Breaking News
Memuat breaking news...

Mamaku Kuntilanak Memburu Wajah-Wajah Baru dari Medan

Redaksi
Redaksi
Selasa, 6 Oktober 2026 - 9.19 AM WIB
Mamaku Kuntilanak Memburu Wajah-Wajah Baru dari Medan
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Tangisan bayi dari dalam kubur menjadi pintu masuk kisah Mamaku Kuntilanak. Film horor layar lebar ini kini mulai mencari wajah-wajah yang akan menghidupkan cerita ganjil tentang kematian, ilmu hitam, dan kasih seorang ibu yang bahkan tak selesai di liang lahat.

Pencarian pemain dimulai lewat casting di Pentas Keong, Taman Budaya Sumatera Utara, Kompleks PRSU Medan, Senin, 14 September 2026. Seleksi dipimpin langsung Syamsul Hilal, penulis skenario sekaligus sutradara asal Jakarta.

Pada tahap pertama, sebanyak 23 peserta mencoba peruntungan. Casting berikutnya dijadwalkan 17 September 2026 dengan 18 peserta lainnya.

Syamsul mengatakan casting bukan sekadar mencari wajah yang enak dipandang kamera. Karakter pemain, menurut dia, mesti bertemu dengan karakter yang telah hidup lebih dahulu di dalam skenario.

“Kami ingin mendapatkan pemain yang benar-benar sesuai dengan karakter yang sudah dibangun dalam cerita. Karena itu, proses casting dilakukan dengan seleksi yang serius,” kata Syamsul.

Selain kemampuan berakting, tim produksi mempertimbangkan kesesuaian usia, penampilan, dan karakter peserta dengan tokoh yang akan diperankan. Seleksi akan terus mengerucut sebelum nama-nama pemain ditetapkan dan produksi dimulai.

Tangisan dari Liang Kubur

Mamaku Kuntilanak berangkat dari cerita tentang seorang perempuan hamil yang meninggal dunia. Beberapa hari setelah pemakaman, seseorang yang tengah menekuni ilmu hitam membongkar kuburannya. Tujuannya cuma satu: mengambil tali pocong dari jenazah perempuan itu.

Setelah mendapatkan benda yang dicari, pelaku pergi begitu saja.

Makam yang telah terbongkar itu kemudian menyisakan kejadian yang sukar diterima akal. Penjaga makam mendengar suara tangisan bayi dari dalam kuburan.

Perempuan yang telah meninggal tersebut ternyata melahirkan setelah tubuhnya berada di liang lahat.

Bayi itu diselamatkan. Penjaga makam kemudian menyerahkannya kepada lurah setempat.

Enam tahun berlalu.

Sang bayi tumbuh menjadi anak usia sekolah. Hidupnya semula berjalan sebagaimana anak-anak lain sampai suatu hari muncul perempuan misterius. Sosok itu bukan manusia biasa. Ia adalah kuntilanak.

“Kau anakku, sayang,” katanya kepada bocah tersebut.

Kehadiran makhluk itu menggemparkan warga sebelum kemudian menghilang ke angkasa. Sang lurah membawa anak tersebut pulang ke rumah. Di situlah satu demi satu rahasia mulai terkuak.

Lurah mengakui bocah tersebut bukan anak kandungnya. Pertanyaan tentang siapa ibu sebenarnya menjadi simpul utama cerita yang menggabungkan horor, misteri, konflik keluarga, dan ikatan ibu-anak dalam dunia supranatural.

Mencari Talenta dari Sumatera Utara

Proses casting di Medan mendapat perhatian sejumlah pelaku seni dan teater Sumatera Utara. Di antara yang hadir adalah H. Amsyal, pimpinan sekaligus sutradara Teater Cendana; Erwin Parende, Ketua Persatuan Artis Indonesia (PARFI) Cabang Sumut; Khadizah Lubis dari Teater Imago Medan; Mansyur Nst dari Teater Serumpun; serta Rindy dari Teater Dermaga Belawan.

Kehadiran mereka menjadi dukungan tersendiri bagi upaya membuka ruang bagi talenta lokal untuk masuk ke produksi layar lebar.

Tim produksi masih membuka kesempatan bagi mereka yang merasa memiliki bakat akting. Sejumlah karakter penting belum terisi.

Untuk peran utama perempuan, produksi mencari remaja putri berusia 16–20 tahun dengan penampilan menarik. Sementara pemeran utama pria dicari dari kalangan remaja berusia 16–22 tahun.

Karakter kuntilanak membutuhkan perempuan berusia 25–40 tahun, berpenampilan menarik, dengan rambut panjang melewati bahu. Untuk tokoh pengabdi ilmu hitam, dicari pria berusia 30–40 tahun.

Produksi juga membutuhkan perempuan berusia 40–55 tahun untuk memerankan sosok ibu yang baik dan pria berusia 40–55 tahun untuk tokoh ayah.

Ada pula peran Pak Lurah yang membutuhkan pria berusia 55–65 tahun dengan kemampuan komedi. Tiga pria berusia 35–45 tahun diperlukan untuk menjadi peronda malam yang juga dituntut mampu bermain komedi.

Untuk karakter pelajar antagonis, dibutuhkan pria berusia 16–20 tahun dengan karakter “ganteng tapi jahat” serta perempuan usia 16–20 tahun dengan penampilan menarik dan karakter sombong.

Film ini juga mencari pria berusia 45–55 tahun dengan pembawaan berwibawa untuk memerankan ustaz, serta pria dan perempuan usia 40–50 tahun untuk karakter kepala sekolah dan guru.

Mereka yang berminat mengikuti proses produksi dapat menghubungi tim produksi H. Amsyal melalui nomor 081370272558.

Amsyal, dari Pertamina ke Panggung dan Film

H. Amsyal (kiri) bersama Wali Kota Medan Rico Waas pada malam pembukaan Jelajah Wisata Budaya IV yang digelar DPD ASPPI Sumatera Utara di Pendopo Wali Kota Medan, Senin (5/10).

Nama H. Amsyal bukan orang baru dalam lingkungan seni Sumatera Utara.

Ia lahir di Makassar pada 7 Agustus 1957 dari keluarga asal Bayur, Maninjau, Sumatera Barat. Sebagai putra sulung seorang prajurit TNI Angkatan Darat, masa kecil Amsyal tak pernah benar-benar menetap. Ia berpindah dari satu kota ke kota lain mengikuti penugasan ayahnya sebelum keluarga akhirnya bermukim di Medan.

Minat terhadap seni membawanya menempuh pendidikan Sinematografi di Institut Kesenian Jakarta. Namun jalur hidup kemudian membawanya masuk ke PT Pertamina. Ia mengabdi di perusahaan itu hingga pensiun pada 2012 dengan jabatan terakhir Kepala Dinas Pengadaan.

Pensiun tak membuatnya berhenti bergerak.

Kegemarannya melakukan perjalanan sejak muda justru membuka babak baru. Amsyal mendirikan PT Widy Cahaya Cemerlang dengan bendera Widy Holidays di Jalan Utama No. 1A, Helvetia, Medan. Perusahaan tersebut bergerak dalam perjalanan wisata domestik dan mancanegara, penjualan tiket pesawat, umrah, study tour, penyewaan bus pariwisata, serta rental mobil.

Jejaknya di industri pariwisata juga cukup panjang. Ia pernah menjadi Wakil Ketua DPD Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Sumatera Utara periode 2013–2016 pada masa kepemimpinan Maruli Damanik dan pernah menjadi pengurus ASITA Sumut pada masa Ben Sukma.

Melalui organisasi dan bisnis perjalanan, Amsyal mengikuti berbagai seminar serta kegiatan promosi wisata di dalam dan luar negeri. Ia pernah menjadi utusan Dinas Pariwisata Samosir dalam table top di MATTA Fair Kuala Lumpur, Malaysia, serta mengikuti kegiatan serupa di Bali untuk mempromosikan pariwisata Danau Toba.

Namun seni tak pernah benar-benar ia tinggalkan.

Sejak 1976, Amsyal aktif dalam dunia teater dan film. Pada 1991, ia pernah menyutradarai drama “Malin Kundang” di Taman Budaya Medan. Ia juga menulis di sejumlah media cetak, termasuk Waspada di Medan dan Kompas ketika menjalani pendidikan di Jakarta.

Kini ia menjabat Ketua Forum Komunikasi Insan Film Sumut.

Di usianya yang telah melewati enam dasawarsa, Amsyal seperti kembali ke simpul lama perjalanan hidupnya: film. Kali ini bukan sekadar berdiri di balik panggung, melainkan ikut berburu talenta baru untuk sebuah cerita tentang ibu yang pulang dari kematian.

Judulnya boleh Mamaku Kuntilanak. Tetapi bagi para calon pemain di Medan, film ini bisa menjadi nama lain dari sebuah pintu masuk menuju layar lebar. | RAM

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement