Breaking News
Memuat breaking news...

Dua Gempa Landa Aceh dan NTT, Satu Meninggal Dunia

Redaksi
Redaksi
Minggu, 4 Oktober 2026 - 6.06 PM WIB
Dua Gempa Landa Aceh dan NTT, Satu Meninggal Dunia
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Minggu (4/10/2026) pagi, Indonesia diguncang dua gempa bumi dengan kekuatan cukup signifikan dalam rentang waktu yang sangat berdekatan. Gempa pertama terjadi di wilayah Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan magnitudo M5,9 pada pukul 05.55.52 WIB.

Tidak berselang lama, gempa kedua mengguncang wilayah Aceh Jaya, Aceh dengan magnitudo M5,7 pada pukul 06.37.33 WIB, atau terpaut sekitar 41 menit 41 detik.

Di NTT, Kepolisian Sektor Kodi Utara, Polres Sumba Barat, melaporkan seorang lansia berusia 73 tahun di Kodi Utara meninggal dunia akibat gempa dengan magnitudo 6,1 mengguncang wilayah tersebut.

"Satu orang dilaporkan meninggal dunia di wilayah Kodi Utara. Korban adalah seorang lansia yang meninggal karena shock atau kaget saat gempa terjadi," kata Kapolsek Kodi Utara Akp Bernadus Bili Kandi seperti dikutip dari Antara, Minggu (4/10).

Dia mengatakan lansia tersebut kaget saat melihat sejumlah keluarganya berhamburan keluar rumah saat gempa berkekuatan 6,1 mengguncang daerah tersebut.

Lansia tersebut sempat berada di luar rumah, namun berselang beberapa menit kemudian jatuh, tak sadarkan diri, dan meninggal dunia.

Korban langsung disemayamkan di rumahnya oleh keluarganya, setelah gempa terjadi di daerah tersebut.

Terkait dengan kerusakan rumah dan bangunan, dia mengatakan,banyak rumah dan satu sekolah yang rusak berat akibat gempa tersebut.

"Kami belum bisa pastikan data kerusakan. Tim BPBD dan anggota juga masih lakukan pendataan lebih lanjut sejak pagi tadi," ujar dia.

Gempa bumi dengan magnitudo 6,1 mengguncang Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur pada Minggu, pukul 06.55 Wita.

"Pusat gempa berada di laut, 14 km barat daya Kodi, Sumba Barat Daya, dengan kedalaman 10 km pada koordinat 9,70 LS-118,92 BT. Gempa dilaporkan tidak berpotensi tsunami," ujar Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam keterangannya.

Berdasarkan pemantauan sementara dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), guncangan dirasakan kuat selama kurang lebih satu menit pada beberapa wilayah, yaitu Kabupaten Sumba Barat Daya, Kabupaten Sumba Barat, hingga Kabupaten Manggarai Barat.

BNPB mengimbau masyarakat setempat untuk tetap tenang, tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, serta memastikan informasi bersumber dari instansi resmi. Jika terjadi gempa susulan, masyarakat diminta untuk menghindari bangunan retak dan tidak berada di tepi pantai untuk sementara.

Apakah dua gempa ini saling berkaitan?

Pakar gempa sekaligus anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menegaskan bahwa kedua gempa tersebut tidak memiliki hubungan sebab-akibat. Meskipun terjadi dalam waktu berdekatan, sumber gempa berada di lokasi yang terpisah ribuan kilometer dengan mekanisme tektonik yang berbeda.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas seismik di Indonesia dapat terjadi secara independen di berbagai zona aktif tanpa saling memengaruhi secara langsung.

Apa perbedaan karakter kedua gempa tersebut?

Daryono menjelaskan bahwa gempa Sumba Barat Daya terjadi pada kedalaman sekitar 30 kilometer dan memiliki mekanisme sesar turun (normal fault). Mekanisme ini menunjukkan adanya proses peregangan kerak bumi yang menyebabkan blok batuan bergerak turun akibat gaya tarik.

Tidak Berpotensi Tsunami

Sementara itu, gempa Aceh Jaya terjadi pada kedalaman sekitar 55 kilometer dengan mekanisme sesar naik (thrust fault). Jenis ini berkaitan dengan proses kompresi pada zona subduksi megathrust Sumatra, di mana lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah lempeng Eurasia.

Perbedaan mekanisme ini menegaskan bahwa kedua gempa berasal dari sistem tektonik yang berbeda, meskipun sama-sama berada dalam kawasan Cincin Api Pasifik.

Mengapa dampak guncangan berbeda meski magnitudo mirip?

Salah satu hal menarik dari dua gempa ini adalah perbedaan tingkat guncangan di permukaan. Gempa Sumba yang lebih dangkal dilaporkan menghasilkan intensitas hingga VI MMI, yang berpotensi menimbulkan kerusakan ringan dan membuat sebagian besar masyarakat merasakan guncangan kuat hingga keluar rumah.

Gempa Dirasakan Warga

Sementara gempa Aceh Jaya, meskipun memiliki magnitudo yang hampir setara, tercatat hanya mencapai sekitar IV MMI di beberapa wilayah, yang berarti guncangan kuat namun tidak menimbulkan dampak signifikan.

Daryono menegaskan bahwa perbedaan ini menunjukkan bahwa kekuatan guncangan di permukaan tidak hanya ditentukan oleh magnitudo semata. "Menariknya, gempa Sumba yang lebih dangkal menghasilkan guncangan hingga VI MMI (berpotensi merusak), lebih kuat daripada Aceh yang mencapai IV MMI (hanya guncangan kuat). Ini mengingatkan bahwa kuatnya guncangan di permukaan tidak hanya ditentukan magnitude saja, tetapi juga kedalaman sumber, jarak, karakter batuan yang dilalui gelombang, dan kondisi tanah setempat," kata Daryono, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (4/10/2026).

Apa makna dua gempa berdekatan ini bagi Indonesia?

Daryono yang juga pengajar pada program Magister Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia (UI) menilai bahwa kemunculan dua gempa dalam waktu kurang dari satu jam bukanlah fenomena yang saling terkait, melainkan bagian dari dinamika tektonik Indonesia yang sangat kompleks.

Ia menambahkan bahwa Indonesia memang berada di pertemuan beberapa lempeng besar dunia, sehingga aktivitas gempa dapat terjadi di berbagai lokasi secara bersamaan atau hampir bersamaan tanpa keterkaitan langsung.

"Dua gempa dalam waktu kurang dari 42 menit ini justru menggambarkan betapa aktif dan kompleksnya tektonik Indonesia: banyak sumber gempa dapat mengakumulasi dan melepaskan energi secara independen pada waktu yang kebetulan berdekatan," jelasnya.

Fenomena dua gempa berdekatan ini menjadi pengingat bahwa Indonesia merupakan wilayah dengan tingkat aktivitas seismik yang tinggi. Namun, masyarakat tidak perlu menganggap bahwa setiap gempa besar yang terjadi dalam waktu dekat pasti saling berkaitan.(cnni/kcm/id03)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement