Breaking News
Memuat breaking news...
Advertisement

Warung Tua di Tepi Sungai Mencirim Diusulkan Terima Banpres Usaha Mikro Korban Bencana

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 7 November 2026 - 10.22 AM WIB
Warung Tua di Tepi Sungai Mencirim Diusulkan Terima Banpres Usaha Mikro Korban Bencana
Pedagang sarapan pagi bernama Umul (65) saat ditemui di warungnya yang baru saja ia tutup, Rabu (4/11/2026). (Dok Tim Media Satgas PRR)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

BINJAI (Waspada.id): Umul Hikmi (65), pemilik warung sarapan pagi di Kelurahan Setia, Kecamatan Binjai Kota, menjadi salah satu dari 535 pelaku usaha mikro Kota Binjai yang diusulkan menerima Bantuan Presiden (Banpres) pascabencana senilai Rp3 juta. Ia berharap bantuan itu dapat digunakan untuk mengganti etalase warung yang telah hancur diterjang banjir berulang.

Umul telah menggeluti usaha sarapan pagi selama sekitar 45 tahun. Setiap pagi ia memasak lontong, nasi gurih, gorengan, bakwan, sala bulek dan risol untuk warga sekitar. Namun warung yang menjadi satu-satunya sumber penghidupannya terletak tepat di tepi Sungai Mencirim yang kerap meluap.

Banjir besar November 2025 menjadi pukulan berat. Air naik hingga mendekati loteng rumah, membuat warung terendam, peralatan rusak, hanyut, dan dagangan yang sudah disiapkan terbuang. Ia mengaku kerugian bahan makanan saja mencapai lebih dari Rp1 juta, belum termasuk lemari kaca, kompor, kuali, piring, bangku warung dan etalase yang rusak. Bahkan etalase yang ia pakai sekarang adalah pinjaman orang lain karena tiga miliknya telah hancur.

“Saya sudah tiga etalase hilang. Yang sekarang dipakai pinjam orang. Kalau diambil pemiliknya, saya tidak punya lagi. Saya harap kalau dapat Banpres, bisa beli etalase baru,” ujar Umul saat ditemui di lokasi usahanya, Rabu (4/11).

Ia menceritakan bahwa setelah banjir November 2025 ia berhenti berjualan lebih dari sebulan. Selama itu ia harus membersihkan lumpur dan menata ulang warung dengan mengandalkan simpanan pribadi serta penjualan barang yang masih tersisa. Dalam kondisi normal, bila dagangan habis terjual ia dapat keuntungan sekitar Rp300 ribu sehari, namun pendapatan itu tidak menentu.

Belum selesai pulih, banjir kembali melanda kawasan itu. Dalam sebulan terakhir ia mengalami beberapa kali banjir, termasuk dua kali dalam dua minggu terakhir dengan ketinggian mencapai sekitar dua meter. Saat air naik ia bersama keluarga bertahan di loteng rumah hingga air surut. Meski begitu ia belum berniat pindah karena rumah ini milik sendiri dan lokasinya dekat pasar serta kebutuhan sehari-hari.

Sementara itu Plt Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Binjai Gloria Sinulingga menjelaskan bahwa awalnya Pemkot Binjai mengusulkan 434 pelaku usaha pada tahap pertama. Setelah verifikasi ulang dan penyesuaian kuota, jumlah usulan bertambah menjadi 535 pelaku usaha. Berkas tersebut telah naik ke meja Wali Kota untuk penguatan sebelum diteruskan ke Kementerian UMKM.

“Kami sudah melakukan survei lapangan, mengumpulkan foto bukti kerusakan serta keterangan dari Lurah bahwa mereka benar-benar terdampak banjir. Kemudian data diunggah ke sistem. Namun penetapan akhir penerima tetap berada di tangan Kementerian UMKM,” kata Gloria.

Ia menyampaikan kendala utama adalah persyaratan NIB serta riwayat KUR. Menurutnya banyak pelaku UKM terdampak banjir terpaksa meminjam modal untuk bertahan, namun justru hal itu dapat menghambat kelayakan usulan. Ia berharap pemerintah pusat meninjau kembali persyaratan tersebut dan memprioritaskan Kota Binjai yang dikelilingi Sungai Bingai, Sungai Mencirim dan Sungai Bangkatan.

Berdasarkan data Kementerian UMKM, pemerintah telah menyiapkan anggaran Rp618 miliar untuk pemulihan UMKM terdampak bencana di Sumatera. Sebagian besar berupa Banpres Rp601 miliar yang menyasar 200 ribu usaha mikro, dengan tahap pertama telah terverifikasi sebanyak 112.849 usaha mikro di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Masing-masing penerima tahap pertama akan menerima Rp3 juta yang dialokasikan untuk rehabilitasi usaha.

Ketua Satgas PRR Muhammad Tito Karnavian menegaskan bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga pemulihan mata pencaharian masyarakat. Rencana Induk PRR mengusung prinsip Build Back Better, Safer and Sustainable agar masyarakat tidak sekadar pulih secara fisik, tetapi juga mampu kembali berproduksi.

Bagi Umul, harapannya sederhana: bantuan dapat segera cair agar ia bisa membeli etalase baru, mengganti peralatan yang rusak dan kembali berjualan tanpa harus terus meminjam barang. Ia berharap warung yang telah berdiri puluhan tahun di tepi Sungai Mencirim itu tetap menjadi sumber penghidupan keluarganya.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement