Breaking News
Memuat breaking news...

World Bank Naikkan Ramalan Ekonomi Indonesia Tumbuh Jadi 5,2%

Redaksi
Redaksi
Rabu, 7 Oktober 2026 - 8.00 AM WIB
World Bank Naikkan Ramalan Ekonomi Indonesia Tumbuh Jadi 5,2%
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Bank Dunia atau World Bank menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,2% pada 2026, dari perkiraan sebelumnya sebesar 4,7%. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap berada di level 5,2% pada 2027.

Kenaikan proyeksi tersebut mencerminkan perekonomian Indonesia yang dinilai masih cukup tangguh menghadapi tekanan ekonomi global. World Bank menilai dampak negatif dari kenaikan harga energi ternyata tidak sebesar perkiraan sebelumnya.

Proyeksi tersebut disampaikan dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update, Oktober 2026: Riding the AI Wave, yang dikutip pada Selasa (6/10/2026).

"Aktivitas ekonomi juga didukung oleh peningkatan pelaksanaan program-program prioritas pemerintah, investasi yang terkait dengan negara, serta subsidi energi,” demikian seperti dikutip dari laporan World Bank.

Namun, kombinasi kebijakan tersebut juga membawa konsekuensi terhadap kondisi fiskal dan eksternal Indonesia. World Bank menilai dukungan tersebut memang menopang pertumbuhan dalam jangka pendek, tetapi turut memperbesar ketidakseimbangan fiskal dan eksternal.

"Kondisi ini akan terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang seiring dengan proyeksi pelebaran defisit transaksi berjalan menjadi 1,5% dari PDB pada 2026,” demikian seperti dikutip dari laporan World Bank.

Permintaan Domestik Jadi Penopang

Ketika stimulus fiskal mulai melandai, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah diperkirakan akan semakin bergantung pada investasi swasta.

Di sisi lain, inflasi diproyeksikan tetap berada di sekitar batas atas sasaran bank sentral. Bank Indonesia menargetkan inflasi sebesar 2,5% plus minus 1% pada 2026.

Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Franziska Lieselotte Ohnsorge mengatakan kekuatan permintaan domestik masih menjadi salah satu penopang utama ekonomi Indonesia.

“Yang benar-benar kuat di (ekonomi) Indonesia adalah permintaan domestik. Hal itulah yang menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dan inilah yang sedikit membedakannya dari negara-negara lain di kawasan (Asia),” ujar dia.

Kondisi tersebut membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan lebih tinggi dibandingkan rata-rata kawasan Asia Timur dan Pasifik.

Ekonomi RI Tumbuh 5,4% pada Semester I

Dalam laporan terbarunya, World Bank memperkirakan kawasan Asia Timur dan Pasifik tumbuh 4,5% pada 2026. Proyeksi tersebut juga meningkat dari perkiraan sebelumnya pada April 2026 sebesar 4,2%.

Sementara itu, ekonomi Indonesia mencatat pertumbuhan yang lebih kuat pada semester pertama 2026. World Bank mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,4% pada semester I 2026, meningkat dibandingkan pertumbuhan 5,1% pada 2025.

Pertumbuhan tersebut menjadi rata-rata pertumbuhan dua kuartal terkuat sejak 2022. Penguatan terutama ditopang oleh konsumsi swasta dan lonjakan belanja pemerintah di sekitar pergantian tahun.

World Bank menyebut konsumsi dan belanja pemerintah pada awal 2026 turut dipengaruhi oleh Ramadan dan Idul Fitri yang berlangsung lebih awal. Selain itu, pencairan tunjangan hari raya (THR) bagi aparatur sipil negara (ASN) yang dilakukan lebih cepat serta percepatan program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga ikut mendorong aktivitas ekonomi.

Namun, momentum tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan setelah memasuki periode berikutnya.

PMI Manufaktur dan Kepercayaan Konsumen Melemah

Aktivitas ekonomi domestik selanjutnya menunjukkan perlambatan. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia mengalami kontraksi menjadi 49,3 pada Agustus 2026.

Pada saat yang sama, indeks kepercayaan konsumen juga turun menjadi 116,8 pada Juli 2026.

World Bank turut menyoroti peningkatan defisit yang memunculkan kekhawatiran terhadap perkembangan fiskal dan peringkat utang Indonesia.

Sentimen pasar terhadap Indonesia mulai memburuk pada Januari 2026. Kondisi tersebut kemudian semakin tertekan oleh kenaikan harga minyak global dan gangguan pelayaran.

Arus keluar portofolio tercatat mencapai 0,2% dari PDB pada kuartal I 2026.

"Kekhawatiran bahwa Indonesia akan diturunkan statusnya menjadi frontier market oleh penyedia indeks saham global MSCI, yang dapat memicu penjualan otomatis oleh dana indeks pasif menyebabkan penurunan tajam nilai rupiah dan indeks saham Jakarta (IHSG)," tulis World Bank dalam laporannya.

Cadangan Devisa Digunakan untuk Stabilkan Rupiah

Menghadapi tekanan tersebut, pemerintah merespons dengan menggunakan cadangan devisa dan menerapkan sejumlah reformasi di sektor keuangan.

Bank Indonesia juga menaikkan suku bunga kebijakan secara kumulatif sebesar 100 basis poin pada Mei dan Juni 2026.

Langkah tersebut membantu menahan dampak pelemahan nilai tukar terhadap inflasi.

World Bank mencatat inflasi Indonesia kemudian turun dari 4,8% pada Februari menjadi 3,4% pada Juli 2026. Penurunan tersebut antara lain didukung subsidi bahan bakar yang membantu menahan kenaikan harga.

Dengan proyeksi pertumbuhan 5,2%, Indonesia masih menunjukkan ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian global. Namun, tantangan berikutnya adalah menjaga momentum pertumbuhan ketika stimulus fiskal mulai berkurang, sekaligus memastikan kondisi fiskal dan eksternal tetap terkendali. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement