Breaking News
Memuat breaking news...

Menunggu Akhir Nestapa Warga Darul Hasanah, Aceh Tenggara

Redaksi
Redaksi
Kamis, 15 Oktober 2026 - 2.33 PM WIB
Menunggu Akhir Nestapa Warga Darul Hasanah, Aceh Tenggara
Jembatan rangka baja yang ambruk dan hanyut disapu banjir arus sungai Alas, Aceh Tenggara.
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

Memiliki alam nan indah dan potensi perkebunan serta pertanian yang melimpah, tampaknya bukan jaminan. Jika tidak dibarengi dengan sarana yang memadai. Sebalknya, malah bisa membuat suatu wilayah semakin terisolir dan terkurung.

Itulah yang dirasakan belasan ribu warga kecamatan Darul Hasanah, Aceh Tenggara. Sebuah wilayah yang berada di seberang sungai Alas yang kerapkali jadi langganan bencana alam banjir dan tanah longsor.

Sabtu, Minggu, (26/27/11/2025), tampaknya merupakan hari yang tak pernah bisa dilupakan puluhan ribu warga kecamatan Darul Hasanah. Bahkan menjadi awal duka nestapa panjang yang tak berujung.

Masalahnya, 2 unit jembatan rangka baja Natam dan Mbarung yang selama ini jadi urat nadi perekonomian dan akses warga Darul Hasanah menuju Kecamatan Badar dan ke Kecamatan Babussalam dan sebaliknya, ambruk dan hanyut tak tersisa disapu ganasnya arus sungai Alas.

Lenyapnya jembatan vital itu, praktis membuat sebagian besar dari 28 kute (desa) di kecamatan paling barat Aceh Tenggara itu, semakin terisolir dan terkurung dari dunia luar.

Hanyut dan lenyapnya jembatan rangka baja itu, kata Camat Darul Hasanah, Hayadun SP, membuat warga Darul Hasanah pusing dan kesulitan. Masalahnya, harga kebutuhan pokok melambung dan sebaliknya, harga jual hasil perkebunan, pertanian maupun hasil perikanan anjlok.

Menunggu Akhir Nestapa Warga Darul Hasanah, Aceh Tenggara

Siswa dan warga Darul Hasanah, antre saat bersiap menyeberangi sungai Alas lewat Titi Gantung Mamas- Natam yang dibangun TNI.Waspada.id/Ist

Tak sampai di situ saja, siswa, ASN dan warga Darul Hasanah yang selama ini bepergian menuju Kecamatan Badar dan Babussalam, jadi pusing tujuh keliling karena tak bisa lagi menggunakan kendaraan roda empat. Jika pun dipaksakan harus memutar sejauh 15 km sampai 18 km, itu pun lewat jembatan rangka baja Lawe Penanggalan Kecamatan Ketambe.

Sementara itu, papar Hayadun lagi, jika warga ingin bepergian menuju kota Kutacane, tak bisa lagi lewat jembatan rangka baja Mbarung. Namun, harus memutar lebih jauh lagi lewat Ngkeran Kecamatan Lawe Alas sejauh 18 km sampai 20 km.

Memang ada mopen dari arah Kota Kutacane menuju Ngkeran dan Darul Hasanah, namun ongkos per orang mencapai Rp35 ribu. Jauhnya jarak tempuh tersebut, praktis membuat harga kebutuhan pokok di Darul Hasanah seperti tabung gas elpiji, beras dan minyak goreng dan kebutuhan lainnya merangkak naik.

Sebaliknya, harga hasil pertanian, perkebunan dan perikanan perlahan mulai anjlokl "Harga jual getah karet sebelumnya Rp18 ribu per kg, turun menjadi Rp14 ribu per kg," kata Mardi, warga Darul Hasanah.

Itu masih sebagian kecil, dari banyak masalah yang mulai dan akan muncul, akibat ambruk dan lenyapnya jembatan rangka baja Mbarung dan Natam yang terjadi di penghujung tahun 2025 lalu.(Bersambung) WASPADA.id

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement