PEMATANGSIANTAR (Waspada.id): AS, 9 tahun, seorang pelajar kelas I SD di Kota Pematangsiantar, Sumut, diduga mengalami kekerasan fisik oleh ayah kandungnya. Tubuh korban dipenuni luka memar dan diketahui oleh guru di sekolahnya.
Kepala sekolah (Kepsek) setempat menyebut ia mengetahui kejadian saat guru kelas korban melaporkannya. AS, kata dia, seorang pelajar berstatus pindahan.
“Awalnya saat pembagian MBG, Miss-nya (Mahasiswa PPL) melihat AS lahap menyantap. Sempat dicandain bertanya kenapa lahap. Saat Miss-nya mendekati dilihat tangannya lebam,” kata Kepsek saat ditemui di SD Negeri Kecamatan Siantar Marihat, Kamis (16/4/2026).
Kepada guru, kata Kepsek, AS mengaku dipukul oleh ayahnya dengan kabel charger handphone. Peristiwa itu terjadi, pada Rabu (15/4/2026). “Dinas Pendidikan tadi datang menjenguk untuk memberikan support,” ucapnya.
Informasi diperoleh, AS anak pertama dari tiga bersaudara. Ia dan adik bungsunya tinggal bersama kedua orang tuanya menyewa rumah di seputaran Kecamatan Siantar Marimbun. Sementara adiknya (tengah) tinggal bersama kakek mereka.
Menurut tetangga korban, AS hidup tidak seperti anak pada umumnya. Korban berjuang, hidup mandiri, kerap memasak walau sering kekurangan bahan makanan di rumah sewa mereka.
“Terkadang AS datang ke rumah kami meminta garam dan cabai untuk memasak,” ujarnya.
Dikatakan, keluarga AS pindah dari luar provinsi, belum genap setahun. “Korban ini juga sering kami kasih makan dan jajan,” kata tetangga korban.
Saat ini, AS bersama adiknya untuk sementara diamankan di rumah Sertu G Simanjuntak, seorang anggota Babinsa Koramil 03/Siantar Selatan. Simanjuntak bilang, keduanya menginap di kediamannya untuk menghindari kekerasan.
Peristiwa dugaan kekerasan AS itupun menjadi perhatian setelah viral di berbagai media sosial di Pematangsiantar. Kanit PPA Satreskrim Polres Pematangsiantar, Ipda Darwin Siregar mengatakan pihaknya saat ini sudah mengamankan ayah korban.
Namun, kata dia, pihaknya lebih memprioritaskan keselamatan AS dan kedua adiknya. “Pertimbangan dari sisi kemanusiaan menjadi lebih penting saat ini ya. Kita akan bawa anak-anak menuju salah satu Panti Asuhan,” ucapnya saat dikonfirmasi.
“Untuk ayahnya, masih kita minta keterangannya. Namun, anak yang menjadi perhatian kita sebagai penegak hukum,” kata Darwin mengakhiri. (Ata)










