Apriadi Memegang Amanah, Masjid Menjaga Cahaya

Jika sebuah gampong diibaratkan tubuh, maka masjid adalah jantungnya. Dari sanalah denyut ibadah, ilmu dan ukhuwah mengalir ke tengah masyarakat. Di Masjid Istiqamah Gampong Blang Paseh, Kota Sigli, cahaya pengabdian kembali dinyalakan.
Ratusan masyarakat Gampong Blang Paseh berkumpul di Masjid Istiqamah, Selasa (29/9) malam, dalam musyawarah pemilihan Ketua Badan Kemakmuran Masjid (BKM). Dalam musyawarah tersebut, Apriadi Ahmad terpilih secara aklamasi sebagai Ketua BKM Masjid Istiqamah untuk masa bakti 2026–2029.
Kepercayaan itu tidak tumbuh seperti embun yang datang tiba-tiba. Ia tumbuh dari perjalanan amanah yang telah dijalani Apriadi selama sekitar 2,5 bulan sebagai Plt Ketua Harian BKM Masjid Istiqamah.
Sebelumnya, pengurus lama mengundurkan diri karena kesibukan sehingga tidak lagi dapat mengelola masjid secara maksimal. Masyarakat kemudian menunjuk Apriadi untuk mengisi ruang pengabdian tersebut.
Dua setengah bulan menjadi cermin bagi masyarakat untuk melihat bagaimana amanah itu dijalankan. Hingga akhirnya, dalam musyawarah tersebut, kepercayaan itu kembali diletakkan di pundaknya melalui pemilihan secara aklamasi.
Bagi Apriadi, memimpin BKM bukan sekadar mengurus bangunan, jadwal kegiatan atau administrasi. Amanah itu ibarat memegang lentera di tengah perjalanan—cahayanya harus dijaga agar tetap menerangi jalan bersama.
“Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan masyarakat. Mari kita sama-sama mengurus sebaik-baik tempat di atas bumi yang sangat Allah cintai, yaitu masjid,” kata Apriadi.
Ia mengajak masyarakat menjadikan Masjid Istiqamah bukan hanya tempat mendirikan salat, tetapi juga rumah bagi ukhuwah, tempat silaturahmi dipererat dan kebersamaan dirajut.

Sebab, masjid yang hanya ramai ketika azan berkumandang ibarat pelita yang hanya dinyalakan sesaat. Menurut Apriadi, masjid harus terus hidup melalui ilmu, pembinaan, kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama.
“Masjid selain sebagai tempat ibadah dan salat, mari juga kita jadikan tempat membangun hubungan ukhuwah yang baik sesama kita,” ujarnya.
Apriadi juga menaruh perhatian pada generasi muda. Menurutnya, anak-anak muda adalah benih masa depan yang harus disemai dengan ilmu agama dan keteladanan.
Karena itu, Masjid Istiqamah diharapkan menjadi ruang pengkaderan generasi muda. Pelatihan azan dan kegiatan keagamaan lainnya akan didorong sebagai bagian dari upaya tersebut.
“Insya Allah, masjid juga kita jadikan tempat pengkaderan generasi muda dalam penerapan ilmu agama yang kuat,” katanya.
“Generasi muda yang punya potensi akan kita latih, termasuk pelatihan azan dan kegiatan lainnya. Intinya, mari kita makmurkan masjid,” lanjutnya.
Apriadi juga menegaskan, manajemen masjid selama periode 2026–2029 harus dijalankan secara baik dan sesuai dengan fungsi masjid.
Enam Formatur
Untuk menyusun kepengurusan BKM secara lengkap, masyarakat menetapkan enam orang formatur.
Mereka terdiri atas Munirwan, Ketua DPC PPP Pidie; H. Ahmadi, mantan anggota DPRK Pidie/Pijay; Zulkarnain, mantan Camat Simpang Tiga, Zulkarnain, Geuchik Gampong Blang Paseh, Tgk Yani, Khatib Masjid Istiqamah Blang Paseh, dan Tgk Ridha, Imum Chiek.
Dua nama Zulkarnain tersebut dibedakan berdasarkan perannya, yakni Zulkarnain, mantan Camat Simpang Tiga, dan Zulkarnain, Geuchik Gampong Blang Paseh.
Keenamnya akan membantu menyusun struktur kepengurusan BKM periode 2026–2029 agar roda organisasi dapat berjalan dengan pembagian tugas yang jelas.
Mereka ibarat tangan-tangan yang membantu menegakkan sebuah rumah besar. Rumah itu bukan sekadar bangunan, melainkan tempat masyarakat bersujud, belajar, bersilaturahmi dan menanam harapan.
Bagi masyarakat Blang Paseh, kepengurusan baru bukan sekadar pergantian nama dalam sebuah susunan organisasi. Ia adalah ikhtiar untuk menjaga agar Masjid Istiqamah tetap menjadi jantung kehidupan gampong tempat manusia menundukkan kepala dalam sujud, meninggikan hati dengan ilmu, dan merajut kembali tali persaudaraan.
Masjid ibarat pelita di tengah malam. Cahayanya mungkin kecil, tetapi ketika dijaga bersama, ia mampu menerangi banyak langkah. Begitu pula kemakmuran masjid, tidak akan lahir dari tangan seorang ketua semata, melainkan dari hati masyarakat yang bersedia datang, membantu dan merasa memiliki.
Sebab masjid bukan hanya tempat batu dan dinding bertemu. Masjid adalah tempat iman ditanam, ukhuwah disiram, dan generasi disiapkan.
Jika generasi muda adalah benih, maka masjid adalah tanah tempat mereka disemai. Jika masyarakat adalah sebuah keluarga besar, maka masjid adalah rumah tempat pintu persaudaraan semestinya selalu terbuka.
Pada akhirnya, kepengurusan boleh berganti, nama boleh berganti, dan waktu terus berjalan. Namun cahaya masjid jangan sampai padam.
Sebab siapa yang menyalakan cahaya untuk rumah Allah, sesungguhnya ia sedang ikut menerangi jalan bagi sesama manusia. Dan siapa yang menanam kebaikan di halaman masjid hari ini, boleh jadi generasi esoklah yang akan berteduh di bawah rindangnya. WASPADA.id
Muhammad Riza















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda