Tips Melamar Kerja di Era AI, Jangan Asal Kirim CV

JAKARTA (Waspada.id): Mencari pekerjaan di era kecerdasan buatan (AI) tidak lagi cukup hanya dengan mengirim sebanyak mungkin CV. Perubahan teknologi membuat perusahaan semakin selektif, sementara penggunaan AI dalam proses rekrutmen juga mengubah cara pelamar bersaing mendapatkan pekerjaan.
Survei terbaru ZipRecruiter terhadap lebih dari 1.500 pencari kerja pada 25 Juli hingga 12 Agustus 2026 menunjukkan 55% pelamar merasa perekrut kini lebih menguasai pasar kerja, sedangkan 67% merasa tertekan untuk menerima tawaran pertama yang datang.
Melansir CNBC Make It, Sabtu (26/9/2026), Kepala Ekonom Glassdoor Daniel Zhao mengatakan, strategi mencari kerja yang sebelumnya efektif belum tentu memberikan hasil yang sama dalam kondisi pasar kerja saat ini.
Karena itu, sejumlah ahli karier menyarankan pelamar mengubah strategi. Bukan dengan mengirim lamaran sebanyak-banyaknya, tetapi dengan membuat setiap lamaran lebih relevan, personal dan menunjukkan keterampilan yang benar-benar dimiliki.
Berikut 8 tips melamar pekerjaan di era AI:
1. Jangan Serahkan Penulisan CV Sepenuhnya kepada AI
Penggunaan AI untuk membuat CV memang semakin populer. Survei CNBC dan SurveyMonkey terhadap 1.686 pekerja pada Juli menunjukkan hampir separuh atau 47% pekerja pernah menggunakan AI untuk melamar pekerjaan.
Namun, terlalu mengandalkan AI justru bisa membuat CV terlihat seragam dengan pelamar lainnya.
“Kamu mendapat resume dan bahan melamar yang sangat amat mirip dengan satu sama lain karena orang lain menggunakan prompt yang sama untuk menyesuaikan lamaran mereka,” tutur Zhao.
Ahli karier ZipRecruiter Sam DeMase menyarankan pelamar tetap mengandalkan prinsip dasar CV: letakkan pengalaman yang paling relevan di bagian atas, sesuaikan poin-poin pengalaman dengan deskripsi pekerjaan, dan tunjukkan dampak yang pernah dihasilkan.
AI tetap bisa dimanfaatkan, tetapi sebagai alat bantu. Misalnya, masukkan deskripsi pekerjaan dan CV ke AI untuk mencari keterampilan atau pengalaman yang belum ditonjolkan.
Pemimpin bidang perekrutan Zapier, Bonnie Dilber, mengatakan lamaran yang dibuat dengan sungguh-sungguh dapat lebih mudah menonjol di antara dokumen yang seragam.
"Seseorang yang menulis respons yang terdengar seperti manusialah yang menonjol,” ujar dia.
2. Cover Letter Tak Selalu Wajib
Cover letter juga ikut terdampak penggunaan AI. Banyak surat lamaran kini terdengar generik karena dibuat menggunakan pola yang serupa.
Kepala Bidang Pendidikan dan Tenaga Kerja Handshake, Julia Stiglitz, mengatakan perusahaan mulai semakin tidak memperhatikan cover letter dan sebagian perusahaan, terutama startup, kemungkinan tidak lagi memintanya.
Namun, cover letter tetap berguna jika pelamar memiliki latar belakang yang tidak biasa dan perlu menjelaskan alasan melamar.
Zhao mencontohkan seseorang yang pernah mengikuti program persiapan kedokteran tetapi kemudian memutuskan tidak melanjutkan ke sekolah kedokteran.
"Jika kamu tidak menjelaskan ‘Saya memutuskan untuk tidak melanjutkan ke sekolah kedokteran, namun saya punya beberapa keterampilan yang akan berguna bagi Anda’ perekrut mungkin akan berpikir kamu hanya mencari pekerjaan tahunan atau tidak tahu tentang arah karier sendiri," ujar Zhao.
Karena itu, jika menggunakan cover letter, hindari kalimat yang terlalu umum. Jelaskan secara spesifik mengapa pengalaman dan keterampilan yang dimiliki relevan dengan posisi yang dituju.
"Tujuanmu adalah untuk menunjukkan pada perekrut kenapa mereka harus mempertimbangkanmu sebagai kandidat 10 teratas di antara 100,” ucap Zhao.
3. Hindari Lamaran Kerja Massal
Mengirim puluhan bahkan ratusan lamaran sekaligus bukan lagi strategi yang disarankan para ahli.
DeMase menyarankan pencari kerja memilih lowongan yang benar-benar diinginkan, mengaktifkan notifikasi, kemudian melamar dalam waktu 48 jam dengan CV yang sudah disesuaikan.
Pelamar juga disarankan menghubungi kenalan yang dapat membantu membuat lamaran lebih diperhatikan perekrut.
“Kamu harus menjadi spesialis dan bukan generalis. Jadi, mengirim banyak resume biasa bukan strategi yang bisa bekerja sekarang,” ujarnya.
Stiglitz juga menilai menunjukkan keseriusan menjadi semakin penting karena teknologi membuat proses melamar pekerjaan jauh lebih mudah.
“Di lapangan pekerjaan yang kini lebih mudah untuk melamar pekerjaan, menunjukkan niat menjadi lebih penting,” ucap Stiglitz.
Selain kurang efektif, melamar pekerjaan secara massal juga berpotensi membuat pencari kerja mengalami kelelahan, terutama ketika proses pencarian berlangsung lama.
4. Cari Lowongan Berdasarkan Keterampilan
Jangan hanya mencari berdasarkan nama jabatan.
DeMase menyarankan pencari kerja menggunakan kata kunci keterampilan ketika mencari lowongan, seperti analisis data, kepemimpinan, copywriting, membangun hubungan hingga kemampuan menggunakan perangkat seperti Figma, Jira dan Salesforce.
Cara ini dapat membuka peluang pekerjaan yang sebelumnya tidak terlihat karena pelamar merasa tidak memenuhi seluruh persyaratan sebuah posisi.
"Fokuslah pada keterampilan yang paling kamu sukai, yang paling kamu banggakan, atau yang menurut teman dan rekan kerja merupakan keahlian terbaikmu," ujar dia.
5. Jangan Curhat di LinkedIn
LinkedIn kini bukan hanya menjadi tempat mencantumkan pengalaman kerja. Profil tersebut juga dapat menjadi salah satu sumber informasi bagi perekrut.
Dilber menyarankan pencari kerja memastikan profil LinkedIn tetap profesional. Perekrut semakin memperhatikan jejak digital kandidat, termasuk unggahan yang dibuat.
Jika tiga unggahan terakhir berisi keluhan atau kritik keras terhadap perusahaan, hal tersebut berpotensi memengaruhi persepsi perekrut.
“Kalau saya membuka profil LinkedIn seseorang dan tiga postingan terakhirnya berisi (kritik pedas) terhadap perusahaan yang menggunakan AI, para perekrut itu mengabaikanku, semua hal negatif ini, saya jadi lebih ragu,” kata Dilber.
Bukan berarti seseorang tidak boleh memiliki opini di ruang digital. Namun, unggahan profesional sebaiknya tetap selaras dengan citra yang ingin dibangun.
Jika sebuah unggahan terasa tidak pantas disampaikan kepada calon atasan, pertimbangkan kembali sebelum mempublikasikannya di LinkedIn.
6. Perluas Jaringan, Jangan Hanya Andalkan Platform Lowongan
Jaringan sosial tetap menjadi salah satu cara penting untuk menemukan peluang kerja.
Selain LinkedIn dan grup alumni, pelamar dapat memanfaatkan komunitas yang sudah dimiliki, termasuk teman, komunitas olahraga, grup lingkungan tempat tinggal hingga jaringan profesional lainnya.
Dilber menyarankan pencari kerja tidak hanya bergerak di lingkungan profesional formal.
“Orang-orang harus keluar dari ruang profesional tradisional dan beralih ke ruang di mana mereka memiliki koneksi,” tutur dia.
Informasi lowongan terkadang muncul lebih dahulu melalui jaringan pribadi sebelum dipublikasikan secara luas.
7. Jangan Terburu-buru Mengubah Jalur Karier
Pasar kerja yang lebih ketat membuat perubahan karier menjadi tantangan tersendiri.
Menurut Dilber, perusahaan saat ini cenderung mencari kandidat dengan pengalaman yang relevan. Karena itu, pelamar yang mencoba berpindah ke bidang yang sama sekali berbeda mungkin harus menghadapi persaingan yang lebih berat.
"Saya rasa untuk sebagian besar orang akan menjadi waktu sia-sia untuk menebar jala ke lautan yang kosong sekarang ini,” dia menuturkan.
Ia menyarankan pelamar lebih fokus pada posisi yang memiliki tingkat kecocokan keterampilan tinggi.
"Melamar pekerjaan yang secara objektif sangat dikuasai adalah hal terbaik yang bisa dilakukan,” kata Dilber.
8. Jangan Menunggu Waktu yang Dianggap Sempurna
Kapan waktu terbaik untuk mencari pekerjaan?
Menurut Zhao, tidak ada alasan untuk menunggu kondisi yang dianggap sempurna.
“Pelajarannya adalah tidak ada waktu terbaik dari sekarang untuk berlatih wawancara, mengetahui posisi apa yang ingin dilamar dan yang tersedia di lapangan, atau menambah relasi,” kata Zhao.
Artinya, pencari kerja dapat menggunakan waktu sekarang untuk memperbaiki CV, berlatih wawancara, memperkuat profil profesional dan membangun jaringan.
DeMase menambahkan, pekerjaan kontrak atau sementara juga dapat menjadi opsi yang diperhatikan perusahaan menjelang akhir tahun.
Intinya: Di Era AI, Lamaran Harus Lebih Personal
Perubahan teknologi membuat proses mencari pekerjaan semakin mudah secara teknis, tetapi persaingan untuk mendapatkan perhatian perekrut juga semakin tinggi.
Karena itu, strategi “kirim sebanyak mungkin CV” mulai bergeser menjadi “kirim lamaran yang paling relevan”.
AI tetap dapat dimanfaatkan untuk membantu pencarian kerja, tetapi pengalaman, keterampilan, konteks pribadi dan cara pelamar menunjukkan kecocokan dengan posisi tetap menjadi bagian penting dalam proses perekrutan. (Lip6)
















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda