MEDAN (Waspada.id): Pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat terkait program nuklir belum membuahkan kesepakatan. Meski mediator dari Oman menyebut adanya progres positif dan rencana pertemuan lanjutan, ketegangan di antara kedua negara masih membayangi pasar global.
Merespons kondisi tersebut, pasar keuangan domestik bergerak variatif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi pembukaan perdagangan, Jumat (27/2), ditransaksikan melemah ke level 8.211. Bahkan, pada sesi pagi, IHSG sempat turun menembus level psikologis 8.100.
Sementara itu, nilai tukar Rupiah juga terpantau melemah ke posisi Rp16.785 per dolar AS. Di sisi lain, data initial jobless claims Amerika Serikat tercatat memburuk, menambah sentimen kehati-hatian pelaku pasar.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin, menilai arah kebijakan Amerika Serikat akan menjadi faktor kunci pergerakan pasar selanjutnya.
“Jika Amerika Serikat mengambil langkah yang lebih agresif, termasuk opsi intervensi militer, maka pasar keuangan global akan merespons negatif. Namun sejauh ini, eskalasi konflik masih tertahan sehingga tekanan belum terlalu dalam,” ujar Gunawan.
Ia menambahkan, pelaku pasar saat ini cenderung memanfaatkan agenda ekonomi sebagai pertimbangan tambahan dalam pengambilan keputusan investasi, sambil tetap mencermati perkembangan geopolitik.
Di tengah pelemahan pasar saham dan Rupiah, harga emas justru menunjukkan ketahanan. Harga emas dunia terpantau stabil di kisaran USD 5.188 per ons troy. Untuk pasar domestik, harga emas berada di kisaran Rp2,8 juta per gram.
“Emas masih menjadi aset lindung nilai yang diminati saat ketidakpastian meningkat. Stabilnya harga emas mencerminkan sikap wait and see pelaku pasar, sambil menunggu respons lanjutan dari Amerika Serikat maupun hasil pertemuan berikutnya,” tambahnya.
Pasar diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dalam waktu dekat, seiring pelaku pasar menanti kejelasan arah hubungan Iran dan Amerika Serikat. (id09)












