Wabup Ismail: Hari Santri Momentum Memperkuat Peran Santri dalam Pembangunan Bangsa


ACEH TAMIANG (Waspada.id): Wakil Bupati Aceh Tamiang, Ismail, S.E., memimpin upacara peringatan Hari Santri Nasional 2026 yang digelar di halaman tribun belakang Kantor Bupati Aceh Tamiang, Kamis (22/10/2026).
Upacara tersebut diikuti perwakilan dari 35 pesantren dan dayah serta ribuan santri dari berbagai wilayah di Kabupaten Aceh Tamiang. Kegiatan itu juga diisi dengan penyerahan penghargaan kepada sejumlah pimpinan dayah dan penampilan kreativitas santri.
Dalam kesempatan itu, Wakil Bupati Aceh Tamiang, Ismail, menegaskan bahwa peringatan Hari Santri Nasional bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan momentum untuk memperkuat peran santri dalam pembangunan bangsa.
Dengan mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, peringatan tahun ini menjadi pengingat akan pentingnya kontribusi santri melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, inovasi, penguatan akhlak, serta pengabdian kepada masyarakat.
Ismail menyampaikan bahwa sejarah perjuangan bangsa tidak dapat dipisahkan dari peran ulama dan santri. Resolusi Jihad yang dimaklumatkan pada 22 Oktober 1945 menjadi salah satu tonggak penting yang membangkitkan semangat perjuangan umat Islam dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Menurutnya, perjuangan para pendahulu harus dilanjutkan melalui pengabdian, karya, dan kontribusi nyata sesuai dengan tantangan zaman.
"Jika dahulu para santri berjuang mempertahankan kemerdekaan, kini mereka dituntut berperan aktif dalam memajukan bangsa melalui pendidikan, penguasaan teknologi, inovasi, dan pembentukan karakter yang berlandaskan nilai-nilai keislaman," ungkapnya.
Ismail juga mengingatkan bahwa Indonesia akan memasuki satu abad kemerdekaan pada 2045. Untuk mewujudkan visi Indonesia Emas, diperlukan sumber daya manusia yang unggul, berdaya saing, berintegritas, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Dalam konteks tersebut, santri diharapkan tidak membatasi potensi diri dan berani mengambil peran di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, keagamaan, penelitian, kewirausahaan, hingga kepemimpinan.
Ia mendorong para santri untuk terus belajar, berlatih, dan mengamalkan ilmu pengetahuan demi kemajuan bangsa. Penguasaan ilmu agama, menurut pesan yang disampaikan dalam amanat tersebut, perlu berjalan beriringan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Santri juga diharapkan mampu mempertahankan nilai-nilai keislaman, menjunjung tinggi akhlak mulia, serta menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.
"Semangat tersebut sejalan dengan ungkapan man jadda wajada, yang berarti barang siapa bersungguh-sungguh, ia akan berhasil," sebut Ismail.
Ismail juga menekankan pentingnya peran pesantren dalam membangun karakter bangsa. Pesantren tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga berperan dalam membentuk akhlak, menumbuhkan kemandirian, dan menanamkan semangat pengabdian kepada masyarakat.
Ia mengajak para santri menjadi pelopor kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, penjaga persatuan dan kerukunan, serta penggerak kemandirian ekonomi masyarakat.
Nilai-nilai agama juga diharapkan menjadi landasan dalam menjaga kelestarian lingkungan, menebarkan perdamaian, dan membangun kehidupan sosial yang harmonis. Menurutnya, persatuan dan semangat gotong royong merupakan modal penting dalam mewujudkan Indonesia yang kuat.
Dalam amanat tersebut, turut disampaikan penguatan perhatian pemerintah terhadap pengembangan pesantren melalui pembentukan direktorat jenderal khusus di lingkungan Kementerian Agama pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Keberadaan lembaga tersebut diharapkan dapat memperkuat peran pesantren dalam pembangunan nasional, khususnya melalui tiga fungsi utamanya, yakni pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui pendidikan, pesantren diharapkan melahirkan generasi yang berilmu dan berakhlak mulia. Melalui dakwah, pesantren berperan menyebarluaskan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin serta memperkuat kerukunan dan persatuan.
Sementara itu, melalui pemberdayaan masyarakat, pesantren diharapkan mampu mendorong kemandirian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan mengoptimalkan ketiga fungsi tersebut, pesantren diharapkan semakin berkontribusi dalam pembangunan nasional tanpa kehilangan jati diri dan tradisi luhur yang menjadi kekuatannya.
Ismail juga menegaskan bahwa Hari Santri Nasional bukan hanya milik kalangan pesantren dan umat Islam, melainkan juga milik seluruh bangsa Indonesia yang menghargai perjuangan, menjunjung tinggi persatuan, dan mencintai tanah air.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan peringatan Hari Santri sebagai momentum untuk memperkuat semangat gotong royong dan melanjutkan perjuangan para ulama serta pahlawan melalui tindakan nyata.
Para santri, khususnya generasi muda, diharapkan terus meningkatkan kapasitas diri, berkarya, mengabdi, dan memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan bangsa dan negara.
Ismail berharap peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Kabupaten Aceh Tamiang semakin memperkuat semangat pengabdian para santri serta mendorong pesantren menjadi bagian penting dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. (Id76)
Berita Terkait















































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda