Amran Beberkan Potensi E50-B50: Indonesia Bisa Hemat Rp500 Triliun

JAKARTA (Waspada.id): Pemerintah tengah mendorong pengembangan bahan bakar nabati untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengklaim penerapan E50 dan B50 berpotensi menghemat devisa hingga US$30 miliar atau sekitar Rp500 triliun per tahun.
Penghematan tersebut diproyeksikan berasal dari berkurangnya kebutuhan impor energi apabila program kemandirian energi tersebut berhasil diterapkan secara penuh.
"Kita bisa hemat, kalau seluruhnya bisa selesai E50, E50 dengan B50 itu, US$30 miliar. Artinya, kurang lebih Rp500 triliun per tahun. Per tahun, kita hemat devisa kita," ujar Amran dalam konferensi pers di kediamannya, Jakarta Selatan, Senin (21/9).
E50 Andalkan Singkong, Tebu dan Jagung
Untuk merealisasikan E50, pemerintah akan menggunakan tiga komoditas utama sebagai bahan baku etanol, yakni singkong, tebu, dan jagung.
Program tersebut diperkirakan membutuhkan lahan sekitar 1 juta hingga 2 juta hektare. Namun, pemerintah belum akan langsung membuka kawasan baru karena konsolidasi lahan masih berada pada tahap awal.
Amran mengatakan, pemerintah akan memprioritaskan lahan yang telah tersedia dan dinilai sesuai untuk pengembangan tanaman bahan baku etanol.
"Kita melihat lahan yang pertama kan ada lahan yang mau dihutankan kembali atau agroforestri untuk tanaman pangan, itu kan ada 20 juta (hektare). Ya kita pilih dari situ dulu. Yang kedua adalah seluruh yang sudah dilepaskan kita pilih. Ada 1,3 juta hektare," ujar Amran.
Menurut Amran, pembukaan kawasan hutan bukan menjadi pilihan utama dalam penyediaan lahan. Pemerintah justru akan mengutamakan lahan yang telah tersedia dan telah dilepaskan.
"Paling terakhir baru pelepasan hutan. Itu paling terakhir. Pokoknya kita jaga lingkungan, tetapi kita juga menjadi swasembada energi atau berdaulat energi," ujarnya.
E20 Ditargetkan 2029, Naik Bertahap ke E50
Penerapan campuran etanol dalam BBM juga tidak akan dilakukan sekaligus. Pemerintah menyiapkan tahapan penerapan dari E20 hingga E50.
Amran mengatakan pemerintah menghitung E20 dapat diterapkan pada 2029. Setelah itu, campuran etanol ditargetkan meningkat menjadi E40 pada 2030-2031 sebelum akhirnya menuju E50.
Untuk mendukung program tersebut, pemerintah juga perlu membangun fasilitas produksi etanol. Pembiayaan pembangunan pabrik akan melibatkan badan usaha milik negara (BUMN) dan swasta.
Pemerintah akan melihat kemampuan BUMN terlebih dahulu. Apabila kebutuhan investasi masih belum terpenuhi, sektor swasta akan diberikan ruang untuk masuk.
"Pokoknya berapa kemampuan BUMN, sesudah itu swasta dan swasta pasti antre. Pengalaman kami antre. Yang penting kepastian lahan," ujarnya.
Amran mengatakan konsolidasi program tersebut baru dimulai. Pemerintah berharap proses penyiapan lahan dapat mulai bergerak tahun ini, sementara penanaman komoditas bahan baku akan dilakukan secara bertahap.
Prabowo Instruksikan Penyusunan Program E50
Pengembangan E50 juga menjadi bagian dari agenda pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia untuk menyusun langkah strategis produksi E50.
Instruksi tersebut disampaikan sebagai bagian dari upaya memastikan kebutuhan BBM dalam negeri dapat dipenuhi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.
"Bapak Presiden tadi memerintahkan untuk segera menyusun langkah-langkah yang sama untuk kita membangun E50," ujar Bahlil usai Sidang Paripurna Dewan Energi Nasional di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (17/9).
Bahlil mengatakan kebutuhan BBM nasional untuk solar mencapai sekitar 39 juta kiloliter per tahun. Sementara kebutuhan bensin berada di kisaran 39 juta-40 juta kiloliter per tahun.
Menurutnya, pengembangan E50 merupakan langkah jangka panjang yang antara lain berkaca pada penerapan B50 yang dinilai telah mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor solar.
Selain pengembangan bahan bakar nabati, pemerintah juga mendorong eksplorasi blok minyak dan optimalisasi sumur yang telah berproduksi, termasuk melalui intervensi teknologi terhadap sumur-sumur tua.
Bahlil juga mengatakan Presiden meminta pemerintah memantau sekitar 45 ribu sumur rakyat agar dikelola secara profesional dan tidak disalurkan kepada pihak lain secara ilegal.
Jika seluruh tahapan E50 dan B50 dapat direalisasikan, pemerintah memperkirakan program tersebut dapat memberikan dampak terhadap kebutuhan impor energi sekaligus penghematan devisa. Namun, realisasi penghematan hingga US$30 miliar per tahun masih bergantung pada kesiapan lahan, ketersediaan bahan baku, pembangunan fasilitas produksi, serta pelaksanaan program secara bertahap. (cnni)














Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda