Zulhas: Harga Beras Bisa Tembus Rp20 Ribu Jika Terus Impor


JAKARTA (Waspada.id): Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan memperingatkan ancaman serius di balik ketergantungan Indonesia terhadap pangan impor. Jika tidak segera ditekan, harga beras di dalam negeri disebut berpotensi melonjak hingga Rp16 ribu-Rp20 ribu per kilogram.
Kondisi tersebut bahkan dinilai bisa mengubah pola konsumsi masyarakat. Ketika harga beras semakin mahal, masyarakat berpotensi beralih ke gandum yang harganya relatif lebih murah.
"Kalau kita terus tidak mau tahu juga, nanti harga beras kita bisa sampai Rp16 ribu, Rp20 ribu (per kg), sementara harga harga-harga gandum akan murah. Orang akan pindah makannya," kata pria yang akrab disapa Zulhas itu dalam acara launching buku Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul di JCC Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (4/9).
Biaya Produksi Beras RI Jauh Lebih Mahal
Zulhas menilai persoalan utama yang perlu dibenahi bukan hanya soal pasokan, tetapi juga tingginya biaya produksi pangan dalam negeri.
Ia membandingkan biaya produksi beras Indonesia dengan Thailand dan Vietnam. Menurutnya, untuk menghasilkan satu kilogram beras, biaya yang dikeluarkan petani Indonesia jauh lebih tinggi.
"Negara tetangga kita dekat, Thailand, Vietnam itu, untuk dapat 1 kilo beras, dia hanya mengeluarkan biaya Rp3.800. Kita untuk 1 kg beras, itu perlu biaya Rp12 ribu. Betapa kita kalah jauh tertinggal," ujarnya.
Perbedaan biaya produksi tersebut, lanjut Zulhas, tidak terlepas dari pemanfaatan teknologi, penggunaan varietas baru, serta manajemen pengolahan sawah. Faktor-faktor tersebut membuat produktivitas pertanian di sejumlah negara lain jauh lebih tinggi.
Konsumsi Gandum Melonjak
Di tengah mahalnya biaya produksi beras, konsumsi gandum Indonesia justru mengalami peningkatan signifikan.
Zulhas mengungkapkan konsumsi gandum nasional yang pada 2004 masih berada di kisaran 3-4 juta ton kini telah melonjak menjadi sekitar 13 juta ton.
"Saya jadi anggota DPR tahun 2004, kita makan gandum mungkin 3-4 juta. Sekarang kita makan gandum yang kita tidak bisa tanam 13 juta ton, sekarang. Berarti dari 3-4 juta sekarang 13 (juta ton) berapa kali itu, ya?" tutur Zulhas.
Menurut dia, pergeseran konsumsi tersebut salah satunya dipicu oleh harga beras yang lebih mahal dibandingkan produk pangan berbasis gandum.
"Kenapa (konsumsi) gandum naik 13 juta (ton)? Karena beras kita mahal, gandumnya murah, (konsumsi) pindah. Dia enggak makan nasi goreng, makan roti, karena lebih murah, gitu. Nanti terus akan begitu," imbuhnya.
Ketergantungan Impor Pangan
Zulhas juga mengungkap besarnya ketergantungan Indonesia terhadap pangan impor. Pada 2024, Indonesia disebut mengimpor 4,5 juta ton beras, sekitar 1 juta ekor sapi per tahun, 4 juta ton kedelai, serta rata-rata 6 juta ton gula.
Sementara itu, impor gandum mencapai sekitar 13 juta ton karena komoditas tersebut tidak dapat dibudidayakan di Indonesia.
"Kalau saudara-saudara mengikuti, hampir semua makan kita ini impor kita ini. Tahun 2024 kita impor beras itu 4,5 juta. Tapi kita sudah biasa, ah sudah. Kita kalau enggak ada beras ya impor saja," katanya.
Menurut Zulhas, ketergantungan terhadap impor membuat Indonesia rentan terhadap gejolak pasokan dan harga pangan global. Ia mengaku pernah mengalami sendiri kondisi ketika Indonesia kesulitan memperoleh pasokan beras dari negara lain saat dirinya menjabat sebagai Menteri Perdagangan.
Bibit Impor Ikut Jadi Masalah
Persoalan ketergantungan impor, lanjut Zulhas, tidak hanya terjadi pada komoditas pangan. Indonesia juga masih bergantung pada bibit dari luar negeri.
"Hampir seluruh tanaman-tanaman pangan, itu semua bibitnya kita impor. Yang sekali pakai, sudah gitu impor lagi seperti ayam tadi. Terus akan tergantung," ucapnya.
Ia mencontohkan komoditas kedelai. Produktivitas kedelai Indonesia disebut masih sekitar 1 ton per hektare, sementara negara lain yang telah mengembangkan rekayasa genetik mampu menghasilkan hingga 10 ton per hektare.
Rendahnya produktivitas tersebut pada akhirnya ikut membuat harga kedelai di dalam negeri menjadi jauh lebih mahal.
Swasembada Dilakukan Bertahap
Pemerintah, kata Zulhas, tidak akan membenahi seluruh sektor pangan secara bersamaan. Program swasembada akan dilakukan secara bertahap dengan sejumlah komoditas prioritas.
"Oleh karena itu, tidak semua kita lakukan sekaligus. Kita bertahap, sekarang beras, jagung, kemudian ini kita akan berkembang ke gula, sama garam, terus ikan, daging belakangan, enggak mudah juga daging itu," katanya.
Ia mengakui pekerjaan rumah pemerintah masih panjang, terutama untuk menekan biaya produksi melalui mekanisasi dan peningkatan produktivitas.
"Makanya kita masih mahal, masih PR kita banyak ini, tapi kita sudah memulai sesuatu-sesuatu yang bertanggung jawab, kira-kira begitu," ujar Zulhas. (cnni)












Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda