Breaking News
Memuat breaking news...

Mata Uang Iran Anjlok ke Rekor Terendah, Rupiah Ikut Dibayangi Tekanan Dolar AS

Redaksi
Redaksi
Selasa, 29 September 2026 - 6.45 AM WIB
Mata Uang Iran Anjlok ke Rekor Terendah, Rupiah Ikut Dibayangi Tekanan Dolar AS
Foto ilustrasi Dolar AS
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Mata uang Iran, rial, kembali berada di bawah tekanan hebat. Nilai tukarnya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) anjlok ke level terendah dalam sejarah di tengah tingginya inflasi dan tekanan sanksi ekonomi yang masih membayangi perekonomian negara tersebut.

Berdasarkan data pashizi.com, situs yang memantau pasar valuta asing bebas di Iran, nilai tukar jual dolar AS di pasar bebas Iran mencetak rekor tertinggi hingga menyentuh 2,4 juta rial.

Mengutip Anadolu, Senin (28/9/2026), pelemahan tajam rial terjadi ketika Iran menghadapi tekanan ekonomi akibat sanksi berat dari AS. Kondisi tersebut diperparah oleh inflasi tahunan yang mencapai 61,4%.

Tekanan terhadap masyarakat juga tercermin dari lonjakan harga pangan. Data resmi menunjukkan harga bahan pangan di Iran melonjak hingga 128,1% secara tahunan (year-on-year).

Kondisi tersebut menunjukkan besarnya tekanan yang dihadapi perekonomian Iran, khususnya dari sisi daya beli masyarakat dan stabilitas nilai tukar.

Rupiah Ikut Dibayangi Penguatan Dolar AS

Tekanan terhadap mata uang Iran menjadi gambaran betapa kuatnya pengaruh dolar AS terhadap mata uang negara berkembang ketika kondisi global mengalami gejolak.

Di Indonesia, Bank Indonesia (BI) juga mewaspadai potensi tekanan terhadap rupiah akibat penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil aset Amerika Serikat, serta pergeseran arus modal dari negara berkembang menuju negara maju.

Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti mengatakan, kondisi global yang masih diwarnai kebijakan moneter ketat dan fenomena higher for longer berpotensi memberikan tekanan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.

"Kita akan menghadapi situasi atau fenomena yang dinamakan higher for longer, yang pada akhirnya memberikan tekanan kepada negara emerging market, khususnya terkait aliran modal yang masuk ke negara emerging market, termasuk Indonesia," ujar Destry dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senin (28/9/2026).

Menurut Destry, penguatan dolar AS terjadi ketika kebijakan moneter global masih ketat. Kondisi tersebut membuat aset-aset Amerika Serikat menjadi lebih menarik bagi investor.

Akibatnya, terdapat risiko terjadinya arus keluar modal dari pasar negara berkembang. Jika berlangsung dalam skala besar, kondisi tersebut dapat memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang lokal, termasuk rupiah.

Rupiah Melemah 0,78%

Bank Indonesia mencatat nilai tukar rupiah berada di level Rp17.855 per US$ pada 22 September 2026. Posisi tersebut melemah 0,78% dibandingkan akhir Agustus 2026.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus tetap menopang pertumbuhan ekonomi, BI mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75%.

"Bank Indonesia akan merespons tantangan tersebut melalui bauran kebijakan yang adaptif dan terintegrasi," tegas Destry.

BI Perkuat Strategi Membentengi Rupiah

Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI memperkuat intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi NDF (Non-Deliverable Forward) di pasar offshore, serta transaksi spot dan DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) di pasar domestik.

Bank sentral juga memperluas insentif lindung nilai atau hedging. Kebijakan tersebut diarahkan untuk mendorong masuknya modal asing sekaligus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.

Selain itu, BI terus memperluas kerja sama transaksi Local Currency Transaction (LCT) dengan negara-negara mitra. Langkah tersebut ditujukan untuk mengurangi ketergantungan transaksi terhadap dolar AS.

Penguatan kerja sama tersebut juga dilakukan dengan menambah likuiditas mata uang lokal, seperti yuan dan yen, di pasar uang maupun pasar valuta asing.

Harga Minyak Dunia Tambah Tekanan

Tekanan terhadap rupiah juga meningkat seiring lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak tercatat mencapai US$125,53 per barel pada 24 September 2026.

Kenaikan harga minyak menjadi tambahan risiko bagi perekonomian Indonesia karena dapat meningkatkan tekanan inflasi sekaligus memperlebar tekanan terhadap neraca eksternal.

Meski demikian, sebelum kembali menghadapi tekanan akibat meningkatnya ketidakpastian global, Bank Indonesia mencatat rupiah sempat bergerak menguat sepanjang Agustus hingga pertengahan September 2026.

Pergerakan rupiah selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh dinamika dolar AS, imbal hasil aset Amerika Serikat, arus modal global, harga komoditas, serta perkembangan geopolitik yang memengaruhi pasar keuangan dunia. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement