Herna: Nilai Perjuangan TD Pardede Harus Tetap Diwariskan

MEDAN (Waspada.id): Direktur Hotel Danau Toba, Herna Pardede, menegaskan nilai perjuangan almarhum DR TD Pardede harus tetap diwariskan kepada generasi penerus, meski nantinya sebagian aset peninggalan tokoh tersebut mengalami perubahan bentuk maupun pengelolaan.
Menurut Herna, aset peninggalan TD Pardede bukan semata-mata memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menyimpan cerita dan perjuangan yang menjadi bagian penting dari sejarah keluarga. Karena itu, apa pun keputusan keluarga terhadap aset tersebut, nilai perjuangan dan cita-cita TD Pardede diharapkan tetap diteruskan kepada anak cucu.
"Memang semua aset ada cerita, ada perjuangan Opung (TD Pardede), ada nilai-nilainya, dan memang kami juga ingin sebagian masih kami miliki," kata Herna saat diwawancarai di sela acara Sumut Fashion Week 2026 di Plaza Medan Fair, Minggu (27/9).
Dia mengatakan, apabila nantinya aset mengalami perubahan bentuk, hal tersebut tidak berarti nilai perjuangan TD Pardede ikut hilang.
"Apapun itu nanti apabila asetnya pun berubah bentuk, tetapi nilai perjuangan dan cerita bahwa kami adalah keluarga yang lahir dari perjuangan seorang TD Pardede yang mempunyai sebuah mimpi besar, bahwa dia mau berjuang untuk masyarakat, untuk keluarga, itu yang kami ingin sekali wariskan ke anak cucu kami, yaitu perjuangannya dan juga nilai-nilainya," ujarnya.
Herna mengakui pembahasan mengenai masa depan aset peninggalan TD Pardede bukan perkara sederhana. Banyaknya anggota keluarga yang terlibat membuat proses pengambilan keputusan membutuhkan musyawarah dan kesepakatan bersama.
"Kalau kita lihat memang rumit, karena sudah terlalu banyak kepala. Tapi kita mau mencari cara walaupun misalnya asetnya itu berubah bentuk, tetapi nilai dan cerita yang ada di dalamnya itu tetap diwariskan ke generasi selanjutnya," katanya.
Menurut Herna, keluarga saat ini masih mempertimbangkan berbagai pilihan terhadap aset-aset peninggalan tersebut. Ada aset yang kemungkinan dipertahankan, dilanjutkan oleh ahli waris tertentu, maupun dijual dan hasilnya dibagikan.
"Memang kita harus musyawarah. Karena memang masih banyak ego-ego yang mungkin ingin lebih sedikit, ada yang mau ini, mau itu. Sebenarnya itu bisa saja, tetapi kadang-kadang memang keluarga saya ini masih tergantung mood-nya, jadi enggak selesai-selesai," ujarnya.
Herna mengatakan, salah satu opsi yang dibicarakan keluarga adalah melakukan appraisal terhadap seluruh aset terlebih dahulu. Dengan mengetahui nilai masing-masing aset, pembagian kepada ahli waris dapat dilakukan berdasarkan nilai ekonominya.
"Sebenarnya kita sekarang ini sudah banyak berbicara tentang mau menjual aset. Cuma ternyata menjual aset itu waktunya sangat lama. Satu aset bisa 10 tahun," ungkapnya.
Karena itu, menurut Herna, pembagian aset berdasarkan hasil appraisal dapat menjadi alternatif. Jika ada anggota keluarga yang masih ingin mempertahankan aset tertentu, aset tersebut dapat diberikan kepada yang bersangkutan dengan nilai yang diperhitungkan dari bagian warisnya.
"Kalau misalnya semua aset di-appraise, kemudian nanti berapa masing-masing harus dapat, itu tinggal dibagi nilainya. Kemudian, mana tahu ada aset yang masih ingin dipertahankan sama satu keluarga, itu nanti tinggal dipotong dan dibagi saja," katanya.
Herna menilai mekanisme tersebut memungkinkan pembagian dilakukan secara lebih proporsional, baik dalam bentuk aset maupun uang.
"Natural, dan juga uang. Setelah dijual, bagi rata," ujarnya.
Herna berharap aset peninggalan TD Pardede tetap mempunyai arti dan manfaat bagi generasi berikutnya. Menurutnya, kebutuhan generasi terus berubah sehingga keluarga perlu mencari bentuk pengelolaan yang sesuai dengan perkembangan zaman.
"Kami harus mencari cara bagaimana aset ini mempunyai arti dan mempunyai nilai lagi untuk generasi selanjutnya. Karena kan generasi sudah berubah, terus juga kebutuhan, waktu juga terus berjalan, dan kebutuhan generasi saat ini berbeda," katanya.
Dia berharap aset tersebut dapat menjadi modal bagi anak cucu untuk membangun kehidupan dan bidang masing-masing.
"Mudah-mudahan itu menjadi modal agar anak cucu juga bisa merasakan modal yang sudah diberikan Opung kami," ujarnya.
Terkait posisinya sebagai bagian dari jajaran direksi, Herna mengakui pengelolaan perusahaan keluarga memiliki dinamika tersendiri. Menurutnya, secara teori pengelolaan perusahaan harus dilakukan secara transparan dan sesuai ketentuan, namun dalam praktiknya hubungan keluarga juga menjadi bagian dari dinamika pengambilan keputusan.
"Memang secara teori seperti itu. Cuma kalau namanya PT keluarga itu memang agak sulit," katanya.
Dia juga mengakui adanya perbedaan pandangan bisnis di antara anggota keluarga. Namun, menurutnya, setiap anggota keluarga tetap memiliki tanggung jawab masing-masing dalam menjalankan usaha.
Dalam kesempatan tersebut, Herna juga membenarkan dirinya menjabat sebagai direktur di JSS, salah satu usaha keluarga yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit.
Menurut Herna, aset perkebunan tersebut juga tengah dipertimbangkan untuk dijual. Bahkan, menurutnya, terdapat antusiasme dari masyarakat untuk membeli aset tersebut.
"Iya, itu perkebunan kelapa sawit kami. Nah, itu juga sudah mau kami jual. Juga kami jual ke masyarakat, karena kebetulan masyarakat juga sangat antusias," katanya.
Herna mengatakan keputusan tersebut juga berkaitan dengan kemampuan keluarga dalam mempertahankan aset dan nilai ekonomis yang dapat diperoleh.
Dia berharap setiap keputusan mengenai aset dapat menjadi jalan keluar bagi generasi keluarga untuk melanjutkan kehidupan masing-masing tanpa terus terbebani persoalan warisan.
"Yang penting kalau untuk saya, saya ingin anak cucu saya punya modal, dia juga tidak terbelit dengan masalah-masalah keluarga ini. Jadi bisa move on, bisa fokus, dan masih saya yakin ada Opung TD Pardede baru nanti," ujarnya.
Herna menyebut keluarga besar TD Pardede berasal dari sembilan anak. Namun, seiring berjalannya waktu, sebagian dari sembilan anak tersebut telah meninggal dunia sehingga ahli waris kemudian berkembang ke generasi berikutnya.
Lebih jauh, Herna berharap seluruh persoalan terkait aset peninggalan TD Pardede dapat diselesaikan secara kekeluargaan, melalui musyawarah dan dengan memperhitungkan hak masing-masing ahli waris.
"Saya ingin semua masalah diselesaikan dengan baik-baik, dengan adil, juga bertujuan kekeluargaan. Siapa yang mau harta Opung, silakan, tinggal dikurangi nanti dari bagiannya yang lain," katanya.
Menurutnya, cara tersebut diharapkan membuat masing-masing anggota keluarga dapat menentukan pilihan tanpa harus terus memperpanjang persoalan mengenai aset.
"Jadi enak, semuanya jangan ada sandera-menyandera lagi dan semua bisa move on, bisa membangun sesuatu daripada hanya meributkan setiap hari rapat, rapat, rapat, tapi enggak tahu ujungnya ke mana," ujarnya.
Bagi Herna, yang paling penting dari seluruh proses tersebut adalah bagaimana warisan TD Pardede tidak berhenti pada kepemilikan aset secara material, tetapi juga terus hidup melalui nilai perjuangan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
"Yang kami ingin sekali wariskan ke anak cucu kami yaitu perjuangannya dan juga nilai-nilainya," pungkasnya.(Fes)
















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda