Breaking News
Memuat breaking news...

G7 Gelontorkan 100 Juta Barel Cadangan Solar untuk Redam Harga BBM

Redaksi
Redaksi
Minggu, 4 Oktober 2026 - 7.31 AM WIB
G7 Gelontorkan 100 Juta Barel Cadangan Solar untuk Redam Harga BBM
Foto ilustrasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Negara-negara anggota Group of Seven (G7) mengambil langkah besar untuk meredam lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) dengan melepas hingga 100 juta barel cadangan solar (diesel) ke pasar global.

Pelepasan cadangan darurat tersebut akan dimulai dalam waktu dekat dan berlangsung selama empat bulan. Langkah ini diharapkan mampu menambah pasokan solar sekaligus meredakan tekanan harga energi yang meningkat akibat gangguan pasokan dan konflik geopolitik.

Mengutip CNBC, Sabtu (3/10/2026), pasokan dalam skala besar akan digelontorkan selama 20 hari pertama melalui koordinasi Badan Energi Internasional (IEA).

Keputusan tersebut diambil setelah pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendesak negara-negara Eropa untuk memanfaatkan cadangan solar yang mereka miliki.

Pelepasan cadangan ini sekaligus menjadi alternatif dari rencana AS yang sebelumnya mempertimbangkan larangan ekspor solar untuk menekan harga bahan bakar di pasar domestik.

G7 Buka Keran Cadangan Energi

Selain melepas cadangan solar, para pemimpin G7 juga berkomitmen untuk tidak membatasi ekspor energi antarnegara anggota.

Mereka bahkan mengimbau seluruh produsen energi global agar tidak menerapkan larangan ekspor yang berpotensi memperburuk ketatnya pasokan dan memperkeruh kondisi pasar energi dunia.

Kelompok G7 terdiri dari AS, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Kanada, dan Jepang. Saat ini Prancis memegang presidensi G7, sementara Uni Eropa turut hadir dalam berbagai pertemuan kelompok tersebut.

Langkah koordinasi ini dilakukan ketika harga solar masih berada pada level tinggi di sejumlah pasar utama.

Hingga Jumat (2/10/2026), harga solar di AS tercatat rata-rata US$6,37 per galon atau sekitar Rp93.000 dengan asumsi kurs Rp17.890 per dolar AS.

Gangguan Pasokan Jadi Pemicu

Lonjakan harga solar dipicu oleh gangguan pasokan menyusul serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia. Tekanan semakin besar setelah konflik di Timur Tengah kembali memanas akibat perang dengan Iran.

Situasi tersebut membuat pasokan produk olahan minyak semakin ketat dan meningkatkan risiko kenaikan harga BBM di berbagai negara.

Sebelumnya, wacana AS untuk melarang ekspor solar telah menimbulkan kekhawatiran di Eropa. Ketergantungan Eropa terhadap pasokan dari AS cukup besar.

Data IEA mencatat, AS menyumbang sekitar separuh dari total impor solar Uni Eropa pada Agustus lalu.

Komisaris Perdagangan Uni Eropa, Maroos Sefcovic, menegaskan pentingnya kerja sama dengan AS untuk menurunkan harga solar dan produk migas lainnya.

Menurutnya, pembatasan ekspor oleh AS justru berpotensi memberikan dampak balik terhadap perekonomian Eropa.

IEA Pernah Siapkan 400 Juta Barel

Upaya menambah pasokan energi sebenarnya bukan pertama kali dilakukan tahun ini.

Pada Maret lalu, negara-negara anggota IEA telah sepakat menyalurkan 400 juta barel minyak mentah dan produk olahannya untuk menutupi kelangkaan pasokan yang terjadi akibat perang dengan Iran.

Dari total komitmen tersebut, Eropa menyumbang sekitar 107 juta barel, dengan 68% di antaranya berupa BBM.

Sementara kawasan Asia dan Oseania menyuplai 108 juta barel, terdiri dari 40% BBM dan 60% minyak mentah.

AS menjadi penyumbang terbesar dengan komitmen mencapai 172 juta barel yang seluruhnya berbentuk minyak mentah.

Pelepasan 100 juta barel cadangan solar oleh G7 kini menjadi langkah terbaru untuk menjaga keseimbangan pasokan. Jika distribusi berjalan sesuai rencana, tambahan pasokan tersebut diharapkan dapat mengurangi tekanan harga BBM sekaligus mencegah krisis energi semakin meluas. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement