Mengayuh di Antara Dua Raksasa : Menjaga Kompas Ekonomi Saat Emas dan Dolar PerkasaMengayuh di Antara Dua Raksasa : Menjaga Kompas Ekonomi Saat Emas dan Dolar Perkasa

Oleh Agnetika Saragih
Dunia finansial global belakangan ini mempertontonkan sebuah paradoks yang tidak biasa sekaligus menggelisahkan. Dua aset yang secara historis berada di kutub yang berlawanan-emas dan dolar Amerika Serikat (AS)- kini justru kompak meleset tinggi secara bersamaan. Di panggung domestik, kita menyaksikan nilai tukar rupiah terpukul hebat hingga bertegger di kisaran Rp17.700 hingga mendekati level psikologis baru Rp18.000 per dolar AS. Pada saat yang sama, harga emas batangan terus terbang tinggi, nyaman bertahan di atas angka fantastis Rp2,7 juta hingga Rp 2,8 juta per gram. Bagi masyarakat awam dan pelaku usaha, fenomena ini bukan sekedar deretan angka di papan bursa; ini adalah alarm keras bagi ketahanan ekonomi nasional kita.
Secara konvensional, hukum pasar keuangan mendiktekan hubungan yang berbanding terbalik antara emas dan dolar AS. Dolar yang menguat biasanya akan meredupkan kilau emas karena komoditas berharga ini menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Sebaliknya, ketika dolar melemah atau inflasi AS melonjak, invertor akan berhamburan memburu emas sebagai pelindung nilai (hedging). Namun, anomali yang terjadi belakangan ini menunjukkan bahwa peta permainan telah berubah. Dinamika geopolitik yang terus memanas di berbagai belahan dunia, ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral, sampai kekhawatiran atas defisit transaksi berjalan telah memicu kecemasan akut di tingkat global. Pasar tidak lagi sekedar mencari keuntungan spekulatif; mereka sedang dilanda kepanikan dan berebut mengamankan aset ke dalam dua insting utama: likuiditas jangla pendek lewat dolar AS, dan keamanan absolut jangka panjang melalui emas.
Bagi perekonomian Indonesia, kombinasi dari “dua raksasa yang mengamuk” ini membawa dampak ganda yang sangat telak. Di satu sisi, keperkasaan dolarv AS secara otomatis menekan rupiah dan langsung memicu inflasi dari barang impor (imported inflation) Sektor industri manufaktur kita yang masih bergantung pada bahan baku dan komponen impor kini harus menanggung pembengkakan baiaya produksi. Imbasnya sangat berantai: harga barang di tingkat konsumen berpotensi naik, memicu penurunan daya beli, dan memperberat beban utang luar negeri, baik sektor publik maupun swasta.
Di sisi lain, meroketnya emas memang membawa angin segar dan keuntungan besar bagi masyarakat yang sudah berinvestasi sejak lama. Namun, jika dilihat dari kacamata makro, “demam emas” yang masif ini sebenarnya adalah indikator bahwa kepercayaan publik terhadap stabilitas mata uang sedang goyah. Ketika masyarakat lebih memilih menimbun logam mulia dibanding memutar uang mereka di sektor riil atau instrumen perbankan domestik, roda ekonomi justru berisiko melambat. Uang menjadi tidak produktif karena mengendap didalam brankas-brankas penyimpanan sebagai bentuk pertahanan diri daro ancaman resesi ekonomi.
Kita tentu tidak boleh hanya menjadi penonton pasif yang meratap di pinggir lapangan global. Langkah Bank Indonesia dalam melakukan intervensi di pasae valuta asing demi menahan kejatuhan rupiah yang lebih dalam patut diapresiasi. Namun, otoritas moneter tidak bisa terus-menerus menguras cadanagn devisa kita untuk melawan arus global yang begitu kuat. Pemerintah harus segera memperkuat benteng domestik melalui kebijakam fiskal dan sektor riil yang agresif. Ketergantungan terhadap impor harus ditekan dengan mempercepat hilirisasi industri dan mengoptimalkan penyerapan produk lokal. Selain itu, penekanan aturan agar para eksportir memarkirkan Dolar Hasil Ekspor (DHE) di dalam negeri harus diperketat tanpa toleransi. Kita membutuhkan pasokan likuiditas dolar yang nyata di dalam negeri, bukan sekedar komiten di atas kertas.
Ujian ini juga menuntut kedewasaan finansial di tingkat akar rumput. Di tengah euforia meroketnya harga emas, masyatarakat di ingatkan untuk tidak terjebak pada aksi spekulasi yang tidak terukur atau melakukan pembelian panik (panic buying). Strategi keuangan terbaik bagi rumah tangga pada saat ini adalah memperkuat likuiditas dan menunda pengeluaran yang bersifat tersier atau konsumtif.
Kesimpulan kita jelas: Kenaikan emas dan dolar secara bersamaan adalah ujian nyata bagi resiliensi dan daya tahan ekonomi nasioanl. Kita memang tidak memiliki daya untuk mengontrol badai geopolitik dan kebijakan ekonomi di washington atau Timur Tengah, namun kita memegang kendali penuh atas kekuatan kemudi perahu kita sendiri. Kebijakan moneter yang taktis dari regulator, yang di imbangi dengan efisiensi anggaran ketat oleh pemerintah, serta kehati-hatian finansial dari seluruh lapisan masyarakat, adalah modal utama agar perahu ekonomi kita tidak karam di antara kepungan dua raksasa finansial global ini. Selagi badai belum mereda, kompas ekonomi domestik harus tetap dijaga agar btetap lurus ke arah kemandirian dan stabilitas nasional.
Penulis:
Agnetika Saragih
Mahasiswa Universitas Medan Area
























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda