Ekspor CPO Terancam Susut 4 Juta Ton, GAPKI Minta Sawit untuk Biodiesel Lebih Fleksibel

JAKARTA (Waspada.id): Ekspor crude palm oil (CPO) Indonesia berpotensi tertekan hingga 3-4 juta ton pada 2027. Lonjakan kebutuhan sawit untuk biodiesel, pangan dan oleokimia di tengah produksi yang cenderung stagnan membuat pasokan sawit untuk pasar ekspor semakin terbatas.
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menilai kondisi tersebut perlu diantisipasi dengan kebijakan biofuel yang lebih fleksibel. Alokasi sawit untuk biodiesel, menurut GAPKI, sebaiknya dapat disesuaikan dengan perkembangan harga minyak sawit dan minyak bumi.
Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sarjono mengatakan, ketika harga minyak bumi tinggi, penggunaan sawit untuk biodiesel dapat didorong melalui kebijakan subsidi. Namun, ketika harga minyak sawit lebih tinggi, sebagian pasokan sawit dapat dialihkan untuk ekspor.
"Kita dari pandangan GAPKI melihat bahwa mungkin akan lebih baik kalau kita menjadi pertimbangan untuk menerapkan kebijakan biofuel itu lebih fleksibel," kata Mukti dalam acara BIG Downstream Insights 2026 di Jakarta, Selasa (5/10).
"Pada saat harga minyak nabati atau harga minyak bumi itu sangat tinggi, mungkin subsidi. Tapi pada saat minyak sawitnya itu yang tinggi, ya kita ekspor lah itu. Jadi ini mirip-mirip kebijakan energi yang diterapkan oleh Brasil," lanjutnya.
Biodiesel Makan Pasokan Ekspor
Mukti menjelaskan peningkatan konsumsi sawit di dalam negeri, termasuk untuk biodiesel, berpotensi mempersempit pasokan yang tersedia untuk pasar ekspor.
Produksi sawit Indonesia dalam lima tahun terakhir relatif berada di kisaran 51-56 juta ton. Di sisi lain, kebutuhan domestik terus meningkat, baik untuk pangan, oleokimia maupun bahan bakar nabati.
Kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi penerimaan negara dari pungutan ekspor yang selama ini menjadi salah satu sumber pembiayaan subsidi biodiesel.
"Subsidi biodiesel itu bukan berasal dari APBN, itu berasal dari pungutan ekspor. Jadi kalau ekspornya itu turun, ya pungutan ekspornya mesti pendapatannya akan turun," ujarnya.
GAPKI memperkirakan penggunaan CPO untuk biodiesel akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Pada 2025, kebutuhan CPO untuk biodiesel tercatat sekitar 12,4 juta ton.
Angka tersebut diperkirakan meningkat menjadi lebih dari 14 juta ton pada 2026 dan berpotensi mencapai 17 juta ton pada 2027.
"Kalau tahun kemarin sekitar 12,4 juta ton, tahun 2026 kurang lebih akan mencapai 14 juta ton lebih, kemudian 2027 kemungkinan akan mencapai 17 juta ton CPO," katanya.
Dengan pertumbuhan produksi yang relatif terbatas sementara konsumsi dalam negeri meningkat, volume CPO yang tersedia untuk ekspor diperkirakan semakin menyusut.
"Kita sekarang terus terang volumenya menurun jadi kemungkinan tahun 2027 kita akan ada penurunan ekspor atau produksi yang bisa kita ekspor menurun sekitar 3-4 juta ton," terang Mukti.
GAPKI Usul Sawit Khusus Energi
GAPKI menilai peningkatan produktivitas menjadi salah satu solusi untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan domestik dan ekspor. Peremajaan sawit rakyat (PSR) dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas perkebunan, khususnya perkebunan rakyat.
Selain itu, GAPKI mengusulkan pemerintah membangun kawasan khusus pengembangan sawit yang diperuntukkan bagi kebutuhan energi.
Konsep dedicated area tersebut dinilai dapat memisahkan pasokan sawit untuk energi dengan kebutuhan pangan dan ekspor. Dengan begitu, peningkatan produksi biodiesel tidak secara langsung menggerus pasokan untuk dua kebutuhan lainnya.
"Kami mengusulkan kalau pemerintah bisa membuat dedicated area. Jadi pengembangan tanaman kelapa sawit yang khusus didedikasikan untuk energi. Terus yang melakukan tentunya pemerintah dan saya pikir juga sudah mulai di Papua," ujarnya.
Menurut Mukti, apabila konsep tersebut berhasil diterapkan, kebutuhan energi dapat dipenuhi tanpa mengganggu ketersediaan sawit untuk pangan maupun ekspor.
"Kalau ini berhasil, saya kira itu tidak akan mengganggu lagi kebutuhan untuk pangan atau untuk ekspor. Jadi semuanya akan berjalan smooth," pungkas Mukti. (cnni)


















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda