Breaking News
Memuat breaking news...

Rimpang di Madani Fest 2026, Hadirkan Film, Musik hingga Kolaborasi 35 Komunitas

Redaksi
Redaksi
Selasa, 6 Oktober 2026 - 11.49 AM WIB
Rimpang di Madani Fest 2026, Hadirkan Film, Musik hingga Kolaborasi 35 Komunitas
Taklimat media Madani Fest 2026 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Senin (5/10/2026).
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Madani International Film Festival (Madani Fest) 2026 kembali digelar dengan membawa gagasan tentang gerakan budaya yang tidak tumbuh dari satu pusat. Mengusung tema “Rimpang: Menjalar, Menyembuhkan”, festival ini akan berlangsung pada 7–11 Oktober 2026 di berbagai ruang di Jakarta.

Tema rimpang dipilih sebagai metafora tentang cara pengetahuan, kebudayaan, dan komunitas tumbuh secara menyebar, saling terhubung, dan saling menguatkan. Seperti tanaman rimpang yang menjalar di bawah tanah, Madani Fest ingin mempertemukan berbagai gagasan dan kelompok tanpa harus bertumpu pada satu pusat.

Festival Director Madani Fest 2026, Ahmad Rifky, mengatakan gagasan tersebut diterjemahkan dalam program yang menghubungkan berbagai kawasan, komunitas, dan perspektif.

“Implementasi rimpang dalam programming film tahun ini wujudnya adalah keterhubungan. Kita tidak cuma menayangkan film dari satu kawasan, tapi menghubungkan film-film Asia Tenggara, program Indies World, Madani Kids untuk penonton muda, hingga kolaborasi lintas lembaga,” kata Ahmad dalam keterangannya, Selasa (6/10/2026).

Madani Fest 2026 tidak hanya berisi pemutaran film. Festival ini mengembangkan tiga rumpun program utama, yakni Ideas, Film, dan Performance, yang mencakup diskusi, workshop, master class, pameran, peluncuran buku, musik, teater, monolog, tari, kompetisi film pendek, retrospeksi, hingga berbagai program kolaboratif.

Board Madani Fest, Inayah Wahid, mengatakan semangat rimpang juga menggambarkan kebutuhan untuk membangun gerakan yang saling menopang.

“Dia enggak tumbuh ke atas aja satu, tetapi menjalar, saling menopang, dan menguatkan dari dalam tanah,” ujar Inayah.

Salah satu program yang menarik perhatian adalah kolaborasi Madani Fest dengan Efek Rumah Kaca (ERK). Dalam program ini, ERK menghadirkan set bertajuk “Rimpang” dan mengajak sejumlah musisi serta seniman, antara lain Harlan Boer, Bing Renang, Denisa, Adrian Yunan, Bin Idris, Dialita, Made Mawut, dan Surise WP. Kolaborasi juga melibatkan seniman bebunyian eksperimental seperti Division Fracture, IcutNoise, Hvft, Wangun, Individual Distortion, dan Sawah Penderitaan.

Sejumlah film yang memiliki keterkaitan dengan musik dan semangat rimpang turut diputar, di antaranya Galura Tropikalia Alive tentang The Panturas, A Distorted Individual, Muman Minggil, serta Sekeping Kenangan.

Madani Fest juga menggandeng Mizan dan Kenduri Cinta dalam program Madani x Mizan x Kenduri Cinta yang menghadirkan penampilan khusus Haddad Alwi bersama Kiai Kanjeng, pemutaran film dokumenter Haddad Alwi, serta diskusi bersama Haddad Alwi dan Sabrang.

Sementara itu, program Nasyidmorphosis akan membahas perkembangan musik nasyid melalui format performance lecture dan diskusi bersama sejumlah nama, termasuk Opick, SNADA, Izzatul Islam, Ebith Beat A, dan Agus Idwar.

Madani Fest 2026 juga menghadirkan sejumlah program yang mengajak publik membaca kembali tokoh, sejarah, dan warisan kebudayaan. Festival memperingati 100 tahun Asrul Sani melalui pameran, pemutaran film, dan diskusi bersama Eric Sasono serta Umi Lestari.

Ada pula retrospeksi dan pameran arsip untuk mengenang Yuki Aditya yang digelar bekerja sama dengan Arkipel dan Forum Lenteng.

Bersama UIN Jakarta, Madani Fest mengangkat 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari melalui pemutaran dokumenter Syekh Yusuf Al-Makassari: In the Blessing of Ceylon serta diskusi mengenai perjuangan dan warisan intelektual-spiritual tokoh tersebut.

Sementara bersama COMPOSE UIII, festival menghadirkan diskusi tentang John L. Esposito bertajuk “Islamophobia: Myth or Reality? An Espositian Critique”.

Bahas Perempuan Muslim hingga Global Sumud Flotilla

Rangkaian Madani Talks juga menghadirkan berbagai isu kontemporer dari beragam perspektif. Salah satunya diskusi Intersectionality of Muslim Women in Indonesia bersama Feby Indirani, Neng Dara Affiah, dan Anis Hidayah.

Ada pula diskusi Alih Wahana Novel Islam ke Film bersama Helvy Tiana Rosa dan Inaya Rakhmani, serta Membaca Betawi dalam Musik bersama rapper Betawi Kojek dan pengamat musik Stanley Tulung.

Madani Fest turut mengangkat isu Global Sumud Flotilla melalui diskusi bertajuk Untold Story: Global Sumud Flotilla bersama Bambang Noroyono, Wanda Hamidah, dan Thoudy Badai.

Melibatkan 35 Komunitas dan Institusi

Semangat “Rimpang” juga diwujudkan melalui jejaring kolaborasi. Sedikitnya 35 komunitas dan institusi terlibat dalam Madani Fest 2026, mulai dari Kenduri Cinta, Arkipel, Forum Lenteng, perguruan tinggi, komunitas buku dan seni, hingga Mizan Pictures.

Kolaborasi tersebut melahirkan beragam kegiatan, seperti dramatic reading buku Tubuh yang Tumbuh karya Feby Indirani bersama Teater Ghanta, pemutaran film Anti-Corruption Film Festival bersama KPK, pemutaran dan workshop bersama Festival Film Santri, hingga peluncuran buku bersama Marjin Kiri.

Madani Fest juga berkolaborasi dengan Jakarta Book Party, Cafe Rumi, Majelis Sayur, Alitra Publishing, Analooks.id, dan Kaiku.id.

Menurut penyelenggara, jaringan tersebut diharapkan membuat festival tidak berhenti di ruang pemutaran film, tetapi terus tumbuh melalui percakapan dan kerja bersama antarkomunitas.

1.546 Film Masuk

Sebagai festival berbasis sinema, film tetap menjadi salah satu program utama Madani Fest 2026. Film The Stories (2025) dijadwalkan menjadi film pembuka, sedangkan Chronicles from the Siege (2026) menjadi film penutup.

Puluhan film dari berbagai negara dan perspektif turut masuk dalam program, antara lain Cutting Through Rocks, A Fox Under a Pink Moon, The Worker’s Cup, Shape of the Moon, Cotton Queen, Position Among the Stars, Black Rabbit, White Rabbit, The President’s Cake, Edward Said Between Worlds, dan Rehearsals for a Revolution.

Sejak 2022, Madani Fest membuka pengiriman film dari filmmaker berbagai negara melalui FilmFreeway. Pada 2026, tercatat 1.546 film masuk ke festival tersebut.

Selain program film dan seni, Madani Fest 2026 juga memberikan penghargaan dalam tiga kategori, yakni Tokoh Madani 2026, Madani Kids Award 2026, dan Film Madani Award 2026.

Madani International Film Festival merupakan festival film dan kebudayaan yang diinisiasi Mizan dan Pabrik Kultur. Festival ini menempatkan sinema sebagai ruang perjumpaan untuk membicarakan kehidupan masyarakat Muslim, kewargaan, peradaban, serta kota.

Melalui tema “Rimpang: Menjalar, Menyembuhkan”, Madani Fest 2026 hendak membangun festival sebagai jaringan kebudayaan yang hidup—menjalar melalui film, gagasan, seni, ruang kota, dan komunitas.(id11)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement