Pengembangan Masyarakat: Melalui Edukasi Kesehatan Wanita Subur

  • Bagikan
Pengembangan Masyarakat: Melalui Edukasi Kesehatan Wanita Subur

Oleh: Gusti Winarti, S.Kep., Ns & Dr. Siti Zahara Nasution, S.Kp., MNS

Program Studi Magister Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu Keperawatan USU Wanita usia subur (WUS) adalah wanita dalam rentang usia 15-49 tahun, tanpa melihat status perkawinan. Pada wanita usia subur, baik itu ibu hamil, tidak hamil, ibu nifas, calon pengantin, remaja putri dan pekerja wanita tetap miliki organ reproduksi yang sehat dan matang
pada usia 20 hingga 45 tahun.

Pada masa wanita usia subur diperlukan penerapan perilaku sehat
(healthy behavior). Perilaku sehat merupakan perilaku orang sehat untuk mencegah atau menghindari dari penyakit dan meningkatkan kesehatan.

Perilaku sehat ini disebut juga dengan
perilaku promotif dan preventif. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut dapat memanfaatkan peran tenaga kesehatan untuk melakukan promosi kesehatan melalui
edukasi kepada wanita usia subur.

Promosi kesehatan dilakukan bukan hanya sekedar untuk menyadarkan individu ataupun meningkatkan pengetahuan dan merubah sikapnya dan perilaku, tetapi juga merupakan bagian dari program pemerintah dalam meningkatkan kesehatan wanita.
Pemerintah dan tim kesehatan terus melakukan upaya kegiatan promosi kesehatan.

Beberapa edukasi telah dilakukan pada wanita usia subur contohnya edukasi kesehatan reproduksi dan pencegahan stunting. Dr. Siti Zahara Nasution, S.Kp., MNS bersama Osi draini
telah melakukan penelitian pada tahun 2022 dengan menerapkan pencegahan stunting pada wanita usia subur.

Penelitian ini menjelaskan bahwa upaya yang dapat dilakukan dalam
pencegahan dan penurunan angka stunting dapat dilakukan dengan edukasi kesehatan kepada
wanita usia subur memalui pengembangan atau pengabdian masyarakat.

Edukasi kesehatan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan kepada wanita usia subur yang terdiri dari ibu hamil, ibu menyusui, atau tidak sedang hamil maupun menyusui. Hal ini bertujuan untuk memaksimalkan peran perempuan dalam meningkatkan status kesehatannya dan memiliki tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan gizi keluarga.

Pengembangan masyarakat ini dilakukan dengan kerja sama lintas sektoral dan diharapkan
mampu memberikan kontribusi yang nyata bagi masyarakat khususnya wanita usia subur.

Edukasi dapat dilakukan secara langsung (ceramah, demonstrasi dan diskusi) maupun tidak langsung atau berbasis online (grup whatsapp, pesan reguler berupa teks, foto, atau
video). Metode edukasi tersebut dapat meningkatkan kesadaran ibu, sehingga diharapkan ibu balita dapat menerapkan upaya edukasi dalam aktivitas sehari-hari untuk mencegah stunting.

Pendidikan dan promosi kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan tentang mencegah terjadinya suatu masalah penyakit dimasyarakat.

Edukasi kesehatan memiliki pengaruh
terhadap sikap kewaspadaan ibu yang mempunyai anak Stunting Kewaspadaan merupakan
sikap mental yang selalu siap menghadapi segala macam tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan yang akan timbul suatu saat.

Hasil peneltian Dr. Siti Zahara Nasution, S.Kp., MNS menjelaskan bahwa wanita usia subur (PUS) lebih tertarik dengan menggunakan metode edukasi ceramah dan leaflet ataupun
video edukasi kesehatan.

Wanita usia subur (PUS) kurang tertarik hanya menggunakan metode
ceramah saja. Ketertarikan menggunakan metode edukasi ini dibuktikan dengan adanya
perubahan pengetahuan wanita usia subur yaitu dari 52,9% setelah mendapatkan edukasi
menggunakan metode ceramah, leaflet dan video naik menjadi 100%.

Pengembangan masyarakat ini juga tidak lepas dari dukungan kader dan petugas Puskesmas. Puskesmas dapat melakukan pemberdayaan kepada kader untuk dapat memberikan
edukasi dan konseling kepada wanita usia subur (WUS) dalam meningkatkan kesehatan baik dari status gizi, perilaku hidup bersih dan sehat terlebih dalam pencegahan stunting.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *