiatan, serta rekomendasi dan roadmap transformasi digital desa. Dokumen-dokumen tersebut diharapkan menjadi rujukan bagi pengembangan desa berbasis teknologi yang berkelanjutan dan dapat direplikasi di berbagai wilayah Indonesia.

Melalui pengembangan SI MAMY, UT tidak hanya menghadirkan inovasi digital untuk mendukung layanan kesehatan ibu dan anak, tetapi juga mendorong lahirnya ekosistem desa berbasis data yang mampu meningkatkan kualitas pelayanan publik serta kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.(id11)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement