Xavi Hernandez, Pelatih Asing Timnas Belanda Setelah 48 TahunXavi Hernandez, Pelatih Asing Timnas Belanda Setelah 48 Tahun

Oleh: Indra Efendi Rangkuti
Teka-teki sosok yang akan menjadi pelatih baru Timnas Belanda pascamundurnya Ronald Koeman usai Belanda tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026 akhirnya terjawab. Pada 13 Agustus 2026, asosiasi sepak bola Belanda, KNVB, resmi mengumumkan legenda Barcelona dan Timnas Spanyol, Xavi Hernandez, sebagai pelatih baru Timnas Belanda. Xavi Hernandez resmi dikontrak hingga 2030.
Tampilnya Xavi Hernandez sebagai pelatih baru Timnas Belanda mengejutkan publik sepak bola Belanda karena dalam beberapa hari terakhir nama Michael Reiziger dan Louis Van Gaal yang muncul sebagai sosok baru pelatih Timnas Belanda. Uniknya, Xavi Hernandez adalah anak asuh Louis Van Gaal di Barcelona ketika Van Gaal menangani Barcelona periode 1998–2000 serta saat dirinya sempat kembali menangani Barcelona pada 2002 hingga 2003. Demikian juga dengan Michael Reiziger yang pernah bermain bersama Xavi di Barcelona pada periode 1998–2004.
Hadirnya Xavi Hernandez sebagai pelatih Timnas Belanda membuat Timnas Belanda kembali ditangani pelatih asing setelah 48 tahun. Sosok pelatih asing terakhir yang menangani Timnas Belanda adalah pelatih asal Austria, Ernst Happel, yang melatih Belanda mulai 31 Agustus 1977 hingga 24 Juni 1978. Ernst Happel sukses membawa Timnas Belanda menjadi runner-up Piala Dunia 1978 yang digelar di Argentina.
Walau berasal dari Spanyol, Xavi Hernandez dibesarkan oleh kultur sepak bola Belanda. Xavi adalah produk asli akademi sepak bola Barcelona yang bernama “La Masia”, yang filosofi dan metode pembinaannya dibangun oleh legenda besar sepak bola Belanda yang pernah menjadi pemain dan pelatih Barcelona, Johan Cruyff.
Ketika menangani Barcelona pada tahun 1988, Johan Cruyff mengubah “La Masia” menjadi pusat akademi sepak bola modern dengan menerapkan filosofi Total Football, formasi 3-4-3 di semua kelompok umur, serta mengutamakan kecerdasan posisi, penguasaan bola, dan teknik di atas ukuran fisik. Cruyff meminta semua tim muda Barcelona memakai pola dan cara main yang sama agar pemain siap masuk tim utama.

Xavi Hernandez ketika dilatih Louis Van Gaal dan Frank Rijkaard di Barcelona
Pada masa ini pula Cruyff menyempurnakan pola permainan Total Football dengan pola permainan baru yang disebutnya dengan nama “Tiki Taka”, yang hingga kini menjadi filosofi pembinaan akademi La Masia dan menjadi pola permainan yang dimainkan oleh Barcelona. Xavi sendiri mulai dibina di akademi Barcelona sejak usia 11 tahun.
Bahkan, Xavi tidak ragu menyebut sosok legenda besar Belanda yang pernah menangani Barcelona, Rinus Michels dan Johan Cruyff, sebagai inspirasinya dalam melatih. Bahkan, yang mempromosikannya ke tim utama Barcelona pada tahun 1998 adalah Louis Van Gaal. Bahkan, karena kepiawaiannya dalam bermain, Xavi dijadikan sebagai wakil kapten Barcelona pada tahun 2004 oleh pelatih asal Belanda lainnya, Frank Rijkaard. Dan di masa ketika Rijkaard melatih Barcelona pada 2003 hingga 2008, Xavi menjelma menjadi salah satu gelandang terbaik dunia.
Dengan melihat dekatnya Xavi dengan sepak bola Belanda, tentu tidak heran KNVB menilai Xavi Hernandez akan kembali menghidupkan pola Total Football di Timnas Belanda yang memudar usai Marco Van Basten mundur dari posisi pelatih Timnas Belanda sesudah Piala Eropa 2008.
Xavi Hernandez atau yang biasa dipanggil Xavi lahir di Terrassa, Barcelona, Catalonia, pada 25 Januari 1980. Setelah memperkuat tim muda Barcelona, pada tahun 1998 Xavi dipromosikan oleh pelatih Louis Van Gaal ke tim utama Barcelona. Di Barcelona ini pula Xavi menjalani 17 tahun kariernya sebagai pesepak bola profesional hingga tahun 2015. Usai memperkuat Barcelona di musim 2014/2015, Xavi memutuskan pindah ke klub Qatar, Al Sadd, hingga dirinya mundur sebagai pesepak bola pada tahun 2019.
Xavi juga adalah bagian penting dari kejayaan Timnas Spanyol di Eropa dan dunia. Xavi bagian dari Timnas Spanyol ketika menjadi juara Piala Eropa 2008 dan 2012 serta menjadi juara Piala Dunia 2010.
Seusai mundur sebagai pemain pada 2019, Xavi menekuni dunia kepelatihan. Karier kepelatihannya cukup sukses bersama Al Sadd dan Barcelona.
Berikut saya uraikan perjalanan karier Xavi Hernandez sebagai pemain:
1. Barcelona
Setelah menjalani pendidikan di akademi “La Masia” dan memperkuat tim muda Barcelona, Xavi dipromosikan Louis Van Gaal ke tim utama Barcelona. Debutnya bersama tim utama Barcelona terjadi pada 24 Maret 1998 ketika Barcelona menghadapi UE Lleida di semifinal Copa Catalunya di Camp d'Esports. Xavi tampil penuh pada pertandingan tersebut dan membawa Barcelona menang 2-1 atas UE Lleida.
Xavi mencetak gol pertamanya untuk Barcelona pada 18 Agustus 1998 di Supercopa de España 1998 melawan Mallorca. Debut Xavi bersama Barcelona di Liga Spanyol (La Liga) terjadi melawan Valencia pada 3 Oktober 1998 di Stadion Mestalla dan sukses membawa kemenangan 3–1 untuk Barcelona. Penampilan menawannya membuat Louis Van Gaal mulai menjadikan Xavi sebagai pemain inti Barcelona secara bergantian dengan Pep Guardiola.
Pada musim debutnya ini, Xavi sukses membawa Barcelona menjadi juara Liga Spanyol (La Liga) musim 1998/1999. Xavi juga dianugerahi gelar “Pemain Pendatang Baru Terbaik La Liga 1999” atas kiprah menawannya di Barcelona sepanjang musim.
Sayang, pada musim 1999/2000 Barcelona gagal mempertahankan gelar juara La Liga yang mereka raih dan berujung kepada pemberhentian Louis Van Gaal sebagai pelatih. Meski begitu, kiprah Xavi makin menawan dan mulai menggeser peran Pep Guardiola di tim.
Peran Xavi makin vital di Barcelona usai Guardiola meninggalkan Barcelona pada akhir musim 2000/2001. Sayang, meski tampil menawan bersama Barcelona, namun Barcelona tetap gagal kembali berjaya di La Liga.
Akhirnya, pada awal musim 2003/2004, legenda AC Milan dan Timnas Belanda, Frank Rijkaard, hadir sebagai pelatih baru Barcelona. Rijkaard melihat peran Xavi sama seperti yang dijalaninya ketika memperkuat AC Milan dan Timnas Belanda sebagai gelandang bertahan sekaligus inisiator serangan tim. Dan di bawah polesan Rijkaard, Xavi menunjukkan pesonanya sebagai salah satu gelandang bertahan terbaik Eropa.
Di bawah asuhan Rijkaard, Xavi sukses membawa Barcelona menjadi juara La Liga 2004/2005 dan 2005/2006, juara Supercopa de España 2005 dan 2006. Yang paling fenomenal, Xavi sukses membawa Barcelona menjadi juara Liga Champions musim 2005/2006.
Sayang, kemudian prestasi Barcelona kembali mengalami kemerosotan hingga akhirnya Rijkaard mundur dari posisi pelatih Barcelona pada akhir musim 2007/2008. Pep Guardiola hadir sebagai pelatih baru pengganti Rijkaard mulai musim 2008/2009.
Hadirnya Guardiola yang merupakan senior sekaligus mantan rekan setim Xavi di Barcelona kian meneguhkan peran Xavi dalam tim. Apalagi, Guardiola mampu menyempurnakan pola permainan “Tiki Taka” warisan Johan Cruyff. Xavi bahkan menjadi poros permainan Barcelona bersama dua juniornya, Andres Iniesta dan Lionel Messi.
Di bawah asuhan Guardiola selama periode 2008 hingga 2012, Xavi berperan besar membawa Barcelona menjadi juara La Liga musim 2008/2009, 2009/2010 dan 2010/2011, juara Copa del Rey musim 2008/2009 dan 2011/2012, juara Supercopa de España 2009, 2010 dan 2011. Yang paling fenomenal, Barcelona sukses menjadi juara Liga Champions musim 2008/2009 dan 2010/2011, juara Piala Super Eropa 2009 dan 2011 serta juara Piala Dunia Antarklub FIFA 2009 dan 2011.

Xavi Hernandez ketika membawa Barcelona menjadi Juara Liga Champions 2011 dan 2015
Sayang, di musim 2011/2012 Barcelona gagal meraih gelar hingga akhirnya Guardiola memilih mundur dari posisi pelatih Barcelona dan digantikan asistennya, Tito Vilanova. Di bawah asuhan Tito Vilanova, Xavi kembali berperan membawa Barcelona menjadi juara La Liga musim 2012/2013. Sayang, kemudian di akhir musim 2012/2013 Vilanova memilih mundur dari jabatannya karena sakit kanker yang dialaminya.
Posisi Vilanova kemudian digantikan pelatih asal Argentina, Gerardo Martino. Namun, di bawah asuhan Gerardo Martino, Barcelona tidak bersinar dan kembali gagal meraih gelar hingga akhirnya Martino diberhentikan oleh Barcelona.
Posisi Gerardo Martino kemudian digantikan mantan bintang Barcelona yang juga pernah menjadi rekan setim Xavi di Barcelona, Luis Enrique, mulai musim 2014/2015. Di bawah asuhan Enrique, peran Xavi makin kuat. Enrique menunjuk Xavi sebagai kapten baru Barcelona menggantikan Carles Puyol yang mundur dari dunia sepak bola.
Di musim 2014/2015 ini, Xavi sebagai kapten tim sukses membawa Barcelona menjadi juara La Liga, juara Copa del Rey dan juara Liga Champions. Pada 25 April 2015, Xavi mencatatkan penampilan ke-500 di La Liga dan menjadi pemain kedelapan dalam sejarah yang melakukannya.
Di akhir musim 2014/2015, Xavi memutuskan mengakhiri perjalanan kariernya di Barcelona. Keputusan ini membuat sedih para pendukung Barcelona. Sebagai bentuk penghormatan atas prestasinya, pada 4 Juni 2015 Barcelona mengadakan acara perpisahan khusus untuk Xavi dengan memajang berbagai trofi juara yang dipersembahkannya selama memperkuat Barcelona.
2. Al Sadd
Xavi melanjutkan kiprahnya sebagai pesepak bola dengan bergabung bersama klub Qatar, Al Sadd. Xavi bahkan dinobatkan sebagai duta untuk menyambut Piala Dunia 2022 yang digelar di Qatar. Xavi melakukan debutnya untuk Al Sadd dalam kemenangan 4-0 atas Mesaimeer pada 13 September 2015 dan dirinya memberikan assist untuk gol pertama tim.
Xavi memenangkan trofi pertamanya bersama Al Sadd setelah kemenangan 2-1 atas El Jaish di final Piala Qatar pada 29 April 2017. Kemudian Xavi membawa Al Sadd menjadi juara Piala Sheikh Jassim 2017, Piala Emir Qatar 2017 dan juara Liga Qatar musim 2018/2019.
Usai musim 2018/2019, Xavi memutuskan mundur dari kariernya sebagai pesepak bola.
3. Timnas Spanyol
Pada tahun 1999, Xavi merupakan bagian dari Tim U-20 Spanyol yang menjadi juara Piala Dunia U-20 di Nigeria, dan ia mencetak dua gol dalam turnamen tersebut. Pada tanggal 15 November 2000, Xavi melakukan debutnya untuk tim nasional sepak bola Spanyol dalam pertandingan persahabatan melawan Belanda.
Sinar Xavi di Timnas Spanyol makin bersinar ketika Luis Aragones melatih Timnas Spanyol. Di bawah asuhan Luis Aragones, Xavi berperan besar membawa Timnas Spanyol menjadi juara Piala Eropa 2008 yang digelar di Austria dan Swiss setelah mengalahkan Jerman 1-0 di final. Xavi bahkan dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Piala Eropa 2008.
Ketika Aragones mundur dari Timnas Spanyol usai Piala Eropa 2008 dan digantikan Vicente Del Bosque, peran Xavi makin vital sebagai pengatur irama permainan di Timnas Spanyol. Di bawah asuhan Vicente Del Bosque, Xavi berperan besar membawa Timnas Spanyol menjadi juara Piala Dunia 2010 yang digelar di Afrika Selatan setelah di final mengalahkan Timnas Belanda 1-0.

Xavi Hernandez ketika membawa Timnas Spanyol menjadi Juara Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan
Prestasi Xavi di Timnas Spanyol di bawah asuhan Vicente Del Bosque makin bersinar usai Piala Dunia 2010. Xavi memberi kontribusi besar dengan membawa Timnas Spanyol kembali menjadi juara Piala Eropa 2012 yang berlangsung di Polandia dan Ukraina setelah di final menaklukkan Timnas Italia 4-0.
Sayang, seusai Piala Eropa 2012, prestasi Timnas Spanyol di bawah asuhan Vicente Del Bosque mulai meredup. Timnas Spanyol gagal mempertahankan gelar juara Piala Dunia pada Piala Dunia 2014 yang digelar di Brazil. Spanyol bahkan tidak lolos dari babak penyisihan grup.

Xavi Hernandez ketika membawa Timnas Spanyol menjadi Juara Piala Eropa 2012 di Polandia dan Ukraina
Seusai Piala Dunia 2014, Xavi memutuskan mundur dari Timnas Spanyol. Pelatih Vicente Del Bosque memberikan penghormatan kepada Xavi dengan pujian atas perannya sebagai motor utama permainan Timnas Spanyol.
“Xavi adalah bagian kunci dari gaya permainan tim dan dia lebih penting bagi kami daripada manajer sekalipun. Kami akan merindukannya baik di dalam maupun di luar lapangan. Dia adalah pemain yang sangat kami hormati baik secara pribadi maupun sebagai pemain. Dia akan selalu menjadi pribadi dan pemain yang sangat dihargai oleh federasi, staf pelatih, dan oleh saya sendiri,” ujar Vicente Del Bosque kepada para wartawan saat Xavi memutuskan mundur dari Timnas Spanyol.
Sesusai mundur sebagai pemain, Xavi memutuskan menekuni dunia kepelatihan. Berikut saya coba menguraikan perjalanan karier Xavi Hernandez sebagai pelatih.
1. Al Sadd
Pada 28 Mei 2019, diumumkan bahwa Xavi akan menjadi pelatih Al Sadd dengan kontrak dua tahun. Xavi membantu klub mencapai semifinal Liga Champions AFC, di mana mereka tersingkir oleh Al-Hilal FC dengan agregat 5-6. Di liga, klub finis di posisi ketiga.
Pada musim 2019/2020, Xavi memimpin timnya untuk memenangkan satu trofi domestik, yaitu Piala Qatar. Pada Liga Champions AFC 2020, Al Sadd mencapai babak 16 besar, tetapi tersingkir setelah takluk 0-1 oleh Persepolis.
Selama 97 pertandingan yang dipimpinnya di Al Sadd, yang berlangsung selama dua setengah tahun, Xavi membawa klub meraih tujuh trofi. Pada 3 November 2021, Al Sadd bermain imbang 3–3 melawan Al-Duhail dalam pertandingan terakhirnya sebagai pelatih. Dua hari kemudian, Al Sadd mengumumkan kepindahan Xavi ke Barcelona setelah klausul pelepasannya dibayarkan.
2. Barcelona
Pada tanggal 6 November 2021, Xavi kembali ke klub lamanya Barcelona sebagai pelatih baru menggantikan Ronald Koeman, dengan kontrak hingga Juni 2024. Setelah kedatangannya, Xavi menerapkan aturan yang lebih ketat untuk para pemain yang mencakup pengenalan kembali denda, kedatangan lebih awal untuk latihan dan pelacakan aktivitas pemain di luar lapangan. Xavi mendapat tugas berat mengangkat kembali prestasi Barcelona yang tak pernah lagi menjadi juara La Liga sejak terakhir kali meraihnya pada musim 2018/2019.
Meski kebijakan yang diterapkan Xavi sempat mendapat protes dari beberapa pemain senior Barcelona, namun akhirnya Barcelona mulai menunjukkan sinarnya kembali di La Liga. Pada akhir musim 2021/2022, Xavi membawa Barcelona menduduki posisi runner-up di La Liga.
Di musim 2022/2023, Xavi sukses menampilkan kembali permainan indah Barcelona dengan pola permainan “Tiki Taka” dan memadukan pemain senior dan pemain muda. Barcelona sukses menjadi juara La Liga musim 2022/2023.
Kesuksesan ini membuat harapan publik akan kembalinya Barcelona menjadi juara Liga Champions sejak terakhir kali diraih pada musim 2014/2015 yang merupakan musim terakhir Xavi bermain di Barcelona. Apalagi, Xavi sukses membawa Barcelona menjadi juara Supercopa de España 2023.

Xavi Hernandez sebagai pelatih ketika membawa Barcelona menjadi Juara Liga Spanyol (La Liga) musim 2022/2023
Namun, sayang prestasi Barcelona meredup di musim 2023/2024. Serangkaian hasil mengecewakan sepanjang Desember 2023 dan Januari 2024 menyebabkan peningkatan tekanan dan pengawasan terhadap kinerja Xavi sebagai pelatih.
Pada 16 April 2024, Xavi diusir keluar lapangan setelah melakukan protes keras terhadap wasit István Kovács selama pertandingan babak 8 besar Liga Champions antara Barcelona dan Paris Saint-Germain. Selama konferensi pers pascapertandingan, Xavi menyatakan bahwa kartu merah yang diberikan kepada bek Barcelona Ronald Araújo oleh wasit asal Rumania itu merupakan momen penting yang secara signifikan memengaruhi hasil pertandingan.
Pada akhir musim 2023/2024, Barcelona harus rela kehilangan gelar juara La Liga yang akhirnya sukses diraih oleh rival beratnya, Real Madrid. Barcelona harus puas menduduki posisi runner-up.
Pada 24 Mei 2024, Xavi diberhentikan dari tugasnya oleh presiden klub Barcelona, Joan Laporta. Posisi Xavi kemudian digantikan oleh pelatih asal Jerman, Hansi Flick.

Xavi Hernandez ketika melatih Ferran Torres dan Lamine Yamal di Barcelona
Selama melatih Barcelona, Xavi Hernandez mengorbitkan 14 pemain muda dari akademi La Masia. Xavi memberikan kesempatan debut kepada banyak talenta, termasuk bintang utama seperti Lamine Yamal, Pau Cubarsi, Fermin Lopez, Gavi dan Marc Guiu serta bintang-bintang muda lainnya demi mengatasi krisis finansial klub sekaligus menjaga tradisi akademi.
Xavi juga yang melihat potensi besar pada diri Ferran Torres yang tidak maksimal di Manchester City dan akhirnya menariknya ke Barcelona pada pertengahan musim 2021/2022. Dan akhirnya Ferran Torres kembali menemukan sinarnya bersama Barcelona di bawah asuhan Xavi Hernandez.
3. Timnas Belanda
Dan kini Timnas Belanda menjadi pelabuhan baru dalam perjalanan karier Xavi sebagai pelatih sepak bola. Uniknya, kehadiran Xavi di Timnas Barcelona sama seperti kehadirannya di Barcelona menggantikan Ronald Koeman sebagai pelatih.
Selain sudah mengenal dengan baik sepak bola Belanda, Xavi juga akan semakin mudah beradaptasi dengan permainan Timnas Belanda karena akan kembali bertemu dengan mantan anak asuhnya di Barcelona yang juga andalan lini tengah Timnas Belanda, Frenkie De Jong.
Akankah Xavi Hernandez akan sukses bersama Timnas Belanda? Menarik untuk kita ikuti dan kita tunggu hasilnya. WASPADA.id
Penulis adalah pemerhati olahraga
























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda