Imbal Hasil Surat Utang AS Tembus Level Tertinggi Sejak 2002

JAKARTA (Waspada.id): Pasar obligasi global kembali berada dalam tekanan. Imbal hasil atau yield surat utang pemerintah Amerika Serikat (AS) bertenor 10 tahun menembus level tertinggi dalam lebih dari dua dekade, di tengah aksi jual obligasi yang semakin meluas di berbagai negara.
Berdasarkan data LSEG, yield Treasury AS 10 tahun naik 4 basis poin menjadi 5,3338%, level yang terakhir terlihat pada April 2002.
Lonjakan tersebut menjadi sinyal meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal negara-negara besar, terutama ketika defisit anggaran terus melebar dan beban pembayaran bunga utang semakin tinggi.
"Ekonomi-ekonomi besar menghadapi defisit yang terus-menerus besar dan beban bunga yang meningkat, tantangan yang selama ini identik dengan negara-negara pasar berkembang yang terlilit utang," tulis Institute of International Finance, dikutip dari CNBC, Kamis (1/10/2026).
Kenaikan yield Treasury AS menjadi perhatian besar karena obligasi pemerintah AS merupakan salah satu acuan utama pasar keuangan global. Pergerakan yield tersebut turut memengaruhi biaya pinjaman mulai dari kredit perumahan, kendaraan hingga utang kartu kredit.
Dalam mekanisme pasar obligasi, harga dan yield bergerak berlawanan. Artinya, ketika yield meningkat, harga obligasi mengalami tekanan akibat aksi jual investor.
Tekanan bahkan tidak hanya terjadi pada Treasury 10 tahun. Yield Treasury AS bertenor 30 tahun melonjak 3 basis poin menjadi 5,6702%, sekaligus mencapai level tertinggi sejak Juli 2002.
Sementara itu, yield Treasury AS 2 tahun naik 2 basis poin menjadi 4,91%.
Tekanan Menjalar ke Pasar Obligasi Dunia
Kenaikan biaya pinjaman pemerintah telah berlangsung di berbagai negara selama beberapa bulan terakhir.
Investor semakin mencermati kemampuan pemerintah dalam mengendalikan defisit fiskal, terutama ketika inflasi masih menjadi persoalan dan suku bunga berada pada level yang relatif tinggi.
Di Jepang, yield obligasi pemerintah 10 tahun mencapai 3,126%, level tertinggi dalam tiga dekade terakhir. Pergerakan tersebut dipicu oleh pelemahan yen dan kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ).
Pasar obligasi Jepang menjadi perhatian investor global karena perubahan imbal hasil di negara tersebut dapat memengaruhi aliran modal dan kondisi pasar keuangan internasional.
Tekanan juga terasa di kawasan Eropa. Yield obligasi pemerintah Jerman atau bund 10 tahun yang menjadi acuan zona euro naik 4 basis poin menjadi 3,6179%, tertinggi sejak 2008.
Sejumlah negara Eropa lainnya mencatat kenaikan lebih tajam. Yield obligasi Prancis melonjak 11 basis poin menjadi 4,9501%, sedangkan Italia naik 10 basis poin menjadi 4,7171%.
Di Inggris, yield obligasi pemerintah 10 tahun juga meningkat 5 basis poin menjadi 5,483%.
Utang Global Tembus US$365 Triliun
Lonjakan yield obligasi terjadi ketika dunia menghadapi persoalan lain yang tak kalah serius, yakni membengkaknya utang global.
Sebelumnya, utang global meningkat sekitar US$10 triliun atau Rp179.155 triliun, dengan asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah sekitar Rp17.920, hanya dalam enam bulan pertama tahun ini.
Dengan tambahan tersebut, total utang global telah menembus US$365 triliun.
Kondisi ini meningkatkan risiko bagi pemerintah di berbagai negara karena semakin tinggi yield, semakin mahal pula biaya pembiayaan dan pembayaran bunga utang ketika pemerintah melakukan penerbitan atau melakukan refinancing.
Direktur Pelaksana International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva turut memperingatkan peningkatan utang global yang terjadi akibat berbagai guncangan ekonomi.
Georgieva menyampaikan pandangan tersebut dalam wawancara dengan BBC pada pekan ini.
"Guncangan terhadap ekonomi global mendorong tingkat utang naik seperti tangga menuju sesuatu yang bukan surga,” ujar Georgieva dilansir dari CNBC, Minggu (27/9/2026).
Menurut Georgieva, pemerintah perlu mengambil langkah untuk menurunkan tingkat utang sekaligus menempatkan konsolidasi fiskal sebagai salah satu prioritas.
Ia juga menekankan pentingnya bank sentral tetap menjalankan mandat untuk menjaga stabilitas harga.
“Ada dua hal yang harus dilakukan, yaitu menurunkan tingkat utang dan menjadikan konsolidasi fiskal sebagai prioritas serta memastikan bank sentral menjalankan mandatnya untuk menjaga stabilitas harga,” kata Georgieva. (Lip6)
















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda