WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (11)

Cerbung Agusni AH
PENGANTAR REDAKSI:
Episode ke-11 "Wajah Abah, Tangan Emak" membawa Alone memasuki fase kehidupan yang semakin kompleks. Kemiskinan, pekerjaan, pendidikan, dan kegemarannya membaca telah membentuk cara pandangnya terhadap dunia. Dari kampung pesisir, ia perlahan belajar memahami bahwa kehidupan tidak hanya tentang bagaimana bertahan hidup, tetapi juga tentang membaca perubahan zaman dan nasib manusia di sekitarnya.
Episode ini juga mempertemukan kembali Alone dengan Nurlaili dalam suasana duka. Kematian suami Nurlaili yang diduga berkaitan dengan konflik bersenjata di Aceh membuat gejolak yang selama ini terasa jauh melalui berita dan percakapan orang-orang tiba-tiba hadir di depan mata. Konflik tidak lagi menjadi sekadar kabar dari luar kampung, melainkan menyentuh seseorang yang pernah menjadi bagian dari masa kecilnya.
Menariknya, pertemuan Alone dan Nurlaili tidak dibangun melalui percakapan panjang. Keduanya justru dipertemukan oleh diam, tatapan, dan isyarat kecil. Di tengah kehilangan, kata-kata seolah kehilangan daya. Sikap Alone yang bersikeras melayat memperlihatkan tumbuhnya kepekaan kemanusiaan dalam dirinya—bahwa kepedulian tidak selalu lahir dari ikatan darah ataupun hubungan cinta, tetapi dari ingatan, persahabatan, dan rasa sesama manusia.
Episode ini sekaligus menjadi ruang kontemplasi tentang bagaimana konflik mengubah kehidupan orang-orang biasa. Di balik hiruk-pikuk sejarah dan pertarungan politik, selalu ada manusia yang kehilangan pasangan, keluarga yang kehilangan tempat bergantung, dan masa depan yang tiba-tiba menjadi penuh ketidakpastian. Dalam kesunyian rumah duka Nurlaili, Alone mulai menyadari bahwa konflik di negerinya bukan sekadar berita yang dibacanya di lembar koran, melainkan luka nyata yang dapat menyentuh siapa saja. Berikut ini pembaca yang budiman bisa langsung menyimaknya "Wajah Abah, Tangan Emak (11)" karya Agusni AH.(red)
WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (11)
ALONE remaja tak lagi hanya memahami kemiskinan di kampung pesisir, tempat orang-orang setiap hari bergelut dengan ombak dan badai di tepian Selat Malaka. Tambak, budidaya udang dan bandeng secara tradisional, hingga mencari uang melalui bisnis kecil-kecilan, telah mengajarinya tentang kerasnya kehidupan. Ia bahkan ikut menerima pesanan menulis surat cinta dari orang-orang yang kepayang asmara.
Membaca, menulis, dan menunggu setiap karya prosanya yang dikirimkan ke meja redaksi media massa menjadi keberanian lain bagi Alone untuk memahami dunia yang lebih luas. Dari lembar-lembar bacaan, ia mulai mengenal kehidupan yang jauh melampaui batas kampungnya.
Ia juga mulai memahami kondisi negerinya yang dilanda huru-hara. Konflik bersenjata yang berkepanjangan membuatnya harus berpikir lebih keras, ketika ia sendiri sedang berusaha keluar dari kejumudan hidup dan mencari jalan bagi masa depannya.
Sore itu, senja semakin merendah di kaki langit. Cahaya matahari perlahan menguning, lalu redup di balik cakrawala Selat Malaka. Tiba-tiba, Imum Dusun Teupin Pukat, Teungku Wahab, menyeru warga pesisir agar tidak bepergian ke mana-mana. Mereka yang masih berada di luar rumah diminta berkumpul di meunasah. Kaum perempuan diminta tetap berada di rumah.
“Semuanya di meunasah saja,” tegas Teungku Imum Wahab.
Sebagian laki-laki duduk di bale yang berada di pekarangan meunasah. Sebagian lainnya telah masuk ke dalam bangunan meunasah. Suasana yang biasanya dipenuhi percakapan selepas petang mendadak berubah menjadi senyap dan penuh tanda tanya.
“Kita di bale saja,” kata Cik Wardi kepada Alone.
“Salah seorang lelaki di Meunasah Mancang tertembak dan meninggal dunia,” Cik Wardi mengabari Alone.
Meunasah Mancang berada di sisi jalan raya Medan–Banda Aceh dan menjadi salah satu dari enam dusun di Desa Lancang Barat. Selain Dusun Teupin Pukat yang berada di bibir pantai, terdapat pula Dusun Ulee Tutu dan Dusun Ujong Pusong. Adapun Dusun Tanjong dan Keude Blang merupakan pusat pemerintahan desa.
“Siapa namanya?” tanya Alone.
“Dia orang luar yang menikahi putri Ampon Baka,” terang Cik Wardi.
“Suaminya Nurlaili?”
Alone terperanjat. Pertanyaan itu meluncur begitu saja, sebelum sempat ditahannya. Seketika, rasa penasaran bercampur dengan keprihatinan menyeruak di dadanya. Nama Nurlaili—nama yang pernah menyimpan sepotong kisah dalam perjalanan masa kecilnya—tambatan cinta sahabatnya Akong yang tercerai sebelum sempat terikat, tiba-tiba hadir kembali di tengah kabar kematian dan suasana kampung yang dicekam ketakutan.
“Padahal, baru sebulan mereka menikah,” ungkap Alone. Pikirannya kembali tergelayut pada Nurlaili, sejak perempuan itu mengiriminya undangan pernikahan. Namun, Alone tak sempat menghadiri pesta perkawinan tersebut karena harus mengantar bibit benur kepada petambak di pesisir Langsa.
Ingatannya kemudian kembali kepada dua surat yang pernah diterimanya dari Nurlaili: sebuah surat beramplop biru yang dititipkan kepadanya, dan surat beramplop putih sebagai balasan atas surat cinta Akong yang pada akhirnya berisi penolakan.
Surat beramplop biru itu menyimpan sesuatu yang berbeda—sepotong rasa yang diam-diam dititipkan Nurlaili kepada Alone. Namun, ketika itu Alone tak menghiraukannya. Ia merasa masih terlalu bocah untuk memahami perasaan semacam itu. Lagi pula, ia memang tak memiliki rasa khusus kepada Nurlaili.
Pikiran Alone saat itu tertuju pada hal-hal lain: pendidikan, pekerjaan apa saja yang dapat menghasilkan uang, dan perjuangan untuk keluar dari kemiskinan. Baginya, masa depan bukan tentang cinta, melainkan bagaimana tetap bertahan hidup dan mengubah nasib.
Seusai melaksanakan Salat Magrib berjamaah di Meunasah Teupin Pukat, kampung pesisir tempat ia dibesarkan, Alone beranjak tergesa. Ia hendak menuju rumah duka yang berjarak sekitar tiga kilometer. Rencananya, ia akan meminjam sepeda milik Cik Wardi.
Namun, langkahnya ditahan.
“Sebaiknya besok pagi saja kita melayat, Lon.”
“Izinkan Alone berangkat malam ini. Sendiri pun tak apa. Kalau boleh, pinjamkan sepeda Cik Wardi, ya.”
Alone bukan bermaksud membangkang kepada Cik Wardi, apalagi mengabaikan seruan Imum Wahab. Ia hanya merasa perlu datang malam itu juga. Sekalipun Nurlaili bukan siapa-siapa baginya dalam ikatan keluarga, perempuan itu pernah duduk bersamanya di bale pengajian yang sama. Ada masa lalu yang membuatnya tetap menganggap Nurlaili sebagai seorang karib.
Di hati dan pikirannya, Alone dapat merasakan betapa Nurlaili sedang terguncang. Kepergian suaminya yang tak wajar tentu meninggalkan luka yang tak mudah dipahami. Paling tidak, kehadirannya di tengah kedukaan itu barangkali dapat memberi sedikit kekuatan—meneguhkan hati dan imannya dalam menghadapi cobaan berat yang sedang menimpanya.
Melihat Alone bersikeras, akhirnya Cik Wardi memutuskan ikut bersamanya.
Sejak kecil, Alone memang memiliki watak yang sedikit keras. Namun, kerasnya bukan semata-mata karena ingin membantah. Terhadap sesuatu yang diyakininya benar, ia cenderung mengikuti suara hati dan nalurinya. Kali ini pun demikian. Ada sesuatu yang mendorongnya untuk datang kepada Nurlaili malam itu—bukan sekadar rasa ingin tahu, melainkan dorongan kemanusiaan yang tak sanggup ia abaikan.
Di tengah gelap malam yang pekat, Cik Wardi mengayuh sepeda membonceng Alone menuju rumah duka Nurlaili. Jalan kampung lengang, seakan menahan napas. Di kejauhan, suara ombak Selat Malaka samar-samar terdengar, sementara angin malam menyusup di antara pepohonan. Dua lelaki itu melaju dalam diam, menembus malam yang menyimpan kecemasan.
Sesampai di rumah Nurlaili, suasana duka terasa begitu senyap. Orang-orang berbicara dalam bisik-bisik, seolah takut suara mereka terdengar sampai ke luar rumah.
“Dia terlibat...”
Bisikan seseorang menyelinap di antara percakapan yang terputus-putus.
Alone menangkap kalimat itu. Dari bisik-bisik yang berserakan, ia mulai memahami bahwa suami Nurlaili diduga terlibat dalam sebuah gerakan Aceh Merdeka. Namun, ia tak ingin menerka lebih jauh. Dalam suasana seperti itu, sebuah bisikan saja bisa menjelma menjadi tuduhan.
Matanya kemudian tertuju kepada Nurlaili. Perempuan itu duduk lesu di sisi jenazah suaminya. Air matanya menitik perlahan, jatuh tanpa suara. Wajahnya seperti kehilangan tempat untuk bersandar.
Dari jarak yang tak begitu jauh, Alone terus memandanginya. Ia tak tahu harus berkata apa. Ada duka yang terlalu dalam untuk disentuh dengan kata-kata. Maka, ia hanya berdiri dalam diam, seakan ingin menyampaikan isyarat bahwa ia turut merasakan kehilangan yang sedang menimpa karib perempuannya sejak masa kecil.
Malam semakin larut. Di antara suara orang-orang yang tertahan dan tangis yang sesekali pecah, Alone merasakan bahwa konflik di negerinya bukan lagi sesuatu yang hanya ia dengar dari cerita orang atau berita koran yang dibacanya. Malam itu, konflik telah datang begitu dekat--menyentuh seseorang yang pernah tumbuh bersama di bale pengajian.
“Lon, apa kita sudah bisa pulang?” Cik Wardi menyentuh lengan Alone.
“Ya...” Alone mengangguk pelan.
Sebelum beranjak, pandangannya kembali tertuju kepada Nurlaili. Ia tak mampu mengucapkan banyak kata. Hanya sebuah isyarat kecil dengan kepala dan tatapan mata, seolah ingin mengatakan agar Nurlaili tetap kuat menerima cobaan yang sedang dihadapinya.
Nurlaili yang masih terduduk diam di sisi jenazah suaminya menangkap isyarat itu. Ia mengangkat wajah, lalu mengangguk pelan kepada Alone.
Tak ada kata-kata di antara keduanya. Hanya tatapan yang bertemu sekejap—tatapan dua orang yang pernah tumbuh bersama di masa lalu, kini dipertemukan kembali oleh sebuah kehilangan.(***).
(Bersambung...)















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda