Breaking News
Memuat breaking news...

Menanam Kopi Sembari Menabung Kayu: Bukti Ilmiah Dari Kebun Warga Deli Serdang

Redaksi
Redaksi
Selasa, 29 September 2026 - 10.04 AM WIB
Menanam Kopi Sembari Menabung Kayu: Bukti Ilmiah Dari Kebun Warga Deli Serdang
Tim peneliti USU. Waspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id) – Bertahun-tahun petani hutan meyakini pohon kayu tidak boleh ditanam berdampingan dengan tanaman lain jika ingin tumbuh maksimal. Akar dan kanopi dikhawatirkan saling berebut cahaya, air, dan unsur hara tanah.

Pandangan tersebut membuat sebagian petani ragu mengembangkan tanaman kayu bersama tanaman pertanian. Padahal, keterbatasan lahan membuat petani harus mencari pola yang memungkinkan kebutuhan ekonomi harian tetap terpenuhi sekaligus memiliki investasi jangka panjang.

Bagi keluarga petani, pilihan itu bukan sekadar persoalan teori, melainkan bagaimana dapur tetap mengepul sembari menabung untuk masa depan melalui hasil kayu yang baru dapat dipanen bertahun-tahun kemudian.

Keraguan tersebut kini mendapat jawaban ilmiah melalui penelitian di kebun kopi milik warga di Hutan Rakyat Citra Pesona Ladangku, Kabupaten Deli Serdang.

Penelitian dilakukan Nelly Anna bersama Evalina Herawati, Novita Anggraini, Jajang Sutiawan, Bagastha Olky Narsiga Bangun, dan Lastrisa Desfa Banjarnahor dari Universitas Sumatera Utara (USU).

Tim peneliti menguji pertumbuhan pohon jabon yang ditanam berdampingan dengan tanaman kopi, untuk mengetahui apakah pola tersebut memengaruhi pertumbuhan dan kualitas kayunya.

Jabon merupakan salah satu jenis pohon yang dikenal cepat tumbuh dan banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku kayu lapis, mebel hingga peti kemas. Tanaman ini juga telah lama dikenal masyarakat dan dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional.

Melalui penelitian berjudul “Growth and Wood Physical Properties of Neolamarckia cadamba (Jabon) under Agroforestry System”, tim mengamati 161 pohon jabon berusia 13 tahun yang ditanam bersama tanaman kopi dengan jarak tanam 3 x 3 meter.

Pola tersebut merupakan bagian dari sistem agroforestri yang memadukan tanaman kehutanan dengan tanaman pertanian dalam satu lahan.

Untuk mengetahui karakteristik kayunya secara lebih mendalam, tiga batang jabon ditebang dan diteliti mulai dari bagian pangkal hingga ujung batang, termasuk bagian inti kayu hingga kulit terluar.

Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan jabon di kebun campuran tersebut tetap baik. Pada usia 13 tahun, pohon jabon rata-rata mencapai tinggi sekitar 18 meter dengan diameter batang sekitar 36 sentimeter.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa jabon yang ditanam bersama kopi tetap mampu berkembang dengan baik. Sebagian besar pohon juga berada pada kelas tinggi dan diameter yang relatif seragam.

Kondisi lokasi penelitian turut mendukung pertumbuhan tanaman, antara lain suhu yang relatif sejuk, curah hujan memadai dan kondisi tanah yang mendukung.

Penelitian juga mengukur sifat fisik kayu jabon pada berbagai bagian batang. Hasilnya menunjukkan kandungan air lebih tinggi ditemukan pada bagian pangkal batang, sedangkan kepadatan kayu cenderung lebih tinggi pada bagian ujung.

Informasi tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi pemanfaatan kayu karena karakteristik setiap bagian batang dapat berbeda sesuai kebutuhan produk yang akan dibuat.

Yang tidak kalah penting, hasil pengujian menunjukkan kualitas fisik kayu jabon yang ditanam dalam sistem agroforestri bersama kopi masih berada dalam rentang yang layak untuk kebutuhan industri.

Temuan itu menunjukkan bahwa keberadaan tanaman kopi di sekitar jabon tidak serta-merta menurunkan kualitas kayu. Dengan demikian, sistem agroforestri dapat menjadi salah satu pilihan bagi petani yang ingin memperoleh hasil pertanian sekaligus mengembangkan tanaman kayu.

Peneliti juga menemukan kecenderungan bahwa pertumbuhan jabon yang lebih cepat berkaitan dengan kayu yang sedikit lebih ringan. Kondisi tersebut dapat dikaitkan dengan karakter kayu yang masih relatif muda dan belum memiliki kepadatan seperti kayu yang tumbuh lebih lambat.

Bagi petani, hasil penelitian ini memiliki manfaat praktis. Kopi dapat memberikan hasil yang dipanen secara berkala untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, sementara jabon dapat menjadi investasi jangka panjang yang dapat dimanfaatkan ketika mencapai umur panen.

Pola tersebut juga memungkinkan petani memanfaatkan lahan yang sama untuk menghasilkan produk pertanian dan kehutanan tanpa harus membuka lahan baru.

Penelitian yang diterbitkan dalam Asian Journal of Forestry ini menunjukkan bahwa sistem agroforestri kopi dan jabon berpotensi menjadi alternatif pengelolaan kebun rakyat.

Temuan dari kebun warga di Deli Serdang tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa petani tidak selalu harus memilih antara menanam kopi atau kayu. Keduanya dapat dikembangkan dalam satu hamparan dengan pengelolaan yang tepat, sehingga memberikan manfaat ekonomi dalam jangka pendek sekaligus investasi untuk masa depan.

(wsp.id)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement