Utang Global Tembus US$365 Triliun, Bunga Utang Makin Mencekik

JAKARTA (Waspada.id): Utang global terus membengkak dan mulai meningkatkan tekanan terhadap pemerintah di berbagai negara. Pada semester pertama 2026, utang global bertambah sekitar US$10 triliun atau Rp179.155 triliun dengan asumsi kurs Rp17.920 per dolar AS, sehingga totalnya menembus US$365 triliun.
Lonjakan utang tersebut terjadi ketika imbal hasil obligasi pemerintah di sejumlah negara besar meningkat. Kondisi ini berpotensi memperbesar biaya pembayaran bunga dan mempersempit ruang fiskal pemerintah.
Direktur Pelaksana International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva turut memperingatkan peningkatan utang global yang dipicu berbagai guncangan ekonomi. Georgieva menyampaikan pandangan tersebut dalam wawancara dengan BBC pada pekan ini.
"Guncangan terhadap ekonomi global mendorong tingkat utang naik seperti tangga menuju sesuatu yang bukan surga,” ujar Georgieva dilansir dari CNBC, Minggu (27/9/2026).
Georgieva mengatakan, pemerintah perlu menurunkan tingkat utang dan menjadikan konsolidasi fiskal sebagai prioritas. Ia juga menekankan pentingnya bank sentral menjalankan mandat menjaga stabilitas harga.
“Ada dua hal yang harus dilakukan, yaitu menurunkan tingkat utang dan menjadikan konsolidasi fiskal sebagai prioritas serta memastikan bank sentral menjalankan mandatnya untuk menjaga stabilitas harga,” kata Georgieva.
Menurut Georgieva, pemerintah tetap perlu mengambil langkah fiskal meskipun kebijakan tersebut dapat menghadapi tantangan politik.
“Langkah-langkah tersebut secara politik sulit dilakukan, tetapi langkah tersebut diperlukan,” ujarnya.
Imbal Hasil Obligasi Jadi Sorotan
Institute of International Finance (IIF) mencatat kenaikan utang global terjadi ketika imbal hasil obligasi pemerintah tenor menengah dan panjang di sejumlah negara dengan ekonomi terbesar dunia mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu dekade.
Amerika Serikat, Jepang, Prancis, dan Inggris menjadi negara yang menghadapi tekanan tersebut. Investor semakin memperhatikan perkembangan suku bunga, biaya energi, pertumbuhan ekonomi yang melambat, serta tingginya belanja pemerintah.
IIF menyebut empat negara tersebut menghadapi defisit yang terus besar dan biaya bunga yang meningkat. Kondisi tersebut selama ini lebih sering dikaitkan dengan negara berkembang yang menghadapi tekanan utang.
Bunga Utang Negara Maju Tembus US$3,3 Triliun
Tekanan utang juga tercermin dari besarnya pembayaran bunga pemerintah negara maju.
Ekonomi negara maju membayar lebih dari US$3,3 triliun atau sekitar Rp59,12 triliun bunga atas obligasi pemerintah yang diperdagangkan secara internasional sepanjang tahun lalu.
Nilai tersebut bahkan melampaui belanja global untuk kecerdasan buatan sebesar US$2,6 triliun, pertahanan sebesar US$3,1 triliun, dan energi bersih sebesar US$2,3 triliun.
“Ketika suku bunga acuan meningkat, beban bunga akan melonjak, sementara tekanan struktural dari belanja layanan kesehatan dan pensiun publik masih belum tertangani secara memadai,” kata IIF dalam laporan mereka.
IIF juga memperingatkan bahwa persoalan utang semakin menjadi isu politik karena pemerintah menghadapi tekanan untuk mengambil langkah jangka pendek menjelang pemilu.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan kerentanan fiskal dalam jangka panjang, terutama ketika tambahan utang memberikan manfaat yang semakin kecil.
OECD Soroti Keberlanjutan Utang
Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dalam outlook ekonomi yang diterbitkan Rabu menilai kenaikan imbal hasil obligasi menunjukkan perlunya pemerintah memperkuat pengelolaan fiskal.
OECD menilai pemerintah perlu melakukan reformasi untuk menjaga keberlanjutan utang dalam jangka panjang. Langkah tersebut juga diperlukan agar pemerintah tetap memiliki ruang fiskal untuk merespons berbagai guncangan ekonomi pada masa mendatang.
OECD mendorong pemerintah untuk menekan dan mengalokasikan kembali belanja, meningkatkan efisiensi sektor publik, serta memperkuat penerimaan negara.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menghadapi tekanan pembiayaan utang yang semakin besar di tengah kenaikan imbal hasil obligasi dan meningkatnya beban bunga pemerintah. (Lip6)
















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda