Breaking News
Memuat breaking news...

Secangkir Kopi dan Khotbah Bisu di Jalan Elak

Redaksi
Redaksi
Jumat, 2 Oktober 2026 - 10.33 AM WIB
Secangkir Kopi dan Khotbah Bisu di Jalan Elak
Beberapa pria usia renta silahturahmi dan ngopi pagi bersama di salah satu warung di Jalan Elak, Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Jumat (2/10/26).Waspada.id/Maimun Asnawi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Pagi itu, aroma arabika yang kuat menyeruak di salah satu sudut kedai kopi di kawasan Jalan Elak, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Namun, bukan segelas kopi pancung atau riuhnya diskusi politik pagi yang menarik perhatian saya. Pandangan saya justru tertuju pada pintu masuk kedai.

Satu per satu, sekelompok lelaki berusia di atas 60 tahun berjalan masuk. Langkah mereka tidak lagi tegap. Beberapa di antaranya berjalan tertatih-tatih, bertumpu berat pada kaki yang mulai gemetar.

Bahkan, ada yang harus memegang erat lengan kawannya, saling memapah agar bisa sampai ke meja besi beralaskan granit tempat mereka biasa berkumpul dan bercerita.

Menyaksikan pemandangan itu, waktu rasanya mendadak melambat. Ada sesuatu yang menghantam dada saya dengan keras.

Di hadapan saya, terpampang sebuah khotbah bisu di pagi Jumat (2/10/26) yang sangat bertenaga tentang hakikat kehidupan.

Lelaki-lelaki tua itu mengingatkan saya—dan kita semua yang masih muda—bahwa kekuatan fisik yang kita banggakan hari ini memiliki tanggal kedaluwarsa.

Tamu yang Pasti Pergi

Mudah bagi kita yang berdarah muda untuk merasa "abadi". Kita merasa otot yang kencang, mata yang tajam, dan energi yang tak habis-habis ini adalah milik kita sepenuhnya. Padahal, dalam sudut pandang Islam, semuanya hanyalah pinjaman dengan batas waktu.

Nabi Muhammad SAW empat belas abad lalu sudah membunyikan alarm ini lewat sabdanya:

“Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, dan masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu.” (HR. Al-Hakim).

Masa muda dan kesehatan adalah tamu yang pasti akan pamit. Masalahnya, kita sering memperlakukan tamu ini seolah-olah mereka akan bertamu selamanya. Kita menunda taubat, menunda salat di awal waktu, dan menunda berbuat baik, dengan asumsi "nanti saja kalau sudah tua."

Ketika Ibadah Menjadi Kepayahan

Perenungan di Jalan Elak pagi itu membawa satu kesimpulan pahit: penyesalan terbesar di usia senja sering kali bukan tentang dunia yang gagal kita genggam, melainkan tentang akhirat yang lupa kita tanam.

Bayangkan sebuah penyesalan ketika hati begitu rindu untuk bersujud panjang, namun lutut dan sendi sudah terlampau nyeri untuk ditekuk. Bayangkan saat mata ingin berlama-lama menatap mushaf Al-Qur'an, namun huruf-hurufnya sudah kabur berbayang.

Di usia senja, jangankan untuk mengejar ibadah-ibadah sunnah yang berat, untuk menunaikan yang wajib saja sudah butuh perjuangan dan kepayahan yang luar biasa.

Sungguh rugi jika masa muda yang berenergi ini habis hanya untuk nongkrong tanpa arah, menggulirkan layar media sosial tanpa batas, atau mengejar karier hingga melupakan Sang Pencipta. Kita lupa bahwa tulang-tulang yang hari ini kuat dipakai berolahraga dan bekerja, suatu saat akan melemah dan rapuh.

Mengembalikan "Pinjaman" dalam Kondisi Terbaik

Melihat orang tua yang saling memapah di kedai kopi itu bukanlah sekadar tontonan pagi. Itu adalah hidayah yang dikirimkan Allah agar kita yang muda segera berbenah.

Kesehatan dan masa muda adalah modal utama.

Jika modal ini habis kita bakar untuk hal-hal yang sia-sia, kita tidak akan punya apa-apa lagi saat menghadap-Nya nanti. Menjaga fisik agar tetap bugar bukan lagi soal estetika atau tren gaya hidup, melainkan bentuk ikhtiar agar kita bisa menyembah Allah dengan stamina terbaik.

Sebelum rambut memutih, sebelum langkah melambat, dan sebelum tubuh ini harus dipapah untuk menuju meja kopi atau tempat ibadah, mari pergunakan sisa "pinjaman" dari Allah ini dengan sebaik-baiknya. Karena tua itu pasti, namun mati dalam keadaan membawa bekal ibadah yang cukup adalah pilihan yang harus kita perjuangkan sejak hari ini. WASPADA.id

Maimun Asnawi, S.HI., M.Kom.I

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement