Breaking News
Memuat breaking news...

Mengenal Penyakit Parkinson: Bukan Sekadar Tangan Gemetar, Kenali Gejalanya Sejak Dini

Redaksi
Redaksi
Kamis, 15 Oktober 2026 - 3.23 PM WIB
Mengenal Penyakit Parkinson: Bukan Sekadar Tangan Gemetar, Kenali Gejalanya Sejak Dini
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) sekaligus Dokter Spesialis Bedah Saraf, dr. Tommy Rizky Hutagalung, MKed, Sp.BS, FINPS, FMD,
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

MEDAN (Waspada.id): Penyakit Parkinson kerap dianggap sebagai kondisi biasa yang ditandai dengan tangan gemetar, terutama pada kelompok lanjut usia. Padahal, gangguan saraf progresif ini memiliki gejala yang jauh lebih luas, mulai dari gerakan tubuh melambat, otot kaku, gangguan keseimbangan, hingga perubahan suasana hati dan masalah tidur.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) sekaligus Dokter Spesialis Bedah Saraf, dr. Tommy Rizky Hutagalung, MKed, Sp.BS, FINPS, FMD, menjelaskan bahwa Parkinson bukan sekadar persoalan tremor atau tangan yang bergetar. Penyakit ini dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan penderitanya, termasuk kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari.

“Parkinson tidak hanya ditandai dengan tangan gemetar. Penderitanya juga dapat mengalami gerakan tubuh yang melambat, otot kaku, serta gangguan keseimbangan yang bisa memengaruhi kemandirian dalam beraktivitas,” demikian penjelasan mengenai gejala Parkinson berdasarkan materi edukasi yang disampaikan.

Selain gejala fisik, Parkinson juga dapat disertai gejala nonmotorik. Di antaranya gangguan tidur, sembelit, penurunan kemampuan penciuman, perubahan suasana hati atau depresi, hingga gangguan konsentrasi.

Gejala yang beragam tersebut membuat Parkinson perlu dikenali secara lebih menyeluruh. Masyarakat diharapkan tidak hanya memperhatikan munculnya tremor, tetapi juga mewaspadai perubahan fungsi tubuh yang terjadi secara bertahap, khususnya pada kelompok lanjut usia.

Kasus Parkinson Terus Meningkat

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah penderita Parkinson secara global meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 25 tahun terakhir. Penyakit ini menjadi salah satu gangguan neurologis yang pertumbuhannya semakin mendapat perhatian seiring bertambahnya usia populasi dunia.

Di Indonesia, jumlah orang yang hidup dengan Parkinson diperkirakan mencapai ratusan ribu jiwa. Kelompok usia di atas 60 tahun termasuk populasi yang paling rentan mengalami penyakit ini.

Meningkatnya jumlah kasus tersebut menjadi pengingat pentingnya pemahaman masyarakat mengenai Parkinson. Pengenalan gejala sejak dini dapat membantu penderita memperoleh pemeriksaan medis dan penanganan yang sesuai.

Pengobatan Parkinson Membutuhkan Penanganan Berkelanjutan

Meski Parkinson merupakan penyakit yang memerlukan penanganan jangka panjang, penderita tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan dukungan terapi yang tepat.

Pengobatan umumnya dilakukan menggunakan obat-obatan yang membantu mengatasi gangguan sistem dopamin di otak. Dopamin merupakan zat kimia yang berperan penting dalam mengatur gerakan tubuh. Pada penderita Parkinson, berkurangnya fungsi sel saraf penghasil dopamin berkontribusi terhadap munculnya gangguan gerak.

Selain obat-obatan, penanganan dapat dikombinasikan dengan latihan fisik, terapi okupasi, latihan bicara, serta pengaturan pola makan sehat sesuai kebutuhan pasien.

Dalam kondisi tertentu, ketika efektivitas obat mulai berkurang atau gejala tidak lagi terkontrol secara optimal, dokter dapat mempertimbangkan tindakan medis lanjutan, termasuk prosedur bedah tertentu. Pilihan penanganan tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi, gejala, dan hasil evaluasi medis setiap pasien.

Dukungan Keluarga Berperan Penting

Penanganan Parkinson tidak hanya bergantung pada pengobatan, tetapi juga membutuhkan dukungan keluarga dan pendampingan tenaga kesehatan. Keluarga dapat membantu memastikan pasien menjalani pengobatan secara teratur, tetap aktif sesuai kemampuan, serta memperoleh lingkungan yang aman untuk beraktivitas.

Pengenalan gejala sejak dini, pemeriksaan medis, dan kepatuhan terhadap terapi menjadi bagian penting dalam membantu menjaga kualitas hidup penderita.

"Dengan pemahaman yang lebih baik, Parkinson diharapkan tidak lagi dipandang sebatas penyakit yang menyebabkan tangan gemetar. Penanganan yang tepat dan dukungan berkelanjutan dapat membantu penderita mempertahankan kemandirian serta menjalani kehidupan dengan lebih nyaman," pungkasnya. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement