MEDAN (Waspada.id): Pasar keuangan domestik ditutup menguat di tengah meningkatnya tensi global menjelang pertemuan antara Amerika Serikat dan Iran. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini, Rabu (25/2) ditutup naik 0,5 persen ke level 8.322, setelah bergerak volatil dalam rentang 8.259 hingga 8.373.
Sepanjang sesi perdagangan, IHSG sempat berada di zona merah sebelum akhirnya berbalik arah dan lebih banyak bertahan di zona hijau. Sejumlah saham unggulan yang menopang penguatan indeks di antaranya BBRI, BBCA, PTRO, ANTM dan TINS.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin, menilai penguatan IHSG hari ini lebih dipengaruhi sentimen eksternal yang relatif minim, sehingga pasar domestik cenderung mengikuti arah bursa Asia yang juga menghijau.
“Minimnya sentimen domestik membuat IHSG bergerak seirama dengan mayoritas bursa saham Asia. Selain itu, penguatan rupiah juga menjadi katalis positif bagi pasar saham,” ujarnya.
Rupiah sendiri ditutup menguat di level Rp16.780 per dolar AS, setelah sempat melemah hingga menyentuh Rp16.845 pada awal sesi perdagangan.
Di sisi lain, harga emas dunia juga terpantau mengalami kenaikan menjelang agenda penting pertemuan AS dengan Iran yang dijadwalkan berlangsung esok hari. Emas diperdagangkan di kisaran 5.191 dolar AS per ons troy, atau setara sekitar Rp2,81 juta per gram.
Menurut Gunawan, penguatan emas mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap potensi risiko geopolitik.
“Kenaikan harga emas menunjukkan adanya kekhawatiran pasar. Investor cenderung mencari aset safe haven menjelang pertemuan tersebut,” jelasnya.
Ia menambahkan, pasar sejauh ini juga relatif mengabaikan pernyataan pejabat Bank Sentral AS yang bernada hawkish terkait arah kebijakan moneter The Fed ke depan. Bahkan kebijakan Presiden AS yang menaikkan tarif impor belum memberikan tekanan signifikan terhadap pergerakan emas.
“Ketidakpastian saat ini semakin menumpuk. Jika melihat tren kenaikan emas, pasar seperti memberi sinyal bahwa peluang tercapainya kesepakatan mungkin kecil, atau bahkan berpotensi memperuncing ketegangan,” tambahnya.
Meski demikian, Gunawan menegaskan bahwa arah pasar selanjutnya sangat bergantung pada hasil pertemuan tersebut. Untuk sementara, pelaku pasar diperkirakan akan mengambil sikap wait and see hingga ada kepastian resmi dari hasil perundingan.
“Semua akan ditentukan besok. Investor kemungkinan besar memilih menahan posisi sambil menunggu hasil pertemuan dipublikasikan,” pungkasnya. (id09)











