Ekonomi

Geopolitik Memanas, Yield SBN Berpotensi Naik Tekan Pasar Obligasi Domestik

Geopolitik Memanas, Yield SBN Berpotensi Naik Tekan Pasar Obligasi Domestik
Kecil Besar
14px

JAKARTA (Waspada.id): Memanasnya kembali tensi geopolitik global menyusul batalnya kesepakatan damai antara Iran dan Amerika Serikat diperkirakan memberi tekanan terhadap pasar obligasi domestik, khususnya Surat Berharga Negara (SBN). Kondisi ini mendorong kenaikan premi risiko (risk premium) seiring meningkatnya ketidakpastian global.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai bahwa persoalan utama bukan hanya kegagalan negosiasi kedua negara, melainkan lonjakan ketidakpastian global yang berpotensi bertahan dalam jangka pendek. Dalam situasi tersebut, pasar obligasi cenderung menuntut imbal hasil (yield) yang lebih tinggi.

“Dalam situasi seperti ini, wajar jika investor meminta yield lebih tinggi. Jadi kecil kemungkinan yield SBN turun dalam jangka pendek,” ujar Yusuf kepada Investor Daily, Minggu (12/4/2026).

Ia menjelaskan, meningkatnya tensi geopolitik akan mendorong investor global mengalihkan dana ke aset safe haven seperti US Treasury, sekaligus mengurangi eksposur di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Dampaknya pun berlapis, mulai dari potensi capital outflow, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, hingga kenaikan harga energi yang dapat memicu ekspektasi inflasi.

Yusuf memperkirakan yield SBN tenor 10 tahun yang saat ini berada di kisaran 6,6% berpotensi naik ke rentang 6,65% hingga 6,80% dalam waktu dekat. Meski demikian, kenaikan tersebut dinilai masih dalam batas wajar, mengingat fundamental ekonomi domestik yang relatif solid serta peran aktif Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas pasar keuangan.

Lebih lanjut, ia menilai tekanan yield tidak akan merata di seluruh tenor. Investor saat ini cenderung lebih selektif dengan memilih tenor pendek hingga menengah yang dianggap lebih stabil di tengah gejolak global.

“Tenor panjang diperkirakan menghadapi tekanan lebih besar karena risiko durasi yang lebih tinggi di tengah volatilitas global,” jelasnya.

Kondisi ini diperkirakan akan tercermin dalam lelang Surat Utang Negara (SUN) yang dijadwalkan pada 14 April 2026. Seri tenor menengah dinilai berpotensi menjadi incaran investor karena menawarkan keseimbangan antara imbal hasil dan risiko, sementara tenor panjang kemungkinan kurang diminati kecuali pemerintah menawarkan kompensasi yield yang lebih tinggi.

Meski dihadapkan pada tekanan eksternal, Yusuf menilai permintaan terhadap SBN masih akan tetap terjaga, terutama didukung oleh investor domestik serta peran Bank Indonesia sebagai penopang pasar.

Namun demikian, pemerintah diperkirakan harus menerima kenaikan yield sebagai konsekuensi dari meningkatnya ketidakpastian global.

“Dalam jangka pendek, pasar obligasi domestik masih berada dalam fase penyesuaian, seiring tingginya sensitivitas investor terhadap dinamika geopolitik global dan arah kebijakan moneter internasional,” pungkasnya. (invid)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE