Waled Rusli: Ilmu Harus Melahirkan Akhlak, Persatuan Menjadi Kunci Kemajuan Organisasi

BANDA ACEH (Waspada.id): Kemajuan suatu masyarakat dan organisasi tidak cukup hanya ditopang oleh kecerdasan intelektual, gelar akademik, maupun banyaknya orang berilmu. Lebih dari itu, ilmu harus mampu membentuk karakter, melahirkan akhlak mulia, serta menumbuhkan semangat persatuan dan kebersamaan.
Pesan tersebut disampaikan DR. Tgk. Rusli Daud, S.HI., M.Ag yang sering disapa Waled Rusli dalam kegiatan Beut Bak Warkop NU Kota Banda Aceh, Minggu (8/11/2026) di Mykopi Ateuk Jawo, Banda Aceh
Dalam pemaparannya, Waled Rusli menegaskan bahwa perkembangan teknologi dan kemudahan akses informasi saat ini membuat ilmu pengetahuan semakin mudah diperoleh. Namun, kemudahan mendapatkan ilmu tidak serta-merta menjamin seseorang mampu menemukan dan menjalankan kebenaran hakiki. Menurutnya, persoalan mendasar yang perlu mendapat perhatian adalah pembentukan karakter dan akhlak manusia.
Ia menjelaskan bahwa pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada transfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Pendidikan juga harus mampu menanamkan nilai-nilai moral, membentuk kepribadian, serta mendorong peserta didik agar dapat mengamalkan ilmu yang dimilikinya. Sebab, ukuran seseorang berilmu bukan semata-mata seberapa banyak pengetahuan yang dikuasai, melainkan sejauh mana ilmu tersebut memberikan manfaat bagi kehidupan.
Waled Rusli kemudian mengingatkan kembali tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad SAW ke dunia, sebagaimana hadis Rasulullah SAW tentang penyempurnaan kemuliaan akhlak, Liutammima makarimal akhlaq. Menurutnya, akhlak merupakan fondasi penting dalam membangun hubungan manusia dengan Allah SWT sebagai Sang Pencipta maupun hubungan antarsesama makhluk.
Ia menerangkan bahwa harmonisasi kehidupan harus terbangun melalui dua dimensi hubungan, yakni hubungan vertikal antara manusia dengan Allah SWT dan hubungan horizontal antara manusia dengan sesama manusia serta makhluk lainnya. Karena itu, seseorang yang memiliki ilmu tinggi, kekayaan, bahkan gelar profesor atau kedudukan ulama sekalipun, belum tentu berhasil membangun hubungan yang harmonis apabila tidak dibarengi karakter dan adab yang baik.
Dalam konteks tersebut, Waled Rusli mengangkat pemikiran Imam Al-Ghazali yang membedakan antara ulama khair dan ulama su', atau ulama yang membawa kebaikan dan ulama yang tidak menggunakan keilmuannya untuk kemaslahatan. Pembagian tersebut menjadi pengingat bahwa kepandaian dan keluasan ilmu harus dibuktikan melalui perilaku, keteladanan, serta kontribusi nyata bagi masyarakat.
Lebih jauh, ia mengajak para peserta untuk melakukan introspeksi terhadap kehidupan organisasi, termasuk di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Menurutnya, salah satu persoalan yang sering menghambat kemajuan organisasi adalah egoisme para pengurus dan pimpinan. Tidak jarang, sesama pengurus lebih mengedepankan pemikiran dan kepentingan masing-masing daripada membangun kesepahaman untuk mencapai tujuan bersama.
Waled Rusli juga menekankan besarnya pengaruh lingkungan pergaulan dalam membentuk karakter seseorang. Ia mengingatkan bahwa seseorang dapat dikenali melalui lingkungan dan orang-orang yang menjadi teman pergaulannya.
Oleh sebab itu, pembentukan karakter tidak hanya berlangsung melalui pendidikan formal dan keluarga, tetapi juga melalui interaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, organisasi tidak mungkin berkembang apabila hanya mengandalkan satu atau dua orang pemimpin. Kemajuan membutuhkan kesediaan seluruh pengurus untuk menyatukan langkah, menerima perbedaan pemikiran, dan bekerja secara kolektif.
Perbedaan konsep yang tidak dikelola dengan baik justru dapat menciptakan jurang pemisah, meskipun para pengurus berada dalam satu organisasi dan sering duduk bersama.
Mengutip pesan yang diwariskan para guru, Waled Rusli mengingatkan pentingnya prinsip persatuan sebagai kekuatan utama dalam sebuah gerakan. Semangat al-ittihad atau persatuan harus menjadi landasan dalam menjalankan roda organisasi. Tidak ada kekuatan yang kokoh apabila masing-masing pihak berjalan sendiri-sendiri dan mempertahankan egonya.
Menutup pemaparannya, Waled Rusli mengajak seluruh pengurus dan warga NU untuk membangun gerakan bersama secara kolektif dan berjamaah. Ia berharap NU dan organisasi kemasyarakatan lainnya dapat terus berkembang melalui kebersamaan, saling menguatkan, serta menyatukan visi dan langkah perjuangan.
Pesan tersebut sekaligus menjadi refleksi bagi para pengurus organisasi bahwa kekuatan sebuah lembaga tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin, tetapi juga oleh kualitas akhlak, kedewasaan berpikir, dan kemampuan seluruh anggotanya menjaga persatuan. Seayun dan selangkah dalam perjuangan, menjadikan ilmu sebagai amal, serta persatuan sebagai kekuatan untuk membangun kemaslahatan umat. (Id66)
Berita Terkait












































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda