Breaking News
Memuat breaking news...

Wajah Tegas Kapolri di Jantung Pidie: Ketika Ulama Aceh Menaruh Harapan Baru

Redaksi
Redaksi
Minggu, 25 Oktober 2026 - 11.06 AM WIB
Wajah Tegas Kapolri di Jantung Pidie: Ketika Ulama Aceh Menaruh Harapan Baru
Pimpinan Dayah QAHA Ukhwatul Qur'an Lhokseumawe, Tengku Jamaluddin H. Kadir
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

"Narkoba merupakan racun perusak akal yang menjadi pintu kemaksiatan, sehingga menjaga generasi muda darinya adalah bagian dari merawat peradaban dan menjaga amanah Allah." - Tgk Jamaluddin H. Kadir

Gerimis tipis atau debu jalanan tampaknya tidak mengurangi ketegangan pada saat tim gabungan melakukan operasi penggerebekan pabrik sabu jaringan internasional di Gampong Ulee Tutue, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, Rabu (21/10/2026).

Di sana, sebuah benteng hitam runtuh. Bukan benteng dalam arti fisik, melainkan sebuah pabrik barang haram yang selama ini memproduksi racun bagi masa depan generasi bangsa.

Menariknya, di garda terdepan penggerebekan itu, tampak hadir sosok nomor satu di kepolisian Indonesia. Kehadiran langsung sang Kapolri di lapangan mengirimkan pesan yang sangat clear dan benderang: negara tidak sedang main-main melawan narkoba.

Langkah berani ini memantik getaran simpati hingga ke sudut-sudut pesantren di serambi Mekkah. Dari Kota Lhokseumawe, apresiasi mendalam datang dari Tgk Jamaluddin H. Kadir, Pimpinan Dayah QAHA Ukhwatul Qur'an. Bagi sang Teungku, kehadiran Kapolri di tengah operasi penggerebekan di Pidie bukan sekadar formalitas pejabat, melainkan wujud nyata dari keseriusan dan komitmen tanpa kompromi.

"Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Kapolri atas langkah tegas pemberantasan narkoba ini," ungkap Tgk Jamaluddin dengan nada penuh takzim namun bersemangat.

Bagi kalangan tengku dan sang ulama, apa yang dilakukan kepolisian adalah bagian dari merawat peradaban dan menjaga umat.

Di Aceh, isu narkoba bukan lagi sekadar angka di atas kertas laporan kriminal. Narkoba telah menjelma laksana racun senyap yang merayap ke gampong-gampong, merusak akal sehat, dan memutus asa para pemuda.

Ada kecemasan mendalam di hati para orang tua dan pendidik. Dalam pandangan Islam, segala sesuatu yang memabukkan dan merusak kesadaran dikutuk dengan keras. Bukan tanpa alasan, hilangnya akal sehat adalah pemantik utama lahirnya berbagai tindak kriminalitas lain di tengah masyarakat.

"Ketika narkoba masuk, ketenteraman warga menjadi taruhannya," ucap Tengku Jamal.

Melalui keberhasilan operasi di Pidie dan perhatian langsung dari Kapolri, sebutnya lagi, secercah cahaya optimisme kembali membumbung tinggi. Komitmen kepolisian di bawah komandonya dinilai memberi perisai bagi masa depan generasi muda Aceh.

Di akhir untaian apresiasinya, terselip sebuah doa yang tulus, berharap agar ikhtiar besar ini mendapat rida-Nya demi melindungi keluarga, anak-cucu, dan seluruh elemen bangsa dari kehancuran barang haram tersebut.

"Kehadiran pemimpin di garis depan melawan narkoba menunjukkan ketegasan negara dalam membersihkan dan memartabatkan masa depan bangsa," demikian Pimpinan Dayah QAHA Ukhwatul Qur'an Lhokseumawe, yang akrab disapa Waled Jamal. WASPADA.id

Maimun Asnawi, S.HI., M.Kom.I

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement