Ekonomi

Rupiah Sentuh Rp17.100, Pasar Dibayangi Ketidakpastian Gencatan Senjata

Rupiah Sentuh Rp17.100, Pasar Dibayangi Ketidakpastian Gencatan Senjata
Kecil Besar
14px

MEDAN (Waspada.id): Pergerakan pasar keuangan global masih dibayangi ketidakpastian geopolitik, khususnya terkait potensi batalnya kesepakatan gencatan senjata di Timur Tengah. Kondisi ini membuat sentimen pasar tetap rapuh, meskipun sejumlah indikator ekonomi menunjukkan arah yang relatif stabil.

Pada perdagangan pagi ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat ke level 7.346. Penguatan juga terjadi di mayoritas bursa saham Asia yang bergerak di zona hijau pada sesi awal perdagangan.

Namun, di sisi lain, nilai tukar Rupiah justru menunjukkan pelemahan. Rupiah tercatat berada di level Rp17.095 per dolar AS, bahkan menyentuh kisaran Rp17.100 per dolar AS di pasar. Kondisi ini terjadi di tengah melemahnya indeks dolar AS (USD Index) yang berada di level 98,9.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai bahwa pelemahan Rupiah di tengah turunnya USD Index menunjukkan adanya tekanan eksternal yang cukup kuat, terutama dari faktor geopolitik.

“Secara teori, pelemahan USD Index seharusnya membuka peluang penguatan Rupiah. Namun saat ini pasar lebih didominasi oleh sentimen risiko global, khususnya kekhawatiran batalnya gencatan senjata, sehingga pelaku pasar cenderung mencari aset aman,” ujar Gunawan.

Ia menambahkan, harga minyak mentah dunia yang masih bertahan di kisaran 96 hingga 98 dolar AS per barel juga belum memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan pasar keuangan secara keseluruhan.

Di sisi lain, harga emas dunia tercatat menguat ke level 4.773 dolar AS per ons troy, seiring meningkatnya permintaan aset lindung nilai. Sementara itu, harga emas di dalam negeri berada di kisaran Rp2,63 juta per gram, meski potensi kenaikannya dinilai terbatas dalam jangka pendek.

“Ketidakpastian geopolitik membuat emas tetap menarik, tetapi ruang kenaikannya tidak terlalu besar karena pasar masih menunggu kepastian arah konflik,” jelasnya.

Lebih lanjut, Gunawan menyebut bahwa sejumlah rilis data ekonomi dari Amerika Serikat belum mampu menggerakkan pasar secara signifikan. Data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal IV tercatat tumbuh 0,5 persen, sementara klaim pengangguran awal (initial jobless claims) meningkat menjadi 219 ribu.

“Data ekonomi saat ini cenderung diabaikan oleh pelaku pasar. Fokus utama tetap pada perkembangan konflik dan peluang tercapainya atau batalnya gencatan senjata,” pungkasnya. (id09)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE