Aceh–Malaysia dalam Manuskrip Masa Lalu

BANDAACEH: ( Waspada.id); Sebuah manuskrip masa lalu Aceh diserahkan kepada Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh, Piet Rusdhi. Penyerahan khazanah sejarah ini berlangsung di sela acara "Maulid Nabi Muhammad SAW & Silaturahmi Cendekiawan Aceh" di Azana Oasis Hotel, Lueng Bata, Banda Aceh, Sabtu, 26 September 2026. Acara maulid ini merupakan inisiasi bersama antara ICMI Orda Banda Aceh dan Tawakkal Specialist Hospital Malaysia.

Mohd Khairuddin bin Khudri, Head of Health Tourism Tawakkal Specialist Hospital Malaysia menunjukkan manuskrip Aceh kepada Piet Rusdhi, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh. (Foto: RRI)
Manuskrip tersebut diserahkan langsung oleh Mohd Khairuddin bin Khudri, Head of Health Tourism Tawakkal Specialist Hospital Malaysia. Di balik jabatannya di industri wisata medis, Mohd Khairuddin bin Khudri memiliki rekam jejak panjang dalam pelestarian manuskrip masa lalu Nusantara.
Pada 2024, ia tercatat sebagai narasumber Workshop Digitalisasi Manuskrip Melayu yang diselenggarakan oleh Universitas Andalas bekerja sama dengan PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jauh sebelum itu, namanya juga tercatat dalam prosiding Seminar Antarabangsa Kebudayaan Adat Minangkabau (2022) sebagai pemilik manuskrip Tambo Alam Minangkabau.
Latar belakang inilah terjadinya serah terima manuskrip di tengah acara “Maulid Nabi Muhammad SAW & Silaturahmi Cendekiawan Aceh” yang mengusung tema “Membangun SDM Sehat untuk Memperkuat Ekonomi Ummat” tersebut. Mohd Khairuddin bin Khudri memposisikan penyerahan manuskrip sebagai bukti fisik dari gagasan besarnya mengenai jembatan penghubung antara Aceh dan Malaysia; pentingnya membangun kemandirian ekonomi umat.
Empat Jembatan
Mohd Khairuddin bin Khudri dalam sambutannya mencetuskan metafora “jembatan” yang ia ulang beberapa kali. Baginya, pertemuan dalam Maulid menjadi jembatan (penghubung) ikatan persaudaraan sesama Muslim yang akan berlanjut hingga akhirat.
Dari titik itu, ia menurunkan gagasan konkretnya: hubungan Aceh–Malaysia adalah rangkaian jembatan — jembatan silaturahmi, jembatan ilmu, jembatan menuju akhirat, dan jembatan pertukaran khazanah. Jembatan keempat inilah yang secara langsung menjelaskan mengapa manuskrip itu diserahkan hari itu: manifestasi paling nyata dari gagasan yang ia sampaikan.
Dari Jihad Intelektual ke Jihad Ekonomi
Menyinggung sejarah Aceh sebagai pusat tradisi keilmuan dan jaringan ulama yang pernah ia saksikan langsung lewat persahabatannya dengan pelajar-pelajar Aceh di Yordania dan Mesir, Mohd Khairuddin bin Khudri menyebut warisan itu sebagai bentuk “jihad intelektual” yang menurutnya kini menurun dan perlu dihidupkan kembali — kali ini dalam bentuk lain: jihad ekonomi.
Ia menegaskan istilah itu merujuk pada kesungguhan membangun ekonomi umat: menciptakan lapangan kerja, bukan sekadar menyalurkan sedekah.
“Uang yang kita beri sepuluh ribu akan habis. Tapi kalau kita beri dia pekerjaan, itu akan terus berkembang,” katanya, mencontohkan bagaimana Malaysia — yang menurutnya sempat menghadapi dominasi ekonomi kelompok nonmuslim — mendorong para profesional Muslim membangun institusi sendiri.
Contoh yang ia bawa adalah jejak kariernya sendiri: dari lulusan komputer, mengaji di lingkungan Al-Azhar dan belajar syariah di Yordania, kembali ke Malaysia sebagai dosen, hingga bergabung dengan KPJ Healthcare Bhd — yang menurut penuturannya tumbuh dari satu rumah sakit menjadi 30 rumah sakit spesialis, termasuk Tawakkal Specialist Hospital tempatnya kini menjabat sebagai Head of Health Tourism.
Kesehatan sebagai Bagian dari Ekonomi Umat
Bagi Mohd Khairuddin bin Khudri, sektor kesehatan bukan topik terpisah dari jihad ekonomi, melainkan bagian dari iktikad yang sama: masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang produktif, dan produktivitas itulah yang menopang ekonomi umat.
Ia mendorong pemeriksaan kesehatan preventif, terutama sejak usia 40 tahun, dengan analogi tahapan penyakit dari satu hingga sepuluh. “Banyak dari Aceh yang datang berobat sudah di tahap sepuluh. Kita ingin mengubah itu — cukup di tahap lima,” ujarnya, seraya menyebut pengalamannya menangani pasien dari Aceh, Arab Saudi, Oman, hingga Somalia.
Dari pengamatannya soal jarak dan biaya, ia menyebut program “hybrid health talk” — konsultasi kesehatan daring bersama dokter-dokter di Malaysia untuk masyarakat Aceh — sebagai bentuk kerja sama yang sudah berjalan dengan mitra-mitra di Aceh, tanpa mengharuskan warga bepergian ke Malaysia.
Mohd Khairuddin bin Khudri menyebut dirinya masih terus belajar dari Aceh—dari adat istiadat hingga kekayaan keilmuannya. Dan, lewat perantara manuskrip masa lalu Aceh, menjadi saksi bahwa khazanah masa lalu Aceh bukan sekadar sejarah, melainkan jembatan menuju kerja sama masa kini Aceh-Malaysia: membangun ekonomi umat.
Santunan hingga Diskusi

Foto bersama anak yatim usai pemberian santunan. (Foto: RRI)
Selain paparan Mohd Khairuddin bin Khudri, acara turut menghadirkan Muhamad Muszaki bin Mohd Ozir, Managing Director An-Najwa Travel and Tours Sdn Bhd, yang membawakan tema Sinergi layanan kesehatan, perjalanan, dan pendidikan bagi kesejahteraan umat, serta Prof. Dr. Djamaluddin Idris, M.Ed, Guru Besar Manajemen dan Evaluasi Pendidikan UIN Ar-Raniry Banda Aceh, yang membahas pembangunan sumber daya manusia unggul sebagai kunci penguatan ekonomi umat. Ketiga paparan itu ditutup dengan sesi dialog bersama peserta.

Foto bersama penyelenggara ICMI Orda Banda Aceh dan Perwakilan KPJ Healthcare Aceh. (Foto: dok. untuk RRI)
Acara maulid tersebut dibuka oleh Iskandar Nurdin selaku Ketua ICMI Orda Banda Aceh. Dilanjutkan dengan sesi pemberian santunan kepada anak yatim. Lalu seminar yang dipandu moderator Wery, S.E., M.A, dan ditutup makan-makan bersama.(Id12)
















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda